Rabu, 17 September 2014


Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
22
neraka, di alam binatang, di alam set
an; atau sekurang
-
kurangnya menjadikan orang itu akan dimusuhi
oleh lingkungannya.
(Anguttara Nikaya VII, 4:4)
"
KESIMPULAN
Perkembangan teknologi jelas tidak akan pernah dapat dibendung oleh siapapun juga. Orangtua
sebaiknya selain mengawasi perkemb
angan anak
-
anaknya, hendaknya juga dapat memberikan pendidikan
sebagai pedoman yang jelas agar mereka memiliki kemantapan dalam menapaki kehidupan ini.
Pendidikan seks perlu diberikan kepada para remaja sejak usia dini agar mereka dapat mengerti manfaat
da
n akibat dari penyalahgunaan organ seks mereka. Namun dari semua nasehat, remaja hendaknya diberi
bekal moral agar dapat mandiri menghadapi dampak negatif gelombang pergaulan. Hal ini disebabkan
kerena orangtua jelas tidak mampu mengawasi anaknya setiap sa
at. Anak suatu ketika harus dibiarkan
mandiri. Bekal moral itu berupa petunjuk Sang Buddha yang terdapat dalam
Anguttara Nikaya I, 51:
1.
Hiri: Rasa malu berbuat jahat
2.
Ottappa: Rasa takut akibat perbuatan jahat
Dengan tumbuhnya rasa malu dan takut me
lakukan perbuatan yang salah, anak akan selalu berusaha
menghindari perbuatan keliru di mana pun ia berada. Pancasila Buddhis akan dapat dilaksanakan dengan
baik di depan orangtua maupun apabila anak jauh dari orangtua. Sesungguhnya Sang Buddha telah
bersa
bda dalam
Khuddaka Nikaya, Jataka, 1048
bahwa tanpa pegetahuan dan tanpa belajar peraturan
Vinaya, manusia niscaya akan menempuh kehidupan seperti kerbau buta di tengah rimba.
SEMOGA SEMUA MAHLUK BERBAHAGIA.
5.
5.
KIAT MENGATASI KENAKALAN REMAJA
KIAT MENGATASI KENAKALAN REMAJA
"Oleh diri
sendiri kejahatan dilakukan,
oleh diri sendiri pula seseorang ternoda.
Oleh diri sendiri kejahatan tidak dilakukan,
oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri;
tak seorang pun yang dapat mensucikan ora
ng lain.
(Dhammapada XII, 9) "
PENDAHULUAN
Masa kanak
-
kanak, remaja, dewasa dan kemudian menjadi orangtua tidak lebih hanyalah merupakan
suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari tahap
-
tahap pertumbuhan yang harus dilalui
oleh seor
ang manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri
-
ciri tersendiri. Masing
-
masing mempunyai
kelebihan dan kekurangan. Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dianggap sebagai
masa yang paling rawan dalam proses kehidupan ini. Masa remaja serin
g menimbulkan kekuatiran bagi
para orangtua. Masa remaja sering menjadi pembahasan dalam banyak seminar. Padahal bagi remaja,
masa ini adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Oleh karena itu, para orangtua
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
23
hendaknya berkenan menerima remaja se
bagaimana adanya. Jangan terlalu membesar
-
besarkan
perbedaan. Orangtua para remaja hendaknya justru menjadi pemberi teladan di depan, di tengah
membangkitkan semangat dan di belakang mengawasi segala tindak tanduk si remaja.
Remaja adalah masa peral
ihan dari kanak
-
kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa
remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak
lagi dapat dikatakan sebagai kanak
-
kanak, namun ia masih belum cukup matang untuk da
pat dikatakan
dewasa. Ia sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui
metoda coba
-
coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukannya sering
menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak menyen
angkan bagi lingkungannya, orangtuanya.
Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena
mereka semua memang sama
-
sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahan
-
kesalahan yang
menimbulkan kekesalan lingkungan
inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.
PEMBAHASAN
Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian yang khusus sejak dibentuknya suatu peradilan
untuk anak
-
anak nakal atau juvenile court pada tahun 1899 di Cook County, Illinois, Amer
ika Serikat.
Pada waktu itu, peradilan tersebut berfungsi sebagai pengganti orangtua si anak
-
in loco parentis
-
yang
memutuskan perkara untuk kepentingan si anak dan masyarakat. Dalam pandangan umum, kenakalan
anak dibawah umur 13 tahun masih dianggap wa
jar, sedangkan kenakalan anak di atas usia 18 tahun
dianggap merupakan salah satu bentuk kejahatan.
Dalam makalah ini hanya akan dibahas kenakalan yang dilakukan oleh para remaja dalam usia 13 s.d.
18 tahun.
Kenakalan remaja dapat ditimbulkan
oleh beberapa hal, sebagian di antaranya adalah :
1. PENGARUH KAWAN SEPERMAINAN
Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin
banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman
-
temannya. Apalag
i mereka dapat memiliki teman
dari kalangan terbatas, misalnya anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah
setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh
kawan bermain ini bukan hanya
membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya.
Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu
tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan, perg
aulan
itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai
gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal
ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak a
kan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi,
maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik, obat terlarang dlsb.
Pengaruh kawan ini memang cukup besar. Oleh karena itu dalam
Manggala Sutta
, Sang Buddha
bersabda:
Tak be
rgaul dengan orang tak bijaksana, bergaul dengan mereka yang bijaksana, itulah
Berkah Utama.
Pengaruh kawan sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk apabila dibungkus
dengan selembar daun maka daun itupun akan berbau busuk. Sedangkan bila sebatang
kayu cendana
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
24
dibungkus dengan selembar kertas, kertas itu pun akan wangi baunya. Perumpamaan ini menunjukkan
sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika
remaja, khususnya. Oleh karena itu, orangtua para rem
aja hendaknya berhati
-
hati dan bijaksana dalam
memberikan kesempatan anaknya bergaul. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan
-
kawan yang tidak
benar. Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, anak di kemudian hari akan banyak menimbulkan
masalah bagi oran
gtuanya.
Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan, selain remaja diarahkan untuk
mempunyai teman bergaul yang sesuai, orangtua hendaknya juga memberikan kesibukan dan
mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si re
maja. Pemberian tanggung jawab ini
hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun mengada
-
ada. Berilah pengertian yang jelas dahulu,
sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan memberikan tanggung jawab dalam rumah akan dapat
mengurangi waktu anak 'kluyuran' tid
ak karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan
kewajiban serta tanggung jawab dalam rumah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta mampu
memecahkan masalah sehari
-
hari. Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu, berilah pengarahan kepada
mereka tentang batasan teman yang baik. Dalam
Digha Nikaya III, 188,
Sang Buddha memberikan
petunjuk tentang kriteria teman baik yaitu mereka yang:
1.
Memberikan perlindungan apabila kita kurang hati
-
hati
2.
Menjaga barang
-
barang dan harta kita apabila kita l
engah
3.
Memberikan perlindungan apabila kita berada dalam bahaya
4.
Tidak pergi meninggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya dan kesulitan
5.
Membantu sanak keluarga kita
Sebaliknya, dalam
Digha Nikaya III, 182
diterangkan pula kriteria teman yang
tidak baik. Mereka
adalah teman yang akan mendorong seseorang untuk menjadi:
1.
Penjudi
2.
Orang yang tidak bermoral
3.
Pemabuk
4.
Penipu
5.
Pelanggar hukum
2. PENDIDIKAN
Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada anak
seperti
yang telah diterangkan oleh Sang Buddha dalam
Digha Nikaya III, 188.
Agar anak dapat memperoleh
pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang
agama pengelola sekolah. Hal ini penting unt
uk menjaga agar pendidikan agama Buddha yang telah
diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Berilah pengertian yang
benar tentang adanya beberapa agama di dunia. Berilah pengertian yang baik dan bebas dari kebencian
tenta
ng alasan orangtua memilih agama Buddha serta alasan seorang anak harus mengikuti agama
orangtua, Agama Buddha.
Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan
memilih perguruan tinggi. Orangtua hen
daknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si
anak berbahagia. Arahkanlah agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
25
semata
-
mata karena kesenangan orang tua. Masih sering terjadi dalam masyarakat, orangtua yang
mema
ksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai dengan
keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, memang
ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya te
rsebut, tetapi tidak sedikit pula yang
kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali.
Mereka malahan pergi bersama dengan kawan
-
kawannya, bersenang
-
senang tanpa mengenal waktu
bahkan mungkin kemudian
mereka menjadi salah satu pengguna obat
-
obat terlarang.
Anak pasti juga mempunyai hobby tertentu. Seperti yang telah disinggung di atas, biarkanlah anak
memilih jurusan sekolah yang sesuai dengan kesenangan ataupun bakat dan hobby si anak. Tetapi b
ila
anak tersebut tidak ingin bersekolah yang sesuai dengan hobbynya, maka berilah pengertian kepadanya
bahwa tugas utamanya adalah bersekolah sesuai dengan pilihannya, sedangkan hobby adalah kegiatan
sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utama telah s
elesai dikerjakan.
3. PENGGUNAAN WAKTU LUANG
Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha
menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa
kegiatan ini ter
lalu banyak, remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai
bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan
masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan
dapat terganggu. Sering
perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga
tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang
diharapkan dapat berasal dari oran
gtuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya
sering menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat
membanggakan, misalnya ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras,
obat bius
dsb.
Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena dorongan
teman sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, apabila seseorang tidak mengikuti gaya
hidup anggota kelompoknya maka ia akan di
jauhi oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas
tidak mengenakkan hati si remaja, akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan
-
kawannya.
Akhirnya ia terjerumus. Tersesat.
Oleh karena itu, orangtua hendaknya memberikan pengarahan yang b
erdasarkan cinta kasih bahwa
sikap iseng negatif itu akan merugikan diri sendiri dan juga orangtua maupun lingkungannya. Dalam
memberikan pengarahan orangtua hendaknya hanya membatasi keisengan mereka akan tetapi jangan
terlalu ikut campur dengan urusan re
maja. Ada kemungkinan, keisengan remaja adalah semacam
'refreshing' atas kejenuhannya dengan urusan tugas
-
tugas sekolah. Dan apabila anak senang berkelahi,
orangtua dapat memberikan penyaluran dengan mengikutkannya pada satu kelompok olahraga beladiri.
Mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan remaja, ada baiknya pula orangtua ikut
memikirkannya pula. Orangtua hendaknya jangan hanya tersita oleh kesibukan sehari
-
hari. Orangtua
hendaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan materi remaja. O
rangtua hendaknya juga memperhatikan
perkembangan batinnya. Remaja selain membutuhkan materi, sebenarnya mereka juga membutuhkan
perhatian dan kasih sayang. Oleh karena itu, waktu luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan
kegiatan keluarga sekaligus se
bagai sarana rekreasi. Kegiatan keluarga ini hendaknya dapat diikuti oleh
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
26
seluruh anggota keluarga. Kegiatan keluarga dapat berupa pembacaan Paritta bersama di cetiya dalam
rumah ataupun melakukan berbagai bentuk permainan bersama, misalnya
scrabble,
monop
oli dlsb.
Kegiatan keluarga dapat pula berupa tukar pikiran dan berbicara dari hati ke hati, misalnya dengan makan
malam bersama, atau duduk santai di ruang keluarga. Pada hari Minggu, seluruh anggota keluarga dapat
diajak kebaktian di vihara setempat. Men
gikuti kebaktian, selain memperbaiki pola pikir agar lebih positif
sesuai dengan Buddha Dhamma juga dapat menjadi sarana rekreasi. Hal ini dapat terjadi karena di vihara,
kita dapat berjumpa dengan banyak teman dan juga dapat berdiskusi Dhamma dengan para
bhikkhu
maupun pandita yang dijumpai. Selain itu, di hari libur, seluruh anggota keluarga dapat bersama
-
sama
pergi berenang, ke taman ria, mal dlsb.
4. UANG SAKU
Orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapa
t
diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja hendaknya dididik agar dapat menghargai nilai uang.
Mereka dilatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir. Anak
diajarkan hidup dengan bijaksana dalam mempergunakan uan
g dengan selalu menggunakan prinsip hidup
'Jalan tengah' seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha.
Ajarkan pula anak untuk mempunyai kebiasaan menabung sebagian dari uang sakunya. Menabung
bukanlah pengembangan watak kikir, melainkan sebagai bentuk mengharg
ai uang yang didapat dengan
kerja dan semangat.
Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat dihindarkan. Namun, sebaiknya uang saku
diberikan dengan dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan tidak
bijaksana akan dapat
menimbulkan masalah:
1.
Anak menjadi boros
2.
Anak tidak menghargai uang
3.
Anak malas belajar, sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang
5. PRILAKU SEKSUAL
Pada masa ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para rem
aja dengan
bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat
-
tempat umum, para
remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal
istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi m
ereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang
membanggakan. Oleh karena itu, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan
pacar. Sedangkan, pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan
pengertian p
acaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena
hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan
kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan se
ring tidak seperti harapan kita,
sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan
kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.
Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan t
erhadap remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua
hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda usia anak,
semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar mereka tidak
ketakutan
dengan orangtua dan kemudian mereka pacaran dengan sembunyi
-
sembunyi. Apabila usia
makin meningkat, orangtua dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
27
dijaga agar mereka tidak salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakuka
n sesungguhnya kurang
bermanfaat.
Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak. Misalnya,
orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetujuan ini hendaknya diutarakan dengan
bijaksana. Jangan hanya d
engan kekerasan dan kekuasaan. Berilah pengertian sebaik
-
baiknya. Bila tidak
berhasil, gunakanlah fihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang paling penting di sini adalah adanya
komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahaba
t anak. Orangtua
hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik
-
baiknya sehingga anak tidak
merasa takut menyampaikan masalahnya dengan orangtua.
Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis dimasa kini, orangtua hen
daknya
memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar dan bijaksana kepada para remaja.
Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari
adanya kematangan seksual. Orangtua hendaknya membe
rikan teladan dalam menekankan bimbingan
serta pelaksanaan latihan kemoralan yang sesuai dengan Buddha Dhamma. Sang Buddha telah
memberikan pedoman untuk bergaul yang tentunya juga sesuai untuk pegangan hidup para remaja.
Mereka hendaknya dididik selalu in
gat dan melaksanakan Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis atau
lima latihan kemoralan ini adalah latihan untuk menghindari pembunuhan, pencurian, pelanggaran
kesusilaan, kebohongan dan mabuk
-
mabukan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja
akan
lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas
tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian,
mereka akan menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaks
anakan perbuatan yang harus
dilakukan.
KIAT POKOK MENGATASI KENAKALAN REMAJA
Sebagian besar orangtua di jaman sekarang sangat sibuk mencari nafkah. Mereka sudah tidak
mempunyai banyak kesempatan untuk dapat mengikuti terus kemana pun anak
-
anaknya pe
rgi. Padahal,
kenakalan remaja banyak bersumber dari pergaulan. Oleh karena itu, orangtua hendaknya dapat
memberikan inti pendidikan kepada para remaja. Inti pendidikan adalah sebuah pedoman dasar pergaulan
yang singkat, padat dan mudah diingat serta mudah
dilaksanakan. Pedoman ini telah diberikan oleh Sang
Buddha dalam Kitab Suci Tripitaka,
Anguttara Nikaya I, 51.
Dengan memberikan inti pendidikan ini, kemana saja anak pergi ia akan selalu ingat pesan orangtua dan
dapat menjaga dirinya sendiri. Anak menja
di mandiri dan dapat dipercaya, karena dirinya sendirinyalah
yang akan mengendalikan dirinya sendiri. Selama seseorang masih memerlukan fihak lain untuk
mengendalikan dirinya sendiri, selama itu pula ia akan berpotensi melanggar peraturan bila si pengendal
i
tidak berada di dekatnya.
Inti pendidikan ini terdiri dari dua hal yaitu :
HIRI = MALU BERBUAT JAHAT
Beteng penjaga pertama agar remaja tidak salah langkah dalam hidup ini adalah menumbuhkan
Hiri
atau rasa malu melakukan perbuatan yang tidak benar
atau jahat.
Dalam memberikan pendidikan, orangtua hendaknya dengan tegas dapat menunjukkan kepada anak
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
28
perbedaan dan akibat perbuatan baik dan tidak baik. Perbuatan benar dan tidak benar. Kejelasan orangtua
menerangkan hal ini akan dapat menghilangkan ker
aguan anak dalam mengambil keputusan. Keputusan
untuk memilih kebaikan dan meninggalkan kejahatan. Penjelasan akan hal ini sebaiknya diberikan sejak
dini, semakin awal semakin baik.
Berikanlah pengertian dan teladan tentang latihan kemoralan. Berikanlah ke
sempatan anak agar dapat
meniru prilaku kebajikan orangtuanya. Ajarkan dan didiklah mereka untuk tidak melakukan pembunuhan,
pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan dan mabuk
-
mabukan. Pergunakanlah acara
-
acara di
televisi sebagai alat pengajaran. Tun
jukkan kepada mereka bahwa kejahatan tidak akan pernah menang.
Kejahatan akan musnah pada akhirnya. Sebaliknya, walaupun kebaikan kadang menderita di awalnya
akhirnya akan memperoleh kebahagiaan juga.
Apabila anak sudah dapat dengan jelas membedakan
kebaikan dan keburukan, tahap berikutnya
adalah menumbuhkan rasa malu untuk melakukan kejahatan. Kondisikanlah pikiran anak punya rasa
malu, merasa tidak pantas melakukan pelanggaran peraturan kemoralan baik yang diberikan oleh Sang
Buddha maupun oleh mas
yarakat lingkungan. Mengkondisikan munculnya rasa malu dapat menggunakan
cara seperti ketika orangtua mengenalkan pakaian kepada anak
-
anaknya. Orangtua selalu berusaha
memberikan pakaian yang layak untuk anak
-
anaknya. Namun, apabila suatu saat anak mengena
kan
pakaian dengan tidak pantas atau mungkin tersingkap sedikit, orangtua segera membenahinya dan
mengatakan, menegaskan bahwa hal itu memalukan. Sikap itu masih berkenaan dengan masalah pakaian
fisik. Pakaian batin pun juga demikian. Orangtua bila mengeta
hui bahwa anaknya melakukan suatu
perbuatan yang tidak pantas maka katakan segera bahwa hal itu memalukan. Kemudian berikanlah saran
agar dia tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Bila perbuatan itu masih diulang, berilah sanksi. Berilah
hukuman yang mendid
ik bila perbuatan itu tetap diulang. Usahakan dengan berbagai cara agar anak tidak
lagi mengulang perbuatan yang tidak baik itu.
OTTAPPA = TAKUT AKIBAT PERBUATAN JAHAT
Apabila anak bertambah besar, orangtua selain menunjukkan bahwa suatu perbuatan t
ertentu tidak
pantas, memalukan untuk dilakukan oleh anaknya, maka orangtua dapat meningkatkannya dengan
memberikan uraian tentang akibat perbuatan buruk yang dilakukan anaknya. Akibat buruk terutama
adalah yang diterima oleh si anak sendiri, kemudian tera
ngkan pula dampak negatif yang akan diterima
pula oleh orangtua, keluarganya serta lingkungannya. Orangtua dapat memberikan perumpamaan bahwa
bila diri sendiri tidak ingin dicubit, maka janganlah mencubit orang lain. Artinya, apabila kita tidak
senang terh
adap suatu perbuatan tertentu, sebenarnya hampir semua orang pun bahkan semua mahluk
cenderung tidak suka pula dengan hal itu. Rata
-
rata semua mahluk, dalam hal ini, manusia memiliki
perasaan serupa. Penjelasan seperti ini akan membangkitkan kesadaran anak
bahwa perbuatan buruk yang
tidak ingin dialaminya akan menimbulkan perasaan yang sama bagi orang lain. Dan apalagi bila telah tiba
waktunya nanti, karma buruk berbuah, penderitaan akan mengikuti si pelaku kejahatan.
Menumbuhkembangkan perasaan malu
dan takut melakukan perbuatan yang tidak baik ataupun
berbagai bentuk kejahatan inilah yang akan menjadi pengawas setia dalam diri setiap orang, khususnya
para remaja. Selama dua puluh empat jam sehari, pengawas ini akan melaksanakan tugasnya. Kemanapun
a
nak pergi, ia akan selalu dapat mengingat dan melaksanakan kedua hal sederhana ini. Ia akan selalu
dapat menempatkan dirinya sendiri dalam lingkungan apapun juga sehingga akan mampu
membahagiakan dirinya sendiri, orangtua dan juga lingkungannya. Orangtua s
udah tidak akan merasa
kuatir lagi menghadapi anak
-
anaknya yang beranjak remaja. Orangtua tidak akan ragu lagi menyongsong
era globalisasi. Orangtua merasa mantap dengan persiapan mental yang telah diberikan kepada anak
-
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
29
anaknya. Oleh karena itu, pendidikan
anak di masa kecil yang sedemikian rumit tampaknya, akan dapat
dinikmati hasilnya di hari tua.
Sesungguhnya memang diri sendiri itulah pelindung bagi diri sendiri. Suka dan duka yang kita alami
adalah hasil perbuatan kita sendiri. Sebab, oleh diri
sendiri kejahatan dilakukan; oleh diri sendiri pula
kejahatan dapat dihindarkan. Oleh karena itu, dengan memberikan pengertian yang baik tentang inti
pendidikan tersebut kepada anak
-
anak, diharapkan anak akan dapat membawa diri dan menjaga dirinya
sendiri
agar dapat tercapai kebahagiaan. Kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Kebahagiaan bagi
orangtuanya. Kebahagiaan bagi lingkungannya.
SEMOGA SEMUA MAHLUK BERBAHAGIA.
6.
6.
KIAT MENINGKATKAN SEMANGAT HIDUP
KIAT MENINGKATKAN SEMANGAT HIDUP
"Diri sendiri sesungguhnya adalah pelindung bagi diri se
ndiri,
karena siapa pula yang akan menjadi pelindung bagi dirinya?
Setelah dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik,
ia akan memperoleh perlindungan yang sungguh amat sukar dicari.
(Dhammapada XII, 4) "
PENDAHULUAN
Kehidupan yang selalu
berubah serta penuh dengan perbedaan antara keadaan seseorang dengan orang
yang lain, seringlah menimbulkan kejengkelan, kecemburuan dan putus asa. Apalagi dengan adanya krisis
moneter yang berkepanjangan. Dampak negatif krisis itu semakin terasa di mana
-
m
ana. Banyak
perusahaan mem
-
PHK karyawannya. Kenaikan harga barang
-
barang kebutuhan pokok yang hampir tidak
terjangkau oleh masyarakat. Kerusuhan massal terjadi di mana
-
mana sehingga menakutkan warga
masyarakat, serta masih banyak lagi penderitaan yang dial
ami oleh para anggota masyarakat. Namun,
sebaliknya, krisis moneter ini juga dapat menimbulkan kebahagiaan bagi sebagian orang. Para eksportir,
misalnya, akan lebih banyak memetik keuntungan daripada importir. Demikian pula dengan orang yang
bergelut dalam
jual beli dollar, tentunya dengan lonjakan nilai tukar dollar akan memperoleh peningkatan
keuntungan pula.
Akhirnya, timbullah perbedaan tajam dalam masyarakat. Ada kelompok yang menderita dan ada
kelompok yang teruntungkan dengan keadaan ini. Melihat ke
nyataan ini, apabila kita di fihak yang
menderita, akan timbullah penyesalan, kenapakah orang lain lebih bahagia daripada kita, padahal mereka
tingkah lakunya tidak lebih baik daripada kita sendiri. Kita yang telah berusaha berbuat baik, penderitaan
malah
sering mengikuti seperti bayangan kita sendiri. Apakah ada kesalahan kita?
Mengapa pula di dunia ini selain adanya perbedaan antara orang kaya dengan orang miskin, terdapat pula
perbedaan antara orang sehat dengan sakit
-
sakitan, umur panjang dengan umur pe
ndek, cantik
-
jelek,
pandai
-
bodoh dan masih panjang lagi daftar dualisme ini bila semua dituliskan. Perasaan kita kadang
lebih hancur lagi apabila ingat penderitaan kita seakan lebih sering terjadi jika dibandingkan dengan orang
lain. Kita kecewa. Kita kemu
dian bertanya dalam hati, apakah kesalahan kita? Apakah benar ini cobaan
hidup? Siapakah yang mencoba? Kita terus berusaha mencari 'kambing hitam' atas kesulitan yang dialami.
Namun, Sang Buddha tidak pernah mengajarkan untuk menyalahkan fihak lain atas ke
sulitan kita. Semua
penderitaan dan masalah kehidupan pasti ada penyebabnya. Setiap orang memiliki penyebabnya masing
-
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
30
masing. Oleh karena itu, sungguh tidak tepat bila dalam diri kita masih juga muncul kejengkelan, iri hati
terhadap kebahagiaan orang lain,
bahkan amat keliru kalau kita sampai putus asa, patah semangat hidup
dalam menghadapi perubahan yang terus terjadi dalam kehidupan kita. Buddha Dhamma telah sempurna
dibabarkan oleh Sang Buddha. Buddha Dhamma memberikan jalan untuk memperoleh kebahagiaan.
Buddha Dhamma juga menguraikan cara untuk mempertahankan kebahagiaan yang kita alami.
SETIAP MAHLUK MEMILIKI KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Sang Buddha sejak hampir tiga ribu tahun yang lalu telah mengerti dan menyadari bahwa kehidupan
ini memang selalu
berisikan perbedaan, saling bertolak belakang. Perbedaan dalam dunia ini malah sering
diibaratkan sebagai saudara kembar. Artinya, kita tidak mungkin hanya menerima satu sisi dan menolak
sisi yang lainnya. Kita hanya mau menerima sisi kebahagiaan saja dan
menolak sisi yang berisikan
penderitaan. Tidak bisa. Tidak mungkin. Kita pasti menerima keduanya.
Mengalami kedua kenyataan hidup yang silih berganti ini sering membuat pikiran kita menjadi tidak
seimbang. Kadang pikiran merasa senang, tetapi tidak jarang
pikiran menjadi sedih. Sungguh sulit untuk
bertahan pada pikiran yang penuh kebahagiaan. Permasalahannya sekarang, adakah sistem yang dapat
mempertahankan pikiran agar selalu berbahagia walaupun kita harus menerima kenyataan bagaimanapun
juga? Ada. Buddha
Dhamma yang telah dibabarkan sempurna oleh Sang Guru Agung Buddha Gotama
mampu memberikan jalan kebebasan menuju kebahagiaan sejati.
Bila diamati, kondisi bahwa segala sesuatu selalu berubah ini adalah merupakan hakekat kehidupan.
Perubahan itu send
iri adalah netral, tidak menyedihkan maupun menggembirakan. Munculnya perasaan
suka maupun duka dalam menghadapi perubahan itu adalah hasil pikiran kita sendiri. Kita tidak mungkin
mampu mengubah dunia. Tidak mungkin kita mengubah kenyataan. Hal yang mampu
kita lakukan adalah
mengubah cara berpikir kita sendiri. Siap menerima kenyataan sebagai kenyataan, bukan seperti yang kita
harapkan menjadi kenyataan. Cara berpikir yang salahlah yang membuat kita menderita. Cara berpikir
yang salah ini karena kita terla
lu mengharapkan kenyataan dapat berubah sesuai dengan keinginan kita.
Makin besar keinginan untuk mengubah kenyataan, makin besar pula penderitaan dan kekecewaan yang
akan dirasakan. Kita ingin selalu berkumpul dengan segala sesuatu yang dicinta. Sebalikny
a, kita selalu
berusaha menolak untuk bertemu dengan apapun yang kita benci. Kenyataannya, kita pasti akan berpisah
dengan segala yang dicinta dan bertemu dengan hal
-
hal yang dibenci. Karena itu, kita hendaknya
mengubah cara berpikir agar mampu menerima ke
hidupan ini sebagaimana adanya.
Dalam pergaulan dengan sesama manusia, sering muncul benturan dan ketidakselarasan. Masalah ini juga
timbul karena harapan tidak selalu sesuai dengan keinginan. Untuk mengatasi masalah ini kita hendaknya
mengembangkan pola
pikir bahwa semua orang selalu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kita memiliki
kekurangan, tetapi juga pasti ada kelebihannya; sebaliknya orang lain di samping kelebihannya, dia pasti
mempunyai kekurangan pula. Kita semua sama. Punya kelebihan dan kekuran
gan masing
-
masing. Ada
orang yang memiliki kelebihan di bidang penampilan fisik tetapi mungkin memiliki kekurangan dalam
bidang kecerdasan. Orang lain yang memiliki kekurangan dalam kecerdasan, mungkin ia adalah orang
yang sukses dalam berniaga. Serta masi
h banyak contoh lainnya. Dengan memiliki cara berpikir seperti
ini membuat kita dapat lebih menerima perbedaan
-
perbedaan itu. Dalam kehidupan ini, sesungguhnya
orang hanya saling memperhatikan antara satu dengan yang lainnya. Apabila ia melihat orang lain
memiliki sesuatu yang ia sendiri belum memiliki maka ia katakan orang itu berbahagia. Kenyataannya,
kebahagiaan relatif sifatnya. Kebahagiaan adalah urusan pribadi, tidak dapat diukur oleh orang lain.
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
31
KARMA BURUK DILAWAN KARMA BAIK
Apabila kita suda
h mengerti adanya kekurangan dan kelebihan pada setiap mahluk, maka kita
hendaknya mulai merenungkan penyebab perbedaan ini muncul. Perbedaan ini muncul karena adanya
Hukum Karma atau hukum perbuatan. Dalam
Samyutta Nikaya I,227
telah disebutkan bahwa sesu
ai
dengan benih yang ditanam demikian pula buah yang akan kita petik, pembuat kebajikan akan
memperoleh kebahagiaan, sebaliknya pembuat kejahatan akan mendapatkan penderitaan. Jadi, orang yang
memiliki penampilan menarik, salah satunya, adalah karena buah
kebajikannya dari kehidupan
lampaunya, sedangkan apabila seseorang mempunyai cacad tubuh, salah satunya, adalah buah karma
buruknya di masa lampau pula.
Membahas masa lampau memang sulit. Dibahaspun tidak akan menyelesaikan masalah, malah mungkin
menimbulk
an masalah baru. Debat kusir. Oleh karena itu, sekarang yang paling penting adalah bagaimana
menyelesaikan masalah atau kesulitan yang timbul dalam kehidupan kita saat ini, tanpa harus mencari
'kambing hitam'. Karena kesulitan dan permasalahan adalah bagia
n dari buah karma buruk kita, maka
untuk mengatasinya, dapat dilakukan dengan menambah karma baik. Penambahan karma baik dapat
dilakukan melalui perbuatan badan, ucapan dan juga pikiran. Semakin banyak karma baik kita lakukan,
semakin besar kondisi kita un
tuk mencapai kebahagiaan. Ibarat pada segelas air dimasukkan satu sendok
garam, lalu diaduk, terasa sangat asin. Untuk mengurangi rasa asin itu, kita dapat menambah air sedikit
demi sedikit. Apabila air sudah sebanyak lima atau sepuluh gelas maka satu send
ok garam yang ada di
dalam air itu sudah tidak terasa lagi asinnya. Demikian pula dengan hukum perbuatan, garam diibaratkan
sebagai perbuatan buruk kita; air adalah perbuatan baik kita. Jika seseorang mengalami kesulitan hidup,
hal ini disebabkan karena ju
mlah garam atau karma buruknya cukup banyak sehingga ia harus terus
menambah air kebajikan sekaligus menghentikan kejahatannya. Sebaliknya, orang yang telah berbahagia
dalam kehidupan ini diibaratkan seperti orang yang memiliki air dalam jumlah banyak deng
an sedikit
garam. Asinnya hampir tidak terasa. Meskipun demikian, hendaknya ia tidak dengan seenaknya saja
menyia
-
nyiakan kebahagiaan dan kesempatan dalam hidupnya dengan melakukan karma buruk, atau
digambarkan seperti menambah jumlah garam ke dalam air. S
ebab, meskipun memiliki air kebajikan
dalam jumlah yang banyak, apabila terus ditambah dengan garam kejahatan, lambat laun
perbandingannya pun semakin kecil dan buah kejahatan akan menimbulkan penderitaan padanya.
CARA MENCAPAI KEBAHAGIAAN
Dalam Bud
dha Dhamma, terdapat tiga perbuatan baik yang dapat digunakan untuk memperbaiki
tingkat kehidupan kita. Ketiga perbuatan itu adalah
kerelaan
(dana)
,
kemoralan
(sila)
dan
konsentrasi
(samadhi).
Ketiga Ajaran Sang Buddha ini dapat diibaratkan sebagai air dal
am contoh air dan garam di
atas. Oleh karena itu, jika ketiganya dilaksanakan terus dalam kehidupan akan membuat kehidupan kita
lebih baik dan bahagia. Sedangkan, apabila penderitaan dan kegagalan sedang dihadapi, dengan
melaksanakan ketiga hal ini dapatla
h mengurangi kesulitan tersebut. Bahkan, kebahagiaan bukan hanya
dapat dialami dalam kehidupan ini saja, kebahagiaan dapat pula dinikmati dalam kehidupan yang akan
datang yaitu mempunyai kesempatan terlahir di salah satu dari dua puluh enam alam surga
Agar lebih jelas, maka ketiga perbuatan itu akan diuraikan satu persatu:
Kerelaan
(dana)
adalah awal kebajikan. Kerelaan pada mulanya dilatih dengan hal
-
hal yang bersifat
materi. Apabila seseorang telah terbiasa, maka ia dapat meningkatkan latihannya de
ngan kerelaan yang
tidak berbentuk materi. Kerelaan berbentuk materi, misalnya memberikan empat kebutuhan pokok kepada
mereka yang membutuhkan. Kerelaan yang bukan berbentuk materi, misalnya mau memperhatikan
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
3
2
kesulitan orang lain, bersedia memaafkan orang
lain, ataupun mau menyadari segala kelebihan dan
kekurangan orang lain. Pokok pemikiran latihan kerelaan ini adalah agar seseorang dapat memiliki pola
pikir:
Semoga semua mahluk berbahagia.
Sebab, dengan pemikiran awal ini saja, kebencian, iri hati
maupun
kecemburuan akibat perbedaan dalam kehidupan akan dapat dilenyapkan. Kita bahkan ikut
berbahagia atas kebahagiaan mahluk lain. Kita bersimpati dengan kebahagiaan orang lain. Kita menjadi
orang yang mempunyai tingkat toleransi yang tinggi terhadap lingkunga
n. Dengan latihan kerelaan, kita
berusaha
menurunkan tingkat keinginan
kita
-
bila memang tidak mampu mencapainya
-
agar sesuai
dengan kenyataan yang sedang kita hadapi. Apabila kita bertemu dengan orang yang menjengkelkan, kita
bisa menghindarinya sambil
merenungkan: mungkin memang tingkah semacam itulah yang membuatnya
bahagia.
Kemoralan
adalah berintikan kedisiplinan. Latihan ini diawali dengan pelaksanaan Pancasila Buddhis
atau Lima Latihan Kemoralan. Isi Pancasila Buddhis ini adalah latihan peng
endalian diri untuk tidak
melakukan pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, berbohong dan mabuk
-
mabukan. Inti latihan
ini adalah agar kita dapat meningkatkan kualitas diri kita.
Meningkatkan disiplin diri.
Menumbuhkembangkan disiplin diri diperlukan
agar kita mampu mencapai harapan kita. Jadi apabila
kedermawanan ditujukan untuk menurunkan harapan, disiplin diri ditujukan untuk meningkatkan sistem
kerja agar tercapai target yang diharapkan. Peningkatan sistem kerja ini dengan merenungkan dua hal
yang
telah diajarkan dalam Dhamma
(Anguttara Nikaya II, 16).
Pertama, menganalisa kelebihan dan
kekurangannya sendiri. Faktor kelebihan hendaknya kita kembangkan terus sehingga kebahagiaan akan
semakin sering dirasakan. Sebaliknya, unsur kekurangan, hendaknya
kita hindari agar penderitaan tidak
lagi datang pada diri kita. Kedua, menganalisa kelebihan dan kekurangan orang lain. Apabila kita dapat
menemukan kekurangan orang, segera hindarilah sikap buruk semacam itu karena kita memiliki
kemungkinan yang sama untu
k melakukannya. Sedangkan apabila kita melihat kelebihannya, segera
tirulah agar kita juga memperoleh keberhasilan yang sama. Dengan demikian, bila kita melihat
keberhasilan orang lain, tidak akan muncul rasa iri hati, justru kita akan bersemangat untuk
me
neladaninya. Kalau orang lain mampu melakukan, kita pun harus berusaha untuk melakukannya pula.
Konsentrasi
atau latihan meditasi ditujukan untuk mencapai ketenangan pikiran. Latihan meditasi
dilakukan dengan menggunakan pernafasan sebagai sarana. N
amun, meditasi bukanlah mengatur
pernafasan, juga bukan menahan nafas. Meditasi hanyalah merasakan pernafasan kita sendiri. Kita dengan
sungguh
-
sungguh merasakan udara yang masuk dan keluar melalui lubang hidung kita. Dengan
melaksanakan meditasi setiap pa
gi dan sore selama 15 menit akan membentuk kebiasaan berpikir untuk
selalu menyadari bahwa hidup adalah saat ini. Tadi kita pernah hidup, tetapi sudah tidak hidup; nanti kita
akan hidup tetapi belum tentu hidup; hidup adalah saat ini.
Pengembangan pola pi
kir agar dapat hidup saat ini akan dapat menghasilkan ketenangan. Hal ini dapat
terjadi karena seseorang timbul emosi, kejengkelan, kegelisahan, stress adalah dikarenakan dalam
pikirannya selalu membandingkan antara keinginan dengan kenyataan yang dihadapi
nya. Apabila sesuai,
bahagialah ia; sebaliknya apabila tidak sesuai timbullah penderitaan. Jadi, segala bentuk perasaan suka
dan duka itu adalah hasil dari pikiran itu sendiri. Oleh karena itu, perasaan pasti dapat dikendalikan
apabila orang dapat menguasa
i pikirannya sendiri. Meditasi inilah sebagai salah satu cara mengendalikan
pikiran.
Meditasi memang tidak akan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Meditasi hanyalah sarana
untuk menenangkan pikiran agar dapat lebih mudah menyelesaikan masalah. Den
gan memiliki
ketenangan pikiran, seseorang dapat menentukan kapankah ia harus menurunkan harapan; atau kapankah
ia harus meningkatkan sistem kerjanya. Ataukah, kapan saatnya untuk melakukan keduanya sekaligus,
menurunkan harapan dan meningkatkan kinerja. P
emilihan ini membutuhkan ketenangan dan
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
33
keseimbangan batin. Dengan memiliki kemampuan memberikan pilihan yang tepat, seseorang akan dapat
menghindarkan diri dari penderitaan dan meningkatkan kebahagiaan dalam hidup.
CARA MENCAPAI KEBAHAGIAAN
1.
Semua mahluk
memang selalu memiliki kelebihan dan kekurangan
2.
Perbedaan yang ada pada mahluk hidup adalah karena setiap mahluk memiliki karmanya sendiri
-
sendiri.
3.
Kita dapat memperbaiki kehidupan kita dengan melaksanakan kerelaan, kemoralan dan samadhi
setiap hari.
4.
Ke
relaan digunakan untuk menyesuaikan harapan kita agar sama dengan kenyataan. Dapat
menerima kenyataan.
5.
Kemoralan ditujukan agar kita dapat memperbaiki kualitas diri dan sistem kerja kita agar harapan
dapat tercapai.
6.
Samadhi dimanfaatkan untuk menentukan
apakah keinginan ataukah sistem kerja yang harus kita
perbaiki. Atau menentukan tindakan yang tepat untuk menghadapi masalah.
RENUNGAN
Segala suka dan duka sesungguhnya
adalah karena buah perbuatan kita sendiri.
Karena itu bila kita sedang berbahagia tam
bahlah terus kebajikan
agar dapat terus mempertahankan kebahagiaan yang sedang kita rasakan.
Bila sedang mengalami penderitaan,
maka janganlah bosan menambah kebajikan
agar karma buruk yang kita alami segera berlalu
SEMOGA SEMUA MAHLUK BERBAHAGIA.
7
7
.
.
NASIB...DAPATKAH DIUBAH ?
NASIB...DAPATKAH DIUBAH ?
PENDAHULUAN
Kemajuan jaman telah banyak mengubah prilaku orang. Semakin lama semakin marak penggunaan
teknologi canggih untuk mempermudah seseorang menjalani kehidupan. Seseorang yang ingin
mengadakan perjalanan jauh, se
mula hanya mampu mempergunakan mobil, kini ia dapat menggunakan
pesawat terbang. Pemanfaatan pesawat TV meningkatkan perolehan arus informasi global yang semula
hanya didapat dari surat kabar dan radio saja. Demikian banyak segi kehidupan yang telah dipeng
aruhi
oleh kemajuan jaman. Akan tetapi, meskipun jaman telah banyak berubah, masih cukup banyak sikap dan
cara berpikir masyarakat yang relatif tetap. Konsep tentang nasib, misalnya. Sampai saat ini, masih
banyak orang yang mempercayai adanya nasib. Mereka
menganggap nasib telah ditentukan terlebih
dahulu sebelum seseorang dilahirkan ke dunia. Nasib berlaku sejak dilahirkan sampai dengan meninggal.
Nasib ini tidak akan dapat diubah walau sedemikian hebat seseorang berusaha memperbaikinya. Konsep
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
34
ini memang
sangat sederhana dan bermanfaat untuk membuat seseorang lebih mudah menerima
penderitaan dalam kehidupan. Apabila mereka menjumpai kesulitan hidup yang tidak terpecahkan, maka
jalan keluarnya adalah menyalahkan nasib buruknya sendiri dan akhirnya mereka ak
an tenang. Namun,
apakah hal ini ada di dalam pengertian Buddhis?
Umat Buddha yang mengerti sedikit
-
sedikit Ajaran Sang Buddha menyadari bahwa segala sesuatu dalam
kehidupan ini tidak kekal, selalu berubah. Hal ini memang sesuai dengan pengertian yang tela
h diuraikan
oleh Sang Buddha. Oleh karena itu, mereka juga menyadari bahwa nasib pun tidaklah kekal. Artinya,
nasib dapat diubah. Namun, cara untuk mengubah nasib inilah yang tidak tepat, tidak sesuai dengan
Ajaran Sang Buddha. Banyak orang dalam suasana t
ahun baru mengunjungi para tukang ramal untuk
mengetahui nasib dan masa depan mereka. Apabila sang peramal mengatakan bahwa pada tahun itu nasib
mereka baik maka sungguh bahagia mereka. Sebaliknya, bila si peramal memberikan kabar buruk, mereka
menjadi gel
isah, cemas dan takut. Mereka kemudian bertanya dan memohon kepada si peramal untuk
mengadakan upaya atau upacara tertentu yang dapat membebaskan mereka dari nasib buruk. Mereka
menghabiskan banyak uang untuk mengadakan upacara tertentu tersebut agar dapat
selamat dari
penderitaan. Apakah hal ini bermanfaat? Kadang memang dapat memberikan manfaat, tetapi lebih sering
mereka menjadi mangsa empuk paranormal gadungan. Justru pada akhirnya si paranormal lah yang lebih
bahagia daripada 'mangsanya'.
Agama Buddha
memang melihat kehidupan ini tidaklah kekal, selalu berubah. Dengan demikian, memang
benar bahwa nasib seseorang pun dapat berubah. Nasib sesungguhnya adalah merupakan kumpulan buah
perbuatan baik maupun buruk yang telah pernah dilakukan seseorang. Salah s
atu sabda Sang Buddha yang
sangat terkenal tentang ini adalah: "Sesuai dengan benih yang ditabur, begitulah buah yang akan
dipetiknya. Pembuat kebajikan akan mendapatkan kebajikan dan pembuat kejahatan akan menerima
kejahatan pula. Tertaburlah olehmu biji
-
biji benih dan engkau pulalah yang akan memetik buah
-
buah dari
padanya"
(Samyutta Nikaya I, 227).
Jelas sudah sekarang bahwa suka dan duka adalah buah perbuatan
sendiri. Dengan demikian, nasib pasti dapat diperbaiki dengan melakukan suatu tindakan tertentu
. Agar
lebih jelas memahami Ajaran Sang Buddha yang dapat dipergunakan untuk mengubah nasib maka
disusunlah makalah ini. Namun, agar terhindar dari kerancuan pengertian istilah 'nasib' yang telah
berkembang di tengah masyarakat bahwa nasib tidak dapat diub
ah maka dalam makalah ini digunakan
istilah yang lebih sesuai yaitu
Kamma
(Pali) atau
Karma
(Sanskerta). Istilah 'kamma' memang telah
dipergunakan oleh Sang Buddha sendiri. Dalam pembahasan makalah akan digunakan istilah yang cukup
memasyarakat yaitu 'karm
a'.
PEMBAHASAN
Pengertian akan adanya Hukum Karma sudah cukup lekat dalam masyarakat kita, baik di kalangan
umat Buddha maupun bukan. Walaupun pengertian itu masih bersifat setengah
-
setengah. Masyarakat
dengan mudah mengatakan bahwa orang jahat yang
kemudian tertimpa bencana itulah akibat buah
karmanya. Sebaliknya, jarang terdengar bahwa orang baik yang hidup bahagia adalah juga akibat buah
karmanya. Kebanyakan orang menganggap bahwa istilah 'karma' selalu berarti karma buruk. Padahal
dalam pengertia
n Buddhis, karma berarti segala bentuk perbuatan yang dilakukan dengan niat
(Anguttara
Nikaya II, 82).
Niat melakukan perbuatan ini dapat diwujudkan dengan prilaku badan, ucapan maupun
tetap dalam pikiran saja. Perbuatan yang dilakukan dapat merupakan perb
uatan baik maupun perbuatan
buruk. Memperhatikan perumpamaan yang diberikan Sang Buddha tentang Hukum Karma, dapatlah
dimengerti bahwa Hukum Karma sebenarnya adalah Hukum Sebab dan Akibat. Apabila ada sebab maka
timbul pula akibat; apabila hilang penyebabn
ya maka hilang pula akibat. Hukum Sebab dan Akibat ini
adalah merupakan hakekat kehidupan. Oleh karena itu, ada beberapa kondisi alam yang juga dipengaruhi
oleh Hukum Sebab dan Akibat. Kondisi ini diuraikan dalam
Abhidhamma Vatara 54
sebagai
HUKUM
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
35
ALAM
(Pa
ncaniyama Dhamma)
yaitu:
1.
Bija Niyama:
Hukum mengenai biji
-
bijian
2.
Utu Niyama :
Hukum yang berkenaan dengan temperatur
3.
Kamma Niyama:
Hukum Perbuatan
4.
Citta Niyama:
Hukum akibat dari kemampuan pikiran
5.
Dhamma Niyama:
Adanya gravitasi
Hukum Karma
(
Kamma Niyama)
ternyata adalah salah satu dari Hukum Sebab dan Akibat. Sesuai
dengan prinsip dasar Hukum Sebab dan Akibat berarti setiap suka dan duka yang dialami pasti ada
sebabnya. Apabila dapat mengatasi penyebabnya maka akibatnya pun dapat diubah. Jadi
, kebahagiaan
dapat dimunculkan dan penderitaan dapat dihindari asalkan mengetahui penyebab kebahagiaan dan
penderitaan. Untuk dapat menumbuhkan kebahagiaan dan menghindari penderitaan, cara kerja karma
harus diketahui terlebih dahulu. Pada kitab
Visuddhim
agga 601,
cara kerja karma dibagi menjadi:
1. Karma yang menyebabkan kelahiran
Pada saat kelahiran, seseorang tidak dapat menentukan sendiri agar dapat lahir dengan bentuk tubuh
tertentu, jenis kelamin tertentu dan sebagainya. Apa yang didapat pada
saat kelahiran adalah mutlak buah
karma yang telah pernah diperbuat dalam kehidupan sebelumnya. Lahir sebagai lelaki atau wanita, lahir
sempurna atau cacad adalah hasil kerja karma yang melahirkan berdasarkan timbunan karma baik maupun
buruk yang dimilikin
ya.
2. Karma yang mendukung buah karma yang tengah dialami
Kerja karma jenis kedua ini adalah memberikan tambahan atas karma yang muncul pada saat
kelahiran. Apabila seorang anak lahir dengan lebih banyak memiliki karma baik sehingga ia mempunyai
be
ntuk tubuh indah, sehat, ganteng / cantik dan sempurna maka karma yang mendukung memberikan nilai
tambah lagi yaitu misalnya ia lahir dalam keluarga kaya raya, keturunan yang terhormat dan seterusnya.
Sebaliknya, anak yang lahir dengan timbunan karma buruk
yang cukup banyak sehingga ia memiliki
tubuh cacad, wajah buruk maka akan ditambah pula dengan kelahirannya di keluarga pra sejahtera,
kondisi keluarga yang amburadul.
Inti kerja karma ini adalah jika seseorang lahir bahagia maka akan ditambah kebahagiaan
nya; bila saat
lahir sudah menderita maka ditambah pula penderitaannya.
3. Karma yang mengurangi buah karma yang sedang dialami
Kehidupan bahagia dan tambah bahagia serta mereka yang menderita semakin menderita ternyata
masih dapat diperbaiki. Kebah
agiaan dapat ditingkatkan dan penderitaan dapat dikurangi. Inilah yang
menjadi tugas karma jenis ini. Namun, tugas tersebut harus dilaksanakan sendiri. Artinya, mereka yang
ingin tambah bahagia dan menghindari penderitaan harus mampu melakukan perbuatan ba
ik. Ada banyak
perbuatan baik yang dapat dilaksanakan. Dalam bagian lain makalah ini nanti akan dibahas satu demi satu.
Pengertian tentang cara kerja karma jenis inilah yang akan dapat memberikan makna dalam kehidupan.
Orang akan terdorong untuk melakukan
kebajikan karena menyadari bahwa buah kebahagiaan akan
dialami sendiri. Sebaliknya bila ia mengalami kesulitan, ia tidak akan putus asa karena sadar bahwa ia
sendirilah yang dapat mengubah tangis menjadi tawa. Dari sinilah semangat hidup dapat dibangkitka
n.
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
36
Dari sini pula dibangkitkan kelebihan manusia sebagai penentu suka duka hidupnya sendiri. Tidak akan
ada kekecewaan di kala menderita; tiada kesombongan di kala suka karena orang telah menyadari bahwa
segala suka dan duka yang dialami adalah hasil perbu
atannya sendiri.
4. Karma yang memotong karma yang menyebabkan kelahiran
Perubahan yang sangat drastis akibat perbuatan sendiri dapat menimbulkan jalan hidup yang
bertentangan dengan karma yang dialami sewaktu dilahirkan. Seseorang yang sempurna tub
uhnya dan
lahir dari keluarga bangsawan namun ia suka mabuk
-
mabukan akan dapat mengakibatkan dia menderita
selamanya, misalnya apabila ia mengalami kecelakaan lalu lintas yang berakibat cacad seumur hidup.
Dengan demikian,, hilang kesempurnaan tubuhnya dan
tidak ada lagi arti keturunan bangsawan yang
dimilikinya.
Sebaliknya orang yang buruk wajahnya dan lahir di keluarga miskin, namun ia rajin dan penuh kejujuran
maka ia dapat memperoleh kepercayaan dari atasannya untuk jabatan penting tertentu dalam suatu
perusahaan, misalnya. Jabatan penting yang dipercayakan kepadanya akan dapat memperbaiki kondisi
ekonominya yang semula sulit. Jabatan itu juga menyebabkan ia menjadi orang terhormat yang bertolak
belakang dengan keadaan yang dialaminya sewaktu ia dilahirk
an.
Dengan mengerti cara kerja karma di atas, maka segala perbuatan baik dan buruk yang kita lakukan
adalah termasuk dalam jenis karma kelompok ketiga: Karma yang mengurangi buah karma yang sedang
dialami. Apabila banyak perbuatan baik yang kita lak
ukan, maka kebahagiaan dapat terus ditingkatkan
dan penderitaan dapat dikurangi. Sedangkan perbuatan jahat harus dihindari karena akan dapat
menurunkan kebahagiaan dan meningkatkan penderitaan yang tengah dialami. Inilah kunci penting
perubahan karma. Dala
m
Dighanikaya Atthakatha III, 999
terdapat sepuluh jalan berbuat kebaikan
(Dasa
Puùùakiriyavatthu)
yaitu:
1. DĂŁnamaya: memberikan dana / kerelaan
Dana atau kerelaan dalam Agama Buddha adalah menjadi dasar segala perbuatan baik. Tidak akan ada
perbua
tan baik yang dilakukan seseorang apabila ia tidak memiliki kerelaan. Dana yang dimaksudkan di
sini tidaklah selalu hanya berhubungan dengan uang ataupun materi saja. Dana yang dibicarakan adalah
dana yang bersifat materi dan juga dana yang tidak bersifat
materi. Dana yang bersifat materi lebih biasa
di dengar, sedangkan salah satu contoh dana yang bersifat bukan materi adalah kesediaan seseorang
memberi maaf kepada orang yang bersalah. Pada tingkat awal, orang memang dianjurkan berdana dalam
bentuk materi,
misalnya uang, pakaian, makanan maupun kebutuhan yang lain. Sesungguhnya makna
dana ini adalah menumbuhkan kebiasaan berpikir untuk membahagiakan mahluk lain. Bahkan, semua
mahluk. Ia akan membahagiakan mereka dengan segala macam cara. Menumbuhkembangkan
pikiran
yang penuh cinta kasih. Dalam
Jataka 37
disebutkan bahwa apabila seseorang memiliki pikiran penuh
cinta kasih maka ia akan merasa welas asih kepada semua mahluk di dunia. Semua mahluk yang ada di
atas, di bawah dan di sekelilingnya, tak terbatas di
manapun juga. Apabila sikap ini sudah dapat terbentuk
dengan kemampuan materi, maka dapat dilanjutkan dengan memberikan hal
-
hal yang bukan materi. Mau
mendengarkan kesulitan orang lain adalah juga termasuk berdana yang bukan materi.
2. SĂŽlamaya: menjaga
sila (kemoralan)
Pelaksanaan kemoralan ditujukan agar seseorang selain mampu berbuat baik, ia hendaknya juga
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
37
mampu mengendalikan dirinya, mengendalikan tingkah lakunya. Dalam pelaksanaan sila, sebagai
permulaan, seseorang dapat melatih lima sila atau
disebut juga sebagai Pancasila Buddhis dalam
kehidupan sehari
-
hari di masyarakat. Lima latihan kemoralan itu adalah latihan untuk tidak membunuh
dan menganiaya mahluk hidup, tidak mencuri, tidak melanggar kesusilaan, tidak berbohong dan tidak
mabuk
-
mabuka
n
(Anguttara Nikaya III, 203).
Tujuan dari pelaksanaan sila ini agar si pelaku tidak
memiliki kesalahan yang dapat merugikan diri sendiri maupun fihak lain. Dengan pelaksanaan sila, selain
si pelaku dapat diterima sebagai anggota masyarakat yang baik, ia p
un juga termasuk melakukan karma
baik. Dalam
Theragatha 608
disebutkan bahwa di sini, di dunia ini, seseorang haruslah melatih dengan
cermat untuk menyempurnakan kemoralan, karena kemoralan apabila dikembangkan dengan baik akan
menghantarkan semua keberhas
ilan ke dalam genggaman. Selanjutnya, apabila pelaksanaan latihan lima
sila ini ingin ditingkatkan, maka seseorang dapat melatih delapan sila sehari dalam seminggu. Lebih
meningkat lagi adalah dengan melaksanakan sepuluh sila yaitu dengan menjadi samanera
sementara
ataupun tetap. Paling banyak latihan sila adalah dengan melakukan bhikkhu sila yaitu melatih 227
peraturan kebhikkhuan.
3. BhĂŁvanĂŁmaya: mengembangkan batin
Berdana dan melaksanakan kemoralan adalah latihan pembentukan kebiasaan yang masih
berkaitan
dengan unsur fisik seseorang. Kedua latihan ini sudah cukup baik, namun masih harus ditingkatkan.
Apabila seseorang hanya melatih diri sampai pada unsur fisik saja, maka ia akan menjadi orang yang
munafik, pandai berpura
-
pura; baik kelakuan tetap
i jahat pikirannya. Ia hendaknya juga melatih
pikirannya dengan meditasi. Meditasi sebaiknya dilatih setiap hari, pagi dan sore hari paling sedikit 15
menit atau 30 menit setiap latihan. Melalui meditasi orang dibiasakan berpikir yang baik, berkonsentrasi
pada segala hal yang sedang dipikirkan, dikerjakan dan diucapkan. Tujuan utama meditasi adalah
membentuk kebiasaan berpikir, hidup adalah saat ini. Pikiran seseorang sering melayang ke masa lampau
ataupun yang akan datang, akibatnya timbullah perasaan suka
dan duka. Suka adalah sebagai akibat
tercapainya keinginan di masa lampau atau karena membayangkan kebahagiaan yang akan diperoleh di
masa depan. Sebaliknya duka adalah karena keinginan di masa lampau tidak tercapai atau ketakutan
membayangan masa yang ak
an datang. Padahal, keduanya adalah tipuan pikiran belaka. Di masa lampau
seseorang pernah hidup tetapi ia sudah tidak hidup di masa itu lagi. Sedangkan masa depan, ia akan hidup
tetapi belum tentu hidup. Hidup adalah saat ini. Ketakutan maupun kebahagiaan
semu justru akan menyia
-
nyiakan kenyataan bahwa saat inilah seseorang sedang hidup!
4. ApacĂŁyanamaya : bersikap rendah hati dan menghormati mereka yang lebih tua
Rendah hati adalah salah satu bentuk latihan mengurangi keakuan. Keakuan menjadikan se
seorang
merasa sebagai tokoh utama dalam hidup ini. Tanpa dirinya seakan dunia tidak akan berputar lagi.
Padahal menurut Buddha Dhamma kehidupan ini sesungguhnya dicengkeram oleh Hukum Sebab dan
Akibat. Artinya, seseorang mampu mencapai kondisi seperti saa
t ini pasti ada sebabnya. Dan dari salah
satu penyebab tersebut, pasti juga akan melibatkan fihak lain. Seseorang tidak akan pernah mampu untuk
hidup sendirian dalam dunia. Ia pasti membutuhkan fihak lain untuk saling membantu. Oleh karena itu,
apabila tel
ah disadari bahwa orang tidak dapat hidup sendirian, maka orang akan mampu mengurangi rasa
keakuan, mengikis kesombongan. Orang akan dapat hidup hormat menghormati. Orang akan
menghormati mereka yang patut memperoleh penghormatan. Orangtua misalnya, adalah
orang yang
menyebabkan seseorang ada di dunia ini. Mereka pula yang membesarkan dan mendidik anak
-
anaknya.
Oleh karena itu, sudah selayaknya mereka memperoleh penghormatan. Demikian pula dengan kakak yang
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
38
mungkin juga telah ikut berperan dalam menjaga dan
menghindarkan seseorang dari bahaya. Para guru
juga memiliki jasa dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada murid
-
muridnya. Serta masih sangat
banyak fihak lain lagi yang amat berjasa dan berpengaruh dalam kehidupan seseorang. Penghormatan
selain sebagai s
arana mengurangi keakuan, juga untuk membiasakan seseorang agar dapat mengenal budi
baik orang lain. Dalam
Anguttara Nikaya I, 87
dinyatakan bahwa terdapat dua tanda yang dimiliki oleh
orang yang sulit dijumpai di dunia ini. Kedua tanda itu adalah, pertama
, orang tersebut memiliki
kemampuan dan kemauan untuk memberikan pertolongan kepada fihak lain, tanpa mengharapkan imbalan
apapun juga. Kedua, orang tersebut memiliki kesadaran atas kebaikan yang telah pernah diterimanya dan
berusaha untuk berbuat baik kep
ada fihak tersebut dengan lebih besar daripada kebaikan yang pernah
diterimanya. Sesungguhnya, adalah satu perbuatan baik yang dapat cepat mengubah karma seseorang
apabila ia dapat mengingat jasa kebaikan orang lain, memberikan penghormatan yang selayaknya
serta
membalas kebaikan mereka.
5. VeyyĂŁvaccamaya: membantu dan bersemangat dalam melakukan hal yang patut
Perbuatan baik tidak berarti hanya berusaha menghindari kejahatan dengan melatih kemoralan.
Menghindari melakukan kejahatan adalah salah satu
bentuk perbuatan baik yang dikategorikan kebaikan
pasif. Sebutan ini diberikan karena sifat perbuatan baik tersebut dilakukan dengan usaha menahan diri
untuk tidak mengerjakan sesuatu (kejahatan). Selain itu, ada pula perbuatan baik secara aktif. Maksud
p
erbuatan baik jenis ini adalah seseorang didorong secara aktif dan terus menerus untuk melakukan
kebajikan sesuai dengan tuntunan Ajaran Sang Buddha. Banyak disebutkan dalam Dhamma tentang
anjuran melakukan kebajikan. Anjuran untuk menolong mahluk lain, be
rdana, mengembangkan kejujuran
serta masih banyak lagi bentuk perbuatan baik lainnya. Selain melakukan sendiri, seseorang hendaknya
juga mau menganjurkan orang lain melakukan kebajikan yang sama dengan yang telah dilakukannya
sendiri. Perbuatan ini dapat d
igolongkan sebagai berdana Dhamma. Bukankah dalam
Dhammapada
XXIV,21
disebutkan bahwa pemberian Dhamma dapat mengalahkan segenap pemberian lainnya?
6. PatidĂŁnamaya: melimpahkan jasa baik kita
Walaupun dalam Hukum Sebab dan Akibat disebutkan bahwa si
pelaku akan memperoleh buah
perbuatannya sendiri, perbuatan baik ternyata dapat dilimpahkan jasanya. Proses ini digambarkan dengan
seorang anak yang menuntut ilmu di kota lain memberitakan kabar kelulusannya kepada orangtuanya di
kota kelahirannya. Menden
gar kabar gembira ini, ayah dan ibunya tentunya akan merasakan kebahagiaan.
Padahal apabila direnungkan, si anak yang lulus tetapi mengapa orangtuanya juga merasakan
kebahagiaan? Inilah yang disebut
muditĂŁ citta
atau ikut bergembira atas kebahagiaan yang d
irasakan oleh
orang lain
(Vibhangga 272 & 642). MuditĂŁ citta
adalah termasuk melakukan salah satu karma baik lewat
pikiran. Oleh karena itu, kondisi sedemikian inilah yang dimunculkan oleh seorang umat Buddha apabila
melimpahkan jasa kebaikan yang dilakuka
nnya kepada sanak keluarganya yang sudah meninggal. Sanak
keluarga yang meninggal adalah seperti orangtua yang tinggal di luar kota (pada perumpamaan di atas),
mereka akan ikut berbahagia atas kebajikan yang dilimpahkan kepadanya. Kebahagiaan ini berarti
p
enimbunan karma baik lewat pikiran. Apabila pelimpahan jasa ini sering dilakukan, berarti makin
banyak memberi kesempatan para leluhur menanam kebajikan. Akibatnya, apabila karma baik yang
ditimbunnya sudah cukup, meninggallah mereka dari alamnya dan terla
hir di alam yang lebih baik.
Dengan demikian, pelimpahan jasa ini akan banyak memberikan manfaat. Pertama, manfaat didapat oleh
si pelaku kebajikan sendiri. Kedua, para leluhur pun ikut menikmati kebajikannya sehingga memberikan
kondisi terlahir di alam ya
ng lebih baik. Ketiga, si pelaku dapat mengurangi keakuan, sebab semua
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
39
kebajikan yang dilakukan diatasnamakan para leluhur. Keempat, obyek perbuatan baik yang menerima
kebajikan juga akan memperoleh kebahagiaan. Minimal empat manfaat itulah yang dapat dira
sakan dalam
proses pelimpahan jasa. Oleh karena itu, dengan seringnya melakukan pelimpahan jasa akan
mengkondisikan penanaman karma baik yang cukup banyak pula untuk semua fihak.
7. PattĂŁnumodĂŁnamaya: menerima dan bergembira atas perbuatan baik orang lain
Rasa berbahagia atas kebahagiaan yang didapatkan fihak lain,
muditĂŁ citta,
bukan hanya diperlukan
untuk para leluhur yang sudah meninggal saja. Sikap pikiran yang baik ini hendaknya juga dimiliki oleh
orang yang masih hidup. Hal ini karena sikap pik
ir ini jelas
-
jelas merupakan karma baik. Kebanyakan,
orang merasa iri hati dengan kebahagiaan orang lain ataupun tidak senang apabila orang lain mempunyai
kesempatan berbuat baik. Perasaan ini muncul karena sebagai orang yang belum mencapai kesucian,
seseo
rang masih diliputi oleh ketamakan, kebencian dan kegelapan batin. Oleh karena itu, agar
memperoleh ketenangan hidup dan sekaligus untuk menambah perbuatan baik, perasaan iri ini harus
dikendalikan bahkan kalau dapat dimusnahkan. Cara memusnahkannya adalah
dengan menyadari bahwa
segala suka dan duka yang dialami seseorang adalah buah dari perbuatannya sendiri. Kesempatan berbuat
baik dan kebahagiaan yang dialami seseorang adalah karena buah karma baiknya sendiri. Apabila
seseorang sering menambah kebajikan,
tentu saja kesempatan berbahagia semakin besar diperolehnya.
Sebaliknya, penderitaan yang dialami seseorang juga akibat buah karma buruknya. Dengan demikian,
seseorang hendaknya menghindari melakukan perbuatan yang tidak benar agar terhindar dari penderit
aan.
Dengan pengertian akan Hukum Sebab dan Akibat ini maka akan musnahlah iri hati dengan kebahagiaan
orang lain; serta merasa sombong ketika melihat penderitaan orang lain.
8. Dhammasavanamaya: mendengarkan Dhamma
Sebagai seorang umat Buddha, sese
orang wajib datang ke vihara mengikuti puja bhakti. Hal ini perlu
ditegaskan di sini karena banyak manfaat yang diperoleh dari mengikuti puja bhakti. Pertama, sewaktu
membaca ulang kotbah
-
kotbah Sang Buddha (Paritta) seseorang harus mempergunakan konsentra
si
pikirannya. Dengan konsentrasi, maka ia akan terbebas dari pikiran yang buruk. Selama membaca Paritta
pikirannya dapat diarahkan menuju ke kebaikan. Kedua, jika di kemudian hari seseorang dapat mengerti
makna Paritta yang dibacanya, ia akan memperoleh p
edoman hidup yang tiada taranya. Pedoman yang
sederhana, mudah dilaksanakan dan membimbing orang untuk lebih percaya diri. Ketiga, di vihara
seseorang diberi kesempatan untuk melatih meditasi yang merupakan salah satu sarana mengendalikan
pikiran. Dengan p
ikiran terkendali, niatan melakukan perbuatan jahat dapat dikikis sedangkan niat berbuat
baik dapat dipupuk. Keempat, di vihara seseorang memiliki kesempatan mendengarkan Ajaran Sang
Buddha. Seperti yang telah diketahui bahwa Dhamma yang telah dibabarkan d
engan sempurna oleh Sang
Buddha adalah merupakan bekal penting dalam kehidupan. Inti sari Ajaran Sang Buddha adalah
menumbuhkan sikap yang benar dalam menghadapi perubahan dalam hidup. Sebab orang sering kecewa
dengan kenyataan hidup. Segala sesuatu yang d
iinginkannya tidak tercapai, sebaliknya hal yang diperoleh
justru bukan yang diinginkannya. Mendengarkan Dhamma adalah ibarat memberikan tenaga tambahan
pada batin seseorang yang mungkin lelah dalam menghadapi kenyataan hidup. Mendengarkan Dhamma
menjadi p
enting karena banyak manfaat yang diperoleh. Kitab
Anguttara Nikaya III, 248
disebutkan
beberapa manfaat mendengarkan Dhamma, yaitu:
1.
Memperoleh pengertian yang belum pernah didengar sebelumnya
2.
Memperjelas hal yang telah pernah didengar sebelumnya
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
40
3.
Menghi
langkan keraguan tentang hal yang telah pernah didengar
4.
Memberikan pengertian yang benar
5.
Menimbulkan pikiran yang jernih, terang dan bahagia
Mengingat cukup banyak manfaat datang ke vihara mengikuti puja bhakti, maka jelas sudah tidak
akan ada lag
i keraguan untuk melaksanakannya. Bukankah setiap orang ingin meningkatkan kualitas
hidupnya? Bukankah orang ingin hidup lebih berbahagia daripada yang tengah dirasakan saat ini? Sering
pergi ke vihara adalah merupakan salah satu cara mencapainya. Ikut puj
a bhakti dan mendengarkan
Dhamma adalah cara efektif dan efisien untuk menambah kebajikan dan meningkatkan kualitas diri.
9. DhammadesanĂŁmaya: memberikan kotbah Dhamma
Ajaran Sang Buddha yang telah pernah di dapat baik dari vihara maupun dari sumber
-
sumber lainnya
hendaknya dilaksanakan dalam kehidupan sehari
-
hari. Pelaksanaan Dhamma ini jauh lebih penting
daripada hanya sekedar menghafalkannya. Dengan mencoba menjalankan Ajaran Sang Buddha, seseorang
akan dapat merasakan manfaat langsung. Merasakan
manfaat Dhamma secara nyata ini hendaknya
menjadi semangat untuk menceritakan dan mendorong orang lain agar melaksanakan Dhamma dengan
baik pula. Dalam pengertian Buddhis, seseorang dihargai bukan karena banyaknya Dhamma yang
dipelajari dan dimengerti teta
pi adalah dari seberapa banyak Dhamma yang telah dilaksanakan dalam
hidupnya.
Dhammapada VIII, 3
menyebutkan bahwa daripada seribu bait syair yang tidak bermanfaat,
adalah lebih baik satu kata Dhamma yang dapat memberikan kedamaian kepada pendengarnya. Jel
aslah di
sini bahwa kualitas lebih diutamakan daripada kuantitas. Oleh karena itu, bersedia menceritakan secara
sederhana pengalaman sendiri setelah melaksanakan Dhamma akan mendorong orang lain mengikutinya.
Menjadikan orang lain memiliki kesempatan menda
patkan pengalaman yang serupa, kebahagiaan.
Keberhasilan menganjurkan orang melaksanakan Dhamma adalah merupakan Dhamma dana yang diakui
akan memberikan buah terbesar melampaui segala bentuk pemberian lainnya. Banyak cara digunakan
untuk membagikan pengala
man melaksanakan Dhamma. Cerita bebas atau 'ngobrol' Dhamma, ceramah
resmi maupun hanya berupa 'kesaksian' Dhamma dalam forum terbatas, cetak buku Dhamma, membiayai
anak asuh ke sekolah Buddhis dsb. Adalah beberapa contoh cara memberikan Dhamma kepada oran
g
-
orang di lingkungan sendiri.
10. Ditthujukakamma: membenarkan pengertian salah
Perbuatan baik yang kesepuluh ini adalah kelanjutan dari uraian yang kesembilan di atas. Seseorang
pada saat akan membagikan pengalaman Dhamma, hendaknya memiliki tujua
n. Salah satu tujuan pokok
adalah untuk memberikan pengertian yang benar akan hakekat kehidupan. Cukup banyak pengertian yang
tidak tepat yang beredar dalam masyarakat. Misalnya, tentang pengertian nasib yang tidak dapat diubah
sama sekali atau cara mengub
ah nasib yang kurang sesuai. Akan menjadi tugas bersama para umat
Buddha untuk memberikan pengertian benar dengan berlandaskan cinta kasih. Kasihanilah mereka yang
masih belum mengerti. Janganlah mereka dimusuhi. Berilah kesempatan kepada mereka untuk
meni
ngkatkan kualitas dirinya. Dengan memiliki pola pikir demikian akan membangkitkan semangat para
umat Buddha membagikan Dhamma secara bijaksana dan penuh cinta kasih serta kesabaran. Tindakan ini
jelas
-
jelas akan menjadikan peningkatan karma baik kedua bela
h fihak secara maksimal. Pada akhirnya,
mereka yang memupuk karma baik yang terbanyaklah yang akan segera mendapatkan kebahagiaan.
Mendapatkan perubahan kualitas kehidupan.
Dewasa dalam Dhamma hal.
Sumber: Website Buddhis Samaggi Phala, http://www.samaggi
-
phala.or.id
41
KESIMPULAN
1.
Segala sesuatu di dunia tidaklah kekal, selalu berubah
2.
Perjalanan hidu
p seseorang juga dapat berubah
3.
Perubahan perjalanan hidup ditentukan oleh perbuatannya sendiri
4.
Ada, paling sedikit, sepuluh perbuatan yang dapat mengubah kehidupan
SEMOGA SEMUA MAHLUK BERBAHAGIA.

ketuhanan dalam agama buddha





KETUHANAN DALAM AGAMA BUDDHA

Oleh Bhikkhu Uttamo

Umat Buddha kadang dianggap masyarakat luas sebagai orang yang tidak bertuhan. Agama Buddha sering pula dikatakan sebagai agama yang tidak bertuhan. Bahkan, pada suatu pertemuan dengan para pemuka agama, saya pernah menerima pernyataan dari pemuka agama lain bahwa Agama Buddha tidak bertuhan. Menanggapi pernyataan yang bersifat tuduhan ini, saya jawab dengan pertanyaan lain: ”Manakah agama di Indonesia yang bertuhan?” Tentu saja para pemuka agama itu langsung tersentak kaget dan merah padam mukanya. Mereka seolah tidak percaya dengan pertanyaan saya tersebut. Namun, saya segera melanjutkan dengan keterangan bahwa istilah ‘tuhan’ sesungguhnya berasal dari Bahasa Kawi. Oleh karena itu, pengertian kata ‘tuhan’ terdapat dalam kamus Bahasa Kawi. Disebutkan dalam kamus tersebut bahwa ‘tuhan’ berarti penguasa atau tuan. Dan, karena di Indonesia tidak ada agama yang mempergunakan Bahasa Kawi sebagai bahasa kitab sucinya, lalu agama manakah di Indonesia yang bertuhan dan mencantumkan istilah ‘tuhan’ dalam kitab suci aslinya? Menyadari kebenaran tentang bahasa asal kitab suci masing-masing, barulah mereka menerima bahwa memang tidak ada istilah ‘tuhan’ dalam kitab suci mereka. Jika demikian dalam Tipitaka, kitab suci Agama Buddha, tentu juga tidak akan pernah ditemukan istilah ‘tuhan’ karena Tipitaka menggunakan Bahasa Pali yaitu bahasa yang dipergunakan di India pada jaman dahulu. Namun, tidak adanya istilah ‘tuhan’ dalam kitab suci Tipitaka tentunya tidak boleh dengan mudah dan sembarangan kemudian orang menyebutkan bahwa ‘Agama Buddha tidak bertuhan’. Salah pengertian dan penafsiran sedemikian sembrono tentunya berpotensi menjadi pemicu pertentangan antar umat beragama di Indonesia bahkan di berbagai belahan dunia.
Sebagai contoh sederhana tentang hal ini adalah penggunaan istilah ‘telunjuk’ untuk salah satu jari tangan manusia. Dalam kamus Bahasa Indonesia, kata ‘telunjuk’ pasti dengan mudah dapat diketemukan karena memang kata tersebut berasal dari Bahasa Indonesia. Namun, dalam kamus
Bahasa Inggris, tidak mungkin dapat dijumpai istilah ‘telunjuk’. Kenyataan yang bertolak belakang ini tentu saja tidak mengkondisikan orang secara sembarangan menyimpulkan bahwa semua orang yang berbahasa Inggris tidak mempunyai telunjuk. Sebuah kesimpulan yang aneh dan tidak masuk akal. Kesimpulan sembarangan semacam ini pasti akan menjadi bahan tertawaan orang banyak.
Sayangnya, pemahaman seperti ini tidak berlaku untuk konsep ketuhanan dalam Agama Buddha. Ketika Agama Buddha tidak pernah menyebutkan istilah ‘tuhan’ dalam berbagai upacara ritual, maka secara sembarangan, masyarakat telah ‘menuduh’ bahwa Agama Buddha tidak bertuhan. Padahal, dalam Agama Buddha yang menggunakan kitab suci berbahasa Pali, konsep ketuhanan yang dimaksud mempergunakan istilah Nibbana atau lebih dikenal secara luas sebagai Nirvana (Bahasa Sanskerta). Jadi, seseorang tidak akan pernah menemukan istilah ‘tuhan’ dalam Tipitaka, melainkan istilah ‘nibbana’. Nibbana inilah yang sering dibabarkan oleh Sang Buddha di berbagai kesempatan kepada bermacam-macam lapisan masyarakat. Nibbana ini pula yang menjadi tujuan akhir seorang umat Buddha, sama dengan berbagai konsep ketuhanan dalam agama lain yang juga menjadi tujuan akhir mereka masing-masing. Seperti telah diketahui bersama bahwa Ajaran Sang Buddha mengenal adanya tiga tujuan hidup umat Buddha yaitu pertama, mendapatkan kebahagiaan di dunia. Kedua, kebahagiaan karena terlahir di alam surga atau alam bahagia setelah meninggal dunia. Ketiga, kebahagiaan tertinggi yaitu Nibbana atau Nirvana yang dapat dicapai ketika seseorang masih hidup di dunia ataupun setelah ia meninggal nanti.
Kebahagiaan yang pertama adalah kebahagiaan duniawi yang dapat diwujudkan di dunia ini setelah seseorang mengenal dan melaksanakan Buddha Dhamma. Apabila setelah mengenal Dhamma, seseorang semakin susah hidupnya, maka berarti Dhamma yang lebih dikenal sebagai Agama Buddha itu belum memberikan manfaat baginya. Kebahagiaan tahap pertama ini diukur dengan adanya rasa cukup, paling tidak, untuk empat kebutuhan pokok paling mendasar yaitu pakaian, makanan, tempat tinggal serta sarana kesehatan. Pengertian ‘cukup’ yang dimaksudkan di sini tentu saja sangat relatif sifatnya. Cukup bagi seseorang mungkin saja kekurangan bagi orang lain. Oleh karena itu, dalam Dhamma, istilah ‘cukup’ ini diukur paling bawah atau secara minimal dari rasa cukup yang dimiliki oleh para bhikkhu. Dengan demikian, seorang umat yang mempunyai lebih daripada yang dimiliki bhikkhu, maka sesungguhnya ia sudah dapat disebut sebagai cukup. Kalaupun umat tersebut masih merasa tidak cukup, mungkin saja hal ini berhubungan dengan kebutuhan yang berbeda atau bahkan ketamakan yang dimiliki.
Para bhikkhu dalam menjalani hidup sebagai pertapa masih membutuhkan empat kebutuhan pokok yaitu jubah, makanan, tempat tinggal dan obat-obatan. Keperluan jubah seorang bhikkhu hanya satu set saja. Dengan demikian, jika seorang bhikkhu mampu hidup menggunakan satu set jubah selama bertahun-tahun, maka seorang umat yang memiliki lebih dari satu set pakaian, misalnya tujuh set untuk tujuh hari dalam seminggu, maka ia bisa dianggap telah cukup. Namun, apabila ia telah memiliki banyak sekali pakaian dan masih juga merasa belum cukup, maka hal ini lebih disebabkan oleh ketamakan yang dimilikinya.
Demikian pula dengan kebutuhan makanan. Kehidupan seorang bhikkhu ditopang dengan makanan yang diperoleh dari persembahan umat. Pada umumnya, seorang bhikkhu hanya makan sekali atau dua kali sebelum tengah hari. Oleh karena itu, jika seorang umat sudah mampu menyediakan diri dan keluarganya makanan lebih dari dua kali sehari, sesungguhnya ia sudah dapat dikatakan cukup. Namun, apabila ia masih merasa belum cukup ketika makanan yang ia miliki telah berlebihan, maka perasaan ini timbul sebagai akibat dari ketamakan yang ia miliki selama ini.
Kebutuhan tempat tinggal seorang bhikkhu dapat tercukupi dengan tinggal di dalam goa ataupun gubuk sederhana. Oleh karena itu, apabila seorang umat telah mampu memiliki satu unit rumah walaupun sederhana, sebenarnya ia telah dapat disebut cukup. Berlebihan dalam penyediaan rumah bisa dikatakan sebagai tanda ketamakan.
Akhirnya, kecukupan sarana kesehatan menjadi sumber kebahagiaan duniawi yang keempat setelah pakaian, makanan maupun tempat tinggal. Untuk menjaga kesehatan maupun mengobati penyakit, seorang bhikkhu sesuai dengan peraturan kebhikkhuan diperkenankan mempergunakan urine sendiri. Tradisi ini sebenarnya dimasa sekarang lebih dikenal dengan istilah ‘terapi urine’. Jadi, apabila seorang umat telah mampu membeli obat, walaupun generik, ia sesungguhnya sudah dapat disebut cukup. Namun, apabila ia berlebihan dalam pengadaan sarana kesehatan sehingga cenderung boros, maka ia termasuk telah dipengaruhi oleh nafsu ketamakan.
Terkait dengan tujuan hidup umat Buddha yang pertama yaitu hidup bahagia di dunia dengan kecukupan pakaian, makanan, tempat tinggal maupun sarana kesehatan, maka banyak sekali catatan uraian Dhamma Sang Buddha tentang mencari nafkah, mempertahankan dan meningkatkan kekayaan maupun upaya membina hidup rumah tangga bahagia dan harmonis. Dengan melaksanakan uraian Dhamma yang telah disampaikan oleh Sang Buddha dan dicatat dalam Kitab Suci Tipitaka, maka para umat Buddha diharapkan mempunyai pedoman hidup yang jelas serta pasti untuk bekerja dan berumah tangga. Dengan demikian, ia akan mendapatkan kecukupan materi, bahkan berlimpah dengan materi namun rumah tangga serta kondisi batin tetap bahagia.
Selanjutnya, tujuan hidup umat Buddha yang kedua setelah merasa cukup bahagia hidup di dunia adalah mengarahkan kehidupannya agar setelah meninggal dunia ia terlahir di alam surga. Tujuan terlahir di alam surga ini menjadi tujuan kedua agar memberikan kesempatan para umat Buddha membuktikan terlebih dahulu manfaat Ajaran Sang Buddha dalam kehidupan ini. Apabila memang benar ia telah memetik manfaat Buddha Dhamma dengan mendapatkan kebahagiaan duniawi, tentu akan tumbuh keyakinan yang kuat dalam dirinya kepada Ajaran Sang Buddha. Ia akan lebih bersemangat melaksanakan Dhamma agar ia terlahir di alam bahagia sebagai tujuan hidup yang berikutnya. Pembuktian mencapai kebahagiaan di dunia ini menjadi sangat penting karena pembuktian kelahiran di surga jauh lebih sulit dilakukan semasa seseorang masih hidup di dunia. Kelahiran di alam surga sering menjadi pengetahuan umum maupun kepercayaan membuta yang diperoleh dari berbagai kitab suci yang ada dalam masyarakat. Disini Buddha Dhamma berusaha memberikan bukti, bukan hanya sekedar janji.
Tidak adanya manfaat memiliki kepercayaan membuta tanpa bukti atas kelahiran di surga ini dapat diperjelas dengan perumpamaan cinta seorang pria terhadap gadis pujaannya. Tersebutlah sebuah kisah tentang seorang gadis yang cantik jelita. Kecantikannya telah terkenal di mana-mana. Setiap hari, banyak pemuda datang mengharapkannya sebagai istri. Mereka datang dengan membawa berbagai buah tangan sebagai penarik hati si gadis itu. Akhirnya, dari sekian banyak pria yang melamar, gadis tersebut memilih salah satu diantaranya. Ketika si pria yang diterima lamarannya ini bertanya, kapan mereka akan menikah. Si gadis menjawab, “Nanti setelah kita mati”. Sebuah jawaban yang aneh dan tidak ada gunanya. Ketika mereka mati, kapan mereka memiliki kesempatan untuk hidup dan berbahagia bersama? Tidak masuk akal memang. Sayangnya, jawaban semacam ini dianggap tidak aneh dan tetap layak dipercaya ketika seseorang mendapatkan janji tanpa bukti bahwa seseorang akan terlahir di surga setelah ia meninggal dunia. Justru karena untuk membuktikan terlebih dahulu, Buddha Dhamma memberikan kesempatan kepada mereka yang mau mempelajari dan melaksanakan Dhamma mendapatkan kebahagiaan duniawi sebelum mereka membicarakan kebahagiaan surgawi.
Adapun kebahagiaan surgawi yang dicapai setelah mendapatkan kebahagiaan duniawi dapat diperoleh para umat Buddha dengan mengkondisikan timbulnya kebahagiaan duniawi kepada mereka yang membutuhkan. Umat Buddha hendaknya sering melakukan kebajikan dengan membagikan kelebihan pakaian, makanan, tempat tinggal maupun sarana kesehatan yang telah ia miliki dan ia telah merasa cukup dengan hal itu. Disinilah peran rasa cukup yang mampu mengatasi ketamakan menjadi sangat penting. Dari tindakan ini pula dapat dibedakan pengaruh cukup atau tamak terhadap diri seseorang. Mereka yang dipengaruhi oleh ketamakan tidak akan pernah merasa cukup dan tidak ingin berbagi kepada mereka yang membutuhkannya. Sedangkan mereka yang merasa cukup tidak akan pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan untuk berbagi dan terus berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Dengan sering berbagi, maka umat pun terlatih untuk memperbanyak kebajikan melalui badan, ucapan serta pikiran. Banyaknya kebajikan yang telah dilakukan inilah yang akan menjadi jalan lebar serta lurus untuk seseorang terlahir di alam surga setelah kematiannya.
Akhirnya, karena seseorang telah mampu membuktikan pencapaian kebahagiaan duniawi dengan melaksanakan Dhamma, ia pun telah merasakan kebahagiaan karena mampu berbagi, maka tahap ketiga sebagai tujuan hidupnya adalah berusaha mencapai Nibbana atau Nirvana atau Tuhan Yang Mahaesa dalam kehidupan ini juga maupun kehidupan yang selanjutnya.
Untuk memahami konsep ketuhanan dalam Agama Buddha, perlu dimengerti terlebih dahulu bahwa dalam masyarakat pada umumnya terdapat dua cara pendekatan. Pertama, Tuhan dikenal melalui bentuk manusia. Oleh karena itu, tidak jarang dijumpai istilah “Tuhan melihat umatNya”, atau “Tuhan mendengar doa umatNya” serta masih banyak lainnya. Pendekatan kedua, Tuhan dikenal melalui sifat manusia. Misalnya, “Tuhan marah”, “Tuhan cemburu”, “Tuhan mengasihi”, “Tuhan adil”, serta masih banyak istilah sejenis lainnya. Berbeda dengan yang telah disampaikan, Ketuhanan dalam Agama Buddha tidak menggunakan kedua cara di atas. Agama Buddha menggunakan aspek ‘nafi’ atau penolakan atas segala sesuatu yang dapat dipikirkan oleh manusia. Jadi, pengertian Nibbanaatau Tuhan dalam Agama Buddha adalah “Yang tidak terlahirkan”, “Yang tidak menjelma”, “Yang tidak bersyarat”, “Yang tidak kondisi”. “Yang tidak terpikirkan”, serta masih banyak kata ‘tidak’ lainnya. Secara singkat, Tuhan atau Nibbana adalah mutlak, tidak ada kondisi apapun juga. Pendekatan yang berbeda ini sehubungan dengan ketidakmampuan bahasa manusia untuk menceritakan segala sesuatu bahkan hal sederhana yang ada di sekitar hidup manusia. Misalnya, seseorang tidak akan pernah mampu menceritakan rasa maupun bentuk durian kepada orang yang sama sekali belum pernah melihat durian. Sepandai apapun juga orang itu bercerita, si pendengar tetap mengalami kesulitan untuk membayangkannya, apalagi jika membahas mengenai bau durian yang khas. Pasti tidak mungkin terceritakan. Untuk itu, cara yang jauh lebih mudah menjelaskan hal ini adalah dengan membawa contoh durian asli untuk dikenalkan kepada si pendengar. Setelah melihat bendanya, mencium aromanya, si pendengar pasti segera menganggukkan kepada penuh pengertian.
Demikian pula dengan konsep ketuhanan dalam Agama Buddha. Apabila rasa, bentuk maupun warna durian yang mudah dijumpai saja tidak mampu diceritakan, maka tentunya kini sudah dapat dimengerti penyebab Dhamma mempergunakan istilah ‘tidak terpikirkan’ untuk menceritakan Nibbana. Hanya saja, menyebutkan ‘tidak terpikirkan’ bukan berarti tidak ada. Sama dengan kesulitan menceritakan rasa durian di atas; tidak bisa diceritakan bukan berarti tidak ada. Untuk menjelaskan durian, perlu dibuktikan sendiri. Untuk memahami Nibbana, perlu dijalani sendiri. Jalan yang harus ditempuh itu dikenal sebagai Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jalan Mulia Berunsur Delapan sesungguhnya hanya merupakan satu jalan saja. Namun, satu jalan ini terdiri dari delapan unsur yaitu Pengertian Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Daya Upaya Benar, Perhatian Benar dan Konsentrasi Benar. Jalan Mulia inilah yang diajarkan Sang Buddha ketika Beliau pertama kali mengajarkan Dhamma di dunia. Karena seorang umat Buddha harus melaksanakan dan menjalani sendiri Jalan Mulia Berunsur Delapan agar dapat memahami Ketuhanan Yang Mahaesa atau Nibbana, maka dalam Ajaran Sang Buddha dikenal istilah “datang dan buktikan” atau ehipassiko (Bhs. Pali).
Jalan Mulia Berunsur Delapan yang telah disebutkan di atas adalah merupakan salah satu unsur dari Ajaran Pokok Sang Buddha yang dikenal dengan Empat Kesunyataan Mulia. Seperti nama yang dipergunakan, Empat Kesunyataan Mulia terdiri dari empat kondisi yang pasti dialami oleh semua mahluk hidup. Kesunyataan pertama menyebutkan kenyataan bahwa hidup berisikan ketidakpuasaan. Ketidakpuasan ini disebabkan karena keinginan untuk selalu bertemu dan berkumpul dengan mereka yang dicintai dan keinginan untuk tidak berjumpa dengan mereka yang tidak disukai. Kesunyataan kedua menganalisa bahwa ketidakpuasan tersebut disebabkan oleh keinginan. Semakin kuat keinginan, semakin kuat pula ketidakpuasan yang dialami. Sebaliknya, semakin lemah keinginan, semakin lemah pula ketidakpuasan yang timbul dalam batin seseorang. Kesunyataan ketiga memberikan penalaran bahwa terkendalinya keinginan akan menyebabkan hilangnya ketidakpuasan sehingga seseorang mencapai Nibbana. Dan, kesunyataan keempat memberikan cara atau satu jalan yang memiliki delapan unsur untuk mengendalikan keinginan serta melenyapkan ketidakpuasan. Agar mendapatkan gambaran yang lebih jelas, maka masing-masing kesunyataan mulia ini akan sepintas dibahas secara umum.
Kesunyataan Mulia yang pertama menyebutkan bahwa hidup berisikan ketidakpuasan. Ketidakpuasan ini muncul karena dalam kehidupan selalu terkondisi untuk berpisah dengan segala hal yang dicinta dan bertemu dengan segala hal yang tidak disuka. Maksud dari segala hal yang dicinta dan tidak disuka ini dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, pengertian tersebut dapat meliputi orang, benda, suasana dsb. Misalnya, seseorang pada mulanya bisa saja duduk bersila di lantai dengan nyaman, namun pada saat berikutnya ia mungkin merasakan kesemutan yang menyakitkan. Perasaan ini timbul karena ia telah berpisah dengan kondisi yang dicinta yaitu nyaman duduk bersila di lantai dan bertemu dengan kondisi yang tidak dicinta yaitu rasa sakit akibat kesemutan. Demikian pula dengan rasa tidak nyaman akibat lapar. Kondisi ini timbul akibat berpisah dengan yang dicinta yaitu rasa tidak lapar dan bertemu dengan kondisi yang tidak disuka yaitu rasa lapar. Jadi, kondisi bertemu dengan yang tidak disuka dan berpisah dengan yang disuka ini selalu muncul berbarengan bagaikan dua sisi tangan yang terlihat berbeda apabila dipandang dari dua arah. Namun, kedua perbedaan sudut pandang ini tetap saja melihat satu bagian yang sama yaitu telapak tangan.
Sang Buddha mengerti dengan jelas bahwa sumber ketidakpuasan yang dialami ini adalah dari keinginan yang tidak tercapai untuk selalu bertemu dengan yang dicinta dan tidak bertemu dengan yang tidak disuka. Oleh karena itu, Kesunyataan Mulia yang kedua menyebutkan bahwa keinginan adalah sumber ketidakpuasan. Semakin kuat keinginan seeorang untuk mempertahankan kondisi yang dicintai, maka semakin besar pula rasa ketidakpuasan yang ia alami. Demikian pula, semakin kuat penolakan terhadap pertemuan dengan kondisi yang tidak menyenangkan akan memperberat rasa ketidakpuasan yang timbul dalam batinnya. Dalam contoh di atas, semakin seseorang gelisah atas rasa kesemutan yang ia alami, maka semakin memuncak rasa ketidakpuasannya terhadap kondisi tubuhnya yang terbatas tersebut. Semakin seseorang menolak rasa lapar yang memang sudah timbul, semakin parah pula rasa lapar menyerangnya.
Oleh karena itu, pembabaran Sang Buddha selanjutnya adalah Kesunyataan Mulia yang ketiga bahwa ketidakpuasan dapat diatasi apabila keinginan dapat dikendalikan. Pengendalian keinginan ini dicapai dengan pemahaman bahwa hidup adalah proses yang berkesinambungan. Tidak ada kekekalan di alam semesta ini. Hanya ketidakkekalan itulah yang kekal. Dengan demikian, ada pertemuan pasti ada perpisahan. Ketika seseorang bertemu dengan kondisi nyaman duduk bersila di lantai, maka seiring dengan berjalannya waktu, ia pun pasti akan bertemu dengan kondisi tidak nyaman duduk di lantai yaitu kesemutan. Demikian pula ketika ia merasa nyaman ‘bertemu’ dengan rasa tidak lapar, maka suatu saat sesuai dengan berjalannya waktu, ia pasti akan ‘bertemu’ dengan rasa lapar. Segala bentuk keinginan yang menimbulkan ketidakpuasan tersebut akan dapat diatasi apabila seseorang mampu memahami ketidakkekalan ini.
Akhirnya, sebagai Kesunyataan Mulia yang Keempat, diuraikan Sang Buddha tentang Jalan Mulia Berunsur Delapan yang menjadi kunci pelaksanaan seseorang untuk dapat mengendalikan keinginannya. Pelaksanaan Jalan Mulia inilah yang seharusnya dikerjakan dengan tekun dan penuh semangat oleh para umat serta simpatisan Buddhis agar hidupnya mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan yang bisa diperoleh, seperti yang telah diuraikan sebelumnya, adalah kebahagiaan duniawi, kemudian, kebahagiaan setelah meninggal dunia dengan terlahir di salah satu alam surga atau bahkan tentu saja kebahagiaan tertinggi yaitu terbebas dari kelahiran kembali yakni ketika seseorang mencapai Nibbana atau Tuhan Yang Mahaesa dalam Agama Buddha.
Dasar pelaksanaan Jalan Mulia Berunsur Delapan diawali dengan latihan kemoralan. Paling tidak, sebagai awal, terdapat lima latihan kemoralan yang dapat dilakukan yaitu upaya menghindari tindakan pembunuhan, pencurian, perjinahan, bohong dan mabuk-mabukan. Latihan mengendalikan diri terhadap lima perilaku tidak benar ini mengkondisikan seseorang untuk selalu menyadari segala tingkah laku badan dan ucapan yang sedang dikerjakan. Semakin sering seseorang mampu mengembangkan kesadaran atas tindakan serta ucapannya, maka ia pun semakin terkondisi untuk memperhatikan serta menyadari segala bentuk gerak gerik pikiran yang menjadi sumber tindakan badan maupun ucapan yang dilakukannya. Perhatian pada gerak gerik pikiran inilah yang akan mengkondisikan seseorang menyadari bahwa kenyataan hidup adalah saat ini. Secara bertahap dengan mempunyai kesadaran ini, seseorang akan semakin berkurang kemelekatannya pada masa lampau maupun masa depan. Masa lampau hanyalah tinggal kenangan sebagai bagian dari upaya pembelajaran untuk diperbaiki maupun ditingkatkan di masa sekarang. Sedangkan masa depan masih berupa rencana maupun impian yang harus segera dilaksanakan sedikit demi sedikit di masa sekarang. Dengan demikian, masa sekarang menjadi masa yang sangat penting sekali untuk selalu meningkatkan kualitas diri secara lahir maupun batin. Pemahaman yang kuat bahwa kenyataan hidup adalah saat ini menjadikan seseorang secara perlahan-lahan akan berkurang kemelekatannya. Batinnya menjadi tenang seimbang menghadapi segala perubahan yang dijumpainya. Bahkan, pada akhirnya ia mampu membebaskan diri dari kemelekatan sehingga batinnya pun terbebas dari ketamakan, kebencian serta kegelapan. Kegelapan batin yang dimaksudkan di sini adalah ketidaktahuan seseorang bahwa kenyataan hidup adalah tidak kekal dan hanya merupakan proses berkesinambungan. Dengan demikian, ia tidak lagi melekat dengan proses yang terus menerus berubah ini. Pengertian inilah yang membawa seseorang terbebas dari kelahiran kembali atau mencapai Nibbana yang tidak bisa diceritakan karena kemutlakannya. Sama sekali tidak bersyarat. Hanya saja, walaupun tidak bisa diceritakan, ternyata Nibbana mampu dicapai oleh mereka yang dengan sungguh-sungguh melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan.
Demikianlah Nibbana atau Tuhan Yang Mahaesa dalam Agama Buddha yang tidak bisa diceritakan namun bisa dicapai dengan melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan. Tentu saja akan timbul pertanyaan dalam diri para umat serta simpatisan Buddhis bahwa apabila Nibbana atau Tuhan dalam Agama Buddha tidak memiliki konsep seperti pemahaman umum yang dikenal dalam masyarakat, lalu bagaimanakah umat Buddha seharusnya berdoa?
Banyak orang sering menyebutkan secara keliru bahwa umat Buddha melakukan sembahyang di vihara. Untuk itu, sebaiknya harus dimengerti terlebih dahulu istilah ‘sembahyang’ yang sebenarnya terdiri dari dua suku kata yaitu ‘sembah’ berarti menghormat dan ‘hyang’ yaitu dewa. Dengan demikian, ‘sembahyang’ berarti menghormat, menyembah para dewa. Apabila ‘sembahyang’ diartikan seperti itu, maka umat Buddha sesungguhnya tidak melakukan sembahyang. Umat Buddha bukanlah umat yang menghormat maupun menyembah para dewa. Umat Buddha mengakui keberadaan para dewa dewi di surga, namun umat tidak sembahyang kepada mereka. Umat Buddha juga tidak ‘berdoa’ karena istilah ini mempunyai pengertian ada permintaan yang disebutkan ketika seseorang sedang berdoa. Umat Buddha tentu saja tidak pernah meminta kepada arca Sang Buddha maupun kepada fihak lain. Keterangan ini jelas menegaskan bahwa umat Buddha bukanlah penyembah berhala karena memang tidak pernah meminta-minta apapun juga kepada arca Sang Buddha, arca yang lain bahkan kekuatan di luar manusia lainnya. Daripada disebut ‘sembahyang’ maupun ‘doa’, umat Buddha lebih sesuai dinyatakan sedang melakukan ‘puja bakti’. Istilah puja bakti ini terdiri dari kata ‘puja’ yang bermakna menghormat dan ‘bakti’ yang lebih diartikan sebagai melaksanakan Ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam melakukan puja bakti, umat Buddha melaksanakan tradisi yang telah berlangsung sejak jaman Sang Buddha masih hidup yaitu umat datang, masuk ke ruang penghormatan dengan tenang, melakukan namakara atau bersujud yang bertujuan untuk menghormat kepada lambang Sang Buddha, jadi bukan menyembah patung atau berhala. Kebiasaan bersujud ini dilakukan karena Sang Buddha berasal dari India. Sudah menjadi tradisi sejak jaman dahulu di berbagai negara timur termasuk India bahwa ketika seseorang bertemu dengan mereka yang dihormati, maka ia akan melakukan sujud yaitu menempelkan dahi ke lantai sebagai tanda menghormati mereka yang layak dihormati dan menunjukkan upaya untuk mengurangi keakuan sendiri.
Karena bersujud di depan altar ataupun arca Sang Buddha hanyalah bagian dari tradisi, maka para umat dan simpatisan boleh saja tidak melakukannya apabila batinnya tidak berkenan untuk melakukan tindakan itu. Tidak masalah, karena sebentuk arca tidak mungkin menuntut dan memaksa seseorang yang berada di depannya untuk bersujud. Namun, dengan mampu bersujud, maka seseorang akan mempunyai kesempatan lebih besar untuk berbuat baik dengan badannya. Ia belajar bersikap rendah hati.
Setelah memasuki ruangan dan bersujud, umat Buddha dapat duduk bersila di tempat yang telah disediakan. Umat kemudian secara sendiri atau bersama-sama dengan umat yang ada dalam ruangan tersebut membaca paritta yaitu mengulang kotbah Sang Buddha. Diharapkan dengan pengulangan kotbah Sang Buddha, umat mempunyai kesempatan untuk merenungkan isi uraian Dhamma Sang Buddha serta berusaha melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, semakin lama seseorang mengenal Dhamma, semakin banyak ia melakukan puja bakti, semakin banyak kotbah Sang Buddha yang diulang, maka sudah seharusnya ia semakin baik pula dalam tindakan, ucapan maupun pola pikirnya.
Salah satu contoh yang paling mudah ditemukan adalah kebiasaan umat membaca Karaniyametta Sutta di vihara. Sutta atau kotbah Sang Buddha ini berisikan cara memancarkan pikiran penuh cinta kasih kepada semua mahluk di setiap waktu, ketika seseorang sedang berdiri, berjalan, berbaring, berdiam selagi ia tidak tidur. Diharapkan, dengan sering membaca sutta tersebut seseorang akan selalu berusaha memancarkan pikiran cinta kasih kepada lingkungannya. Ia hendaknya menjadi orang yang lebih sabar dari sebelumnya. Disebutkan pula dalam salah satu bait sutta tersebut bahwa jangan karena marah dan benci mengharapkan orang lain celaka. Pengertian baris cinta kasih ini sungguh sangat mendalam dan layak dilaksanakan. Dengan mampu melaksanakan satu baris ini saja dalam kehidupan, maka batin seseorang akan menjadi lebih tenang dan bahagia walaupun berjumpa dengan kondisi yang tidak sesuai keinginannya. Ia akan menjadi orang yang mampu mengendalikan dirinya. Dengan demikian, setiap kali ia hadir dan berkumpul maka ia akan selalu membawa kebahagiaan untuk lingkungannya.
Itulah makna sesungguhnya dari pengertian ‘puja bakti’ yaitu menghormat dan melaksanakan Ajaran Sang Buddha. Sekali lagi, umat Buddha tidak berdoa, juga tidak sembahyang. Namun, sebagai manusia biasa, adalah wajar apabila umat Buddha mempunyai keinginan atau permintaan, misalnya ingin banyak rejeki, ingin kaya dsb. Jika demikian, bagaimanakah yang dilakukan oleh umat Buddha agar keinginan atau harapan yang ia miliki tersebut dapat tercapai?
Untuk mencapai keinginan yang dimiliki, secara tradisi umat Buddha disarankan untuk melakukan kebajikan terlebih dahulu dengan badan, ucapan dan juga pikiran. Setelah berbuat kebaikan, ia dapat mengarahkan kebajikan yang telah dilakukan tersebut agar memberikan kebahagiaan seperti yang diharapkan. Upaya mengarahkan buah kebajikan ini secara tradisi biasanya dilakukan dalam tiga tahap. Seperti halnya menulis surat tentu membutuhkan kalimat pembuka sebelum mengutarakan maksud atau isi yang sesungguhnya sebelum ditutup dengan kalimat penutup. Demikian pula kalau mendatangi rumah seseorang, maka biasanya diawali dengan pembicaraan yang santai, ramah dan penuh persaudaraan sebelum membahas masalah yang sesungguhnya. Setelah itu, barulah acara ramah tamah ditutup kembali dengan hal yang ringan sebelum berpamitan pulang. Demikian pula ketika umat Buddha menyampaikan keinginan ataupun harapannya dalam upacara ritual Buddhis. Pada mulanya dibuka dengan mengingat Ajaran Sang Buddha. Disebutkan ‘mengingat’ karena untuk membedakan dengan istilah ‘memuji’. Dalam ritual Buddhis, tidak dilakukan pujian kepada Sang Buddha karena tindakan tersebut tidak bermanfaat. Sang Buddha sudah tidak terlahirkan kembali. Dengan demikian, pujian tidak lagi memberikan pengaruh kepada Beliau. Oleh karena itu, ingatan pada kotbah atau Ajaran Sang Buddha dirumuskan sebagai, “Sesuai dengan benih yang ditabur, demikian pula buah yang akan dituai. Menanam kebajikan akan tumbuh kebahagiaan.” Perenungan atau ingatan ini berhubungan dengan Hukum Sebab dan Akibat atau lebih dikenal dengan Hukum Kamma. Setelah dibuka dengan perenungan, selanjutnya diungkapkan harapan atau keinginan yang dimiliki dengan menyebutkan, “Semoga dengan semua kebaikan yang telah saya lakukan sampai saat ini akan membuahkan kebahagiaan dalam bentuk…… “ yang dapat diisi, misalnya : banyak rejeki, panjang umur, sehat kuat dan bersemangat, serta masih banyak lagi isian sesuai dengan keinginan yang dimiliki.
Dengan diawali perenungan pada hukum sebab dan akibat, maka seseorang akan lebih menyadari bahwa apabila ia menginginkan kebahagiaan, ia hendaknya melakukan kebajikan terlebih dahulu kepada fihak lain. Seperti halnya tanam padi akan panen padi, demikian pula apabila seseorang menanam kebajikan, ia pun akan memetik kebahagiaan. Jika ia menanam pelepasan mahluk dari penderitaan, maka ia pun akan terlepas dari berbagai kesulitan yang sedang dihadapi. Demikian seterusnya. Apabila telah cukup banyak kebajikan yang dilakukan, maka tentu kebahagiaan seperti yang diharap pun akan dapat terwujud. Kalaupun masih ada keinginan yang belum terwujud, ia akan selalu bersemangat untuk melakukan kebajikan karena ia telah menyadari bahwa semua kebajikan yang ia lakukan tidak akan pernah hilang begitu saja.
Apabila ungkapan permintaan itu telah dibuka dan didahului dengan perenungan pada Hukum Kamma atau Hukum Sebab dan Akibat, maka sebagai penutup umat Buddha dapat mengucapkan berkali-kali kalimat, “Semoga semua mahluk berbahagia’ yang artinya, ia sendiri adalah mahluk, semoga ia bahagia dengan tercapai segala harapannya. Keluarganya juga mahluk, semoga keluarganya bahagia sesuai dengan kondisi kamma mereka masing-masing. Bahkan, musuh-musuhnya pun adalah mahluk, semoga mereka semua berbahagia sesuai dengan keinginan yang mereka miliki. Dengan mengucapkan kalimat penutup seperti ini, maka umat Buddha diarahkan untuk mengingat kebahagiaan fihak lain selain diri sendiri. Kebahagiaan kepada fihak lain ini diwujudkan dengan memancarkan pikiran cinta kasih kepada semua mahluk, bahkan kepada para musuhnya. Sesungguhnya, dengan seseorang mampu mengharapkan semua mahluk berbahagia, maka dirinya sendiri pun akan mendapatkan kebahagiaan sesuai dengan harapan yang telah dimiliki selama ini.
Jadi, secara lengkap, rumusan ungkapan permintaan ataupun ‘doa’ dalam tradisi Buddhis ini terdiri tiga tahap seperti yang telah diuraikan di atas yaitu: “ Sesuai dengan benih yang ditabur demikian pula buah yang dituainya, menanam kebajikan maka akan memperoleh kebahagiaan. Semoga dengan semua kebaikan yang telah saya lakukan sampai saat ini akan membuahkan kebahagiaan dalam bentuk ….. (diisi: panjang umur, sehat, sukses dsb.). Semoga semua mahluk berbahagia.” Dengan rumusan ‘doa’ seperti ini, umat Buddha akan selalu bersemangat untuk mengembangkan kebajikan melalui badan, ucapan dan juga pikiran karena ia sadar bahwa kebahagiaan akan dapat dirasakan melalui upaya kebajikan yang ia kerjakan. Ia tidak akan pernah menyalahkan fihak lain atas penderitaan yang ia alami. Sebaliknya, ia pun tidak akan menganggap ada fihak lain yang membuatnya bahagia. Suka duka adalah bagian dari buah perbuatan yang ia lakukan selama ini. Ia akan selalu bersemangat untuk melaksanakan lima latihan kemoralan yaitu berusaha tidak melakukan pembunuhan, pencurian, perjinahan, bohong maupun mabuk-mabukan. Ia juga akan tekun melaksanakan latihan pengembangan kesadaran atau meditasi. Dengan demikian, ia akan selalu sadar pada saat ia sedang bertindak, berbicara maupun berpikir. Kesadaran yang penuh akan hidup saat ini akan mengkondisikan seseorang mencapai kebebasan dari ketamakan, kebencian serta kegelapan batin. Pada tingkat inilah seseorang disebut mencapai Nibbana atau Tuhan dalam Agama Buddha. Jadi, pencapaian Tuhan atau Nibbana ini tidak harus dialami ketika seseorang telah meninggal, namun juga bisa dalam kehidupan ini juga. Sekarang juga.
Sebagai kesimpulan, sudah jelas sekarang bahwa tujuan hidup seorang umat Buddha adalah untuk mencapai kebahagiaan. Dalam Dhamma disebutkan adanya tiga tujuan hidup yaitu berbahagia di dunia ini, berbahagia setelah kehidupan ini yaitu mencapai alam surga atau alam bahagia lainnya. Kemudian, sebagai tujuan hidup yang tertinggi adalah kebahagiaan Nibbana atau Tuhan Yang Mahaesa. Tentu saja, Nibbana bukan surga atau alam, namun terbebas dari kelahiran kembali yang dapat dicapai dalam kehidupan ini juga. Agar seseorang dapat mencapai tujuan hidup yang tertinggi yaitu Nibbana, maka ia hendaknya selalu berusaha melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan secara terus menerus. Adapun Jalan Mulia Berunsur Delapan itu adalah Pandangan Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, Perbuatan Benar, Mata Pencaharian Benar, Daya Upaya Benar, Perhatian Benar dan Konsentrasi Benar. Dengan melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan ini seseorang paling tidak akan merasakan kebahagiaan dalam hidup ini. Dan, apabila timbul keinginan atau harapan, maka ia dapat mengucapkan tekad yang terdiri dari tiga bagian yaitu pembuka, isi serta penutup seperti yang telah diuraikan di atas.
Cara mengungkapkan harapan atau keinginan dalam tiga bagian tersebut dapat dipergunakan dimanapun seseorang berada tanpa menimbulkan pertentangan maupun permusuhan dengan fihak lain. Cara tersebut dapat dipergunakan di berbagai tempat ibadah Buddhis maupun bukan.
Inilah yang perlu disampaikan pada kesempatan ini. Semoga uraian Dhamma ini akan memberikan manfaat serta kebahagiaan untuk para umat dan simpatisan Buddhis.
Semoga Anda semua berbahagia.
Semoga semua mahluk selalu berbahagia.
Semoga demikianlah adanya.

TANYA JAWAB:
Tanya 01 :
Apakah dalam Agama Buddha ada surga dan neraka, seperti dalam agama lain?

Jawab :
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa terdapat tiga tujuan hidup seorang umat Buddha yaitu bahagia di dunia, kemudian, bahagia setelah kehidupan ini yaitu terlahir di alam surga dan juga bahagia karena terbebas dari kelahiran kembali ketika seseorang telah mencapai Nibbana. Dengan demikian, dalam Agama Buddha pasti ada surga maupun neraka. Bahkan, surga dalam Agama Buddha lebih dari satu tingkat. Banyaknya jenis alam surga ini karena tingkat kebajikan yang dilakukan seseorang tidaklah sama dengan kebajikan yang dilakukan oleh orang lain. Jadi, mereka yang lebih banyak melakukan kebajikan akan terlahir di surga yang lebih tinggi dan lebih lama daripada mereka yang kurang kebajikannya. Hal ini hampir sama dengan orang yang mempunyai uang lebih banyak tentunya akan mempunyai kesempatan membeli kendaraan lebih banyak pula daripada mereka yang mempunyai uang lebih sedikit. Kendaraan yang mampu dibeli juga berbeda fasilitasnya. Semakin kaya seseorang, tentu semakin bagus pula fasilitas kendaraan yang dapat ia peroleh. Jadi, para prinsipnya, perbanyak kebajikan dengan badan, ucapan serta pikiran maka seseorang akan terlahir di surga yang lebih baik daripada mereka yang kurang kebajikannya.
Sebaliknya, selain alam surga sebagai buah kebajikan yang dilakukan seseorang semasa hidupnya, maka tentu terdapat pula alam menderita atau alam neraka yang merupakan buah perilaku buruk yang pernah dijalani selama hidup yang sebelumnya. Alam neraka juga mempunyai banyak tingkat. Dengan demikian, semakin jahat perilaku seseorang, semakin buruk pula kondisi neraka yang ia jumpai. Hal ini sama dengan penjahat yang melakukan banyak kejahatan akan mendapatkan hukuman yang lebih berat daripada penjahat yang bentuk kejahatannya tidak terlalu berat.

Tanya 02 :
Setelah manusia meninggal masih adakah surga atau neraka yang kekal? Bagaimana kita bisa tahu jalan menuju ke surga / Nibbana? Apa yang dijadikan patokan bahwa jalan kita yang dilewati itu benar?

Jawab :
Dalam pengertian Buddhis, seseorang yang meninggal akan segera terlahir kembali di alam surga atau neraka sesuai dengan buah kamma yang ia miliki. Mereka yang mempunyai banyak kamma baik akan terlahir di surga atau alam bahagia. Mereka yang banyak mempunyai kamma buruk akan terlahir di alam menderita, termasuk alam neraka. Namun, alam surga maupun neraka dalam Dhamma disebutkan tidak kekal. Oleh karena itu, ketika buah kamma yang mendukung kelahiran di suatu alam telah habis, maka mahluk itu akan meninggal dari alam tersebut untuk terlahir kembali di alam yang sesuai.
Dan, untuk mengetahui jalan ke surga maupun Nibbana, dalam uraian di atas sudah dijelaskan bahwa Ajaran Sang Buddha memberikan bukti dengan menguraikan cara-cara untuk mencapai kebahagiaan di dunia. Pada pokoknya disebutkan bahwa segala suka dan duka hanyalah akibat permainan pikiran sendiri. Pikiran akan bahagia ketika keinginan tercapai, sebaliknya pikiran menderita ketika keinginan tidak tercapai. Dengan memahami kenyataan ini, seseorang hendaknya melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan agar ia mampu mengendalikan keinginan. Kemampuan untuk mengendalikan keinginan inilah yang akan menimbulkan kebahagiaan dalam batin seseorang. Kebahagiaan dalam batin ini juga akan mengkondisikan kebahagiaan di lingkungannya. Kebahagiaan di lingkungan akan mampu mewujudkan kebahagiaan di dunia. Setelah seseorang mampu membuktikan kebenaran Ajaran Sang Buddha untuk mencapai kebahagiaan di dunia, maka ia tentunya akan lebih yakin bahwa Dhamma Ajaran Sang Buddha mampu juga memberikan jalan hidup bahagia dengan terlahir di alam surga. Ia juga akan yakin bahwa pelaksanaan Buddha Dhamma akan mengkondisikan seseorang mencapai kesucian atau Nibbana dalam kehidupan ini juga. Jadi, kunci keyakinan pada Buddha Dhamma adalah kesempatan untuk membuktikan terlebih dahulu kebenaran Dhamma dalam kehidupan ini juga.

Tanya 03 :
Apakah Agama Buddha percaya adanya malaikat dan hantu?

Jawab :
Malaikat atau lebih dikenal dalam istilah Buddhis sebagai dewa dan dewi adalah para penghuni surga. Sedangkan hantu adalah mahluk halus dalam Agama Buddha disebutkan ada beberapa jenis. Ada mahluk yang disebut sebagai setan kelaparan, ada juga yang disebut setan raksasa maupun berbagai jenis lainnya. Oleh karena itu, sudah jelas bahwa Agama Buddha mengakui keberadaan para dewa dan dewi serta para mahluk halus. Meskipun demikian, umat Buddha sama sekali tidak dianjurkan untuk meminta maupun memuja mereka. Umat Buddha hanya mengetahui saja bahwa mereka adalah bagian dari para mahluk yang terlahir di berbagai alam kelahiran.

Tanya 04 :
Apakah Agama Buddha terdapat manusia pertama?

Jawab :
Sebenarnya tujuan Dhamma Ajaran Sang Buddha lebih cenderung dipergunakan untuk mengendalikan pikiran, ucapan dan perbuatan. Dan, kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri ini sama sekali tidak ada hubungan langsung dengan pengetahuan tentang manusia pertama. Tanpa mengetahui manusia pertama sekalipun, seseorang bisa saja mencapai kesucian. Namun, dalam salah satu kesempatan, kepada mereka yang telah mempunyai kemampuan batin dari latihan meditasi yang tekun sehingga mampu mengingat berkali-kali muncul dan kiamatnya bumi, barulah Sang Buddha menceritakan terjadinya manusia pertama. Cerita Sang Buddha hanya kepada mereka yang mampu mengingat terbentuk dan kiamatnya bumi ini agar ada orang yang bisa menyaksikan serta mengingat sendiri peristiwa yang disampaikan Sang Buddha. Tentu saja, sikap Sang Buddha ini berhubungan dengan pengertian dasar dalam Dhamma yaitu ‘datang dan buktikan’, bukan ‘datang dan percaya saja’.
Dalam kisah yang disampaikan oleh Sang Buddha, manusia pertama bukan hanya satu atau dua orang saja, melainkan banyak. Mereka bukan hasil ciptaan. Mereka merupakan hasil sebuah proses panjang bersamaan dengan proses terjadinya bumi beserta planet-planetnya. Seperti diketahui bahwa dalam pengertian Dhamma, tata surya seperti yang dihuni manusia saat ini bukan hanya satu melainkan lebih dari satu milyar jumlahnya. Masing-masing tata surya ketika kiamat akan terbentuk lagi. Pada saat terjadinya bumi ini, datanglah mahluk-mahluk berupa cahaya dari tata surya yang lain. Mereka berproses bersamaan dengan proses pembentukan tata surya ini. Dalam proses tersebut mereka tertarik mencicipi dan mengkonsumsi sari bumi, sari tumbuhan dsb. Ketertarikan mereka menyebabkan tubuh cahaya menjadi redup dan mulai terjadilah proses pembentukan tubuh, jenis kelamin, persilangan serta keturunan. Dan, sekali lagi, manusia pertama karena merupakan hasil proses seperti ini, jumlahnya tidak bisa ditentukan lagi. Sangat banyak. Mereka berproses dan berevolusi secara lambat sampai membentuk manusia sekarang. Hanya saja, dalam Dhamma juga tidak membenarkan maupun menolak pandangan ilmu pengetahuan modern bahwa manusia berasal dari monyet. Sikap ini sehubungan dengan kepastian bahwa asal manusia dari monyet ataupun bukan sama sekali tidak ada kaitan dengan keberhasilan seseorang untuk mencapai kesucian ataupun Nibbana.

Tanya 05 :
Alam manusia di dalam Agama Buddha dikatakan sebagai alam yang paling baik untuk mencapai kesempurnaan. Kenapa demikian?

Jawab :
Dalam pandangan Dhamma, hidup sebagai manusia mempunyai kesempatan lebih besar untuk menyaksikan ketidakkekalan. Manusia mudah bertemu dengan yang tidak disuka dan berpisah dengan yang disuka. Kejelasan akan ketidakkekalan ini mempermudah manusia untuk membuktikan kebenaran Kesunyataan Mulia yang pertama yaitu hidup berisikan ketidakpuasan. Dengan menyadari Kesunyataan Mulia yang pertama, maka manusia akan mampu merenungkan bahwa segala sumber ketidakpuasan adalah keinginan. Dengan demikian, timbul dalam batinnya semangat untuk melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan sebagai Jalan mengatasi ketidakpuasan. Pelaksanakan Jalan Mulia inilah yang akan dapat membebaskan manusia dari kemelekatan sehingga ia dapat mencapai Nibbana atau konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha. Kemungkinan besar manusia mencapai kesucian dalam kehidupan inilah yang mendasari pengertian bahwa terlahir sebagai manusia adalah sebuah kondisi yang ideal untuk mencapai kesempurnaan.
Sedangkan di berbagai alam surga maupun alam menderita karena jangka waktu bahagia dan menderita berlangsung sangat lama maka para mahluk di sana tidak mampu melihat ketidakkekalan. Mereka sulit menyadari adanya perubahan. Dengan demikian, merekapun sulit untuk memahami Empat Kesunyataan Mulia dan mencapai kesucian di alam surga maupun alam menderita.
Tanya 06 :
Saya setuju bahwa Nirwana bisa dijumpai dalam kehidupan sekarang. Apakah mungkin bila tidak bertemu sekarang, orang tidak akan mencapai Nirwana?
Jawab :
Nirvana atau Nibbana memang tidak harus dicapai dalam satu kehidupan ini. Kalaupun seseorang masih belum mampu mencapainya dalam kehidupan ini, ia hendaknya terus menerus melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan, sehingga dalam satu masa kehidupan yang akan datang, ia mungkin baru akan mencapainya. Namun, sebelum mencapai Nibbana, seseorang yang terus melaksanakan Jalan Mulia Berunsur Delapan dengan tekun pasti akan mendapatkan kebahagiaan di dunia ini maupun kebahagiaan setelah kehidupan ini yaitu terlahir di alam bahagia. Jadi, bagaimanapun juga, pelaksanaan Jalan Mulia Berunsur Delapan selalu memberikan manfaat dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang selanjutnya sampai seseorang mencapai kebahagiaan tertinggi yaitu Nibbana.

Tanya 07 :
Nasib, apakah ada dan bagaimana cara menanggulangi, kiat mengatasi nasib?

Jawab :
Dalam pengertian Dhamma tidak dijumpai istilah nasib, kodrat maupun takdir. Dalam Agama Buddha lebih dikenal istilah ‘kamma’ (Bhs. Pali) atau ‘karma’ (Bhs. Sanskerta). Dengan mengenal berlakunya Hukum Kamma yang juga sering diartikan sebagai Hukum Sebab dan Akibat, perjalanan hidup seseorang dapat diubah. Dasar pengertian Hukum Kamma adalah mereka yang melakukan kebajikan akan memperoleh kebahagiaan. Dengan demikian, semakin banyak seseorang melakukan kebajikan, semakin besar pula kemungkinan dia untuk mendapatkan kebahagiaan dalam kehidupan ini pula. Dengan demikian, seseorang yang ingin hidup berbahagia, ia harus memperbanyak kebajikan dengan badan, ucapan dan juga pikiran. Sedangkan, mereka yang telah hidup berbahagia, ia hendaknya tidak pernah bosan untuk terus menambah kebajikan agar hidupnya semakin berbahagia.
Sebagai contoh bahwa perjalanan hidup seseorang dapat diubah melalui perbuatan (kamma) yang harus ia kerjakan saat ini adalah kisah tentang seseorang yang dilahirkan dalam kondisi menderita akibat kekurangan materi. Apabila ia dalam hidupnya mampu selalu memperbanyak kebajikan, maka kondisi penderitaan yang dialami mungkin saja berubah 180 derajad. Berubah total. Mungkin dengan berbagai kebajikan dan kejujuran yang telah dilakukan akan mengkondisikan ia mudah mencari kerja dan mendapatkan kepercayaan. Dengan demikian, dalam waktu singkat, perjalanan hidupnya dapat berubah total. Mungkin saja, ia menjadi orang yang lebih mampu daripada sebelumnya. Mungkin ia bahkan mampu mengajak orangtuanya hidup bersama dengannya.
Sebaliknya, mereka yang terlahir dalam kondisi kecukupan secara materi misalnya, apabila tindakan yang ia lakukan tidak baik yaitu dengan melakukan pelanggaran lima latihan kemoralan, maka hidupnya mungkin akan berubah total. Ia menjadi orang yang tidak disukai lingkungannya. Ia menjadi orang yang tidak bahagia. Dengan demikian, sudah jelas sekarang bahwa perbuatan seseorang atau kamma sangatlah berperanan untuk mengkondisikan hidup seseorang menjadi bahagia atau bahkan lebih bahagia serta mampu menghindari penderitaan.

Tanya 08 :
Kalau kita berbuat baik berdasarkan pamrih apakah itu juga akan ada karma baiknya?

Jawab :
Dalam kenyataan, setiap orang yang belum mencapai kesucian atau terbebas dari ketamakan, kebencian serta kegelapan batin pasti ia akan melakukan suatu perbuatan dengan pamrih. Memiliki pamrih selama tidak dibarengi dengan kemelekatan, kiranya masih dapat dianggap wajar. Oleh karena itu, dalam rumusan doa di atas disebutkan niat ”Semoga dengan kebajikan yang saya lakukan sampai saat ini akan membuahkan kebahagiaan dalam bentuk ….” Sepintas ‘doa’ ini memang tampak berpamrih, namun, sebenarnya rumusan doa ini dipergunakan untuk mengarahkan para umat dan simpatisan Buddhis yang masih dalam tahap awal agar mereka berkenan melaksanakan kebajikan secara lebih terarah. Sedikit demi sedikit, apabila batinnya mulai meningkat dengan pengertian Dhamma, maka ia pun akan bisa diarahkan untuk mencapai kesucian atau Nibbana. Dalam tahap akhir seperti ini, semua tindakan yang dilakukan tidak akan lagi mengharapkan pamrih. Semua tindakan dilakukan demi tindakan itu sendiri. Kondisi ini seperti bunga yang mekar demi mekarnya sendiri, bukan karena ingin diletakkan di tempat yang bagus atau menghindari tempat yang buruk.
Adapun perbuatan yang berpamrih, sejauh masih dapat digolongkan sebagai perbuatan baik yang mampu memberikan kebahagiaan untuk banyak fihak, maka si pelaku masih tetap dianggap menanam kamma baik yang pada suatu saat nanti akan ia rasakan buah kebahagiaannya.

Tanya 09 :
Dalam kenyataan hidup, kita selalu merasa kurang. Punya uang puluhan milyar, juga masih kurang. Karena hidup ini tidak kekal, contohnya, kalau kalah dagang atau bangkrut, belum tentu besok ada teman kita yang mau menolong. Dalam hal ini mohon pengertian, sehingga kita merasa cukup.

Jawab :
Pengertian ‘cukup’ memang bersifat sangat relatif. Oleh karena itu dalam Dhamma sebagai ukuran minimal atau paling rendah adalah kecukupan yang dialami oleh para bhikkhu. Para bhikkhu sudah cukup dengan terpenuhinya kebutuhan makanan, pakaian, tempat tinggal maupun sarana kesehatan. Makanan para bhikkhu cukup sehari sekali atau dua kali saja sebelum tengah hari. Pakaian cukup dengan satu set jubah. Tempat tinggal cukup apabila sudah dapat membaringkan tubuh di goa maupun di gubuk. Sarana kesehatan dengan menggunakan therapi urine sudah cukup. Jadi, apabila seseorang telah mampu menyediakan sedikit lebih dari keperluan minimal seorang bhikkhu, maka ia sesungguhnya bisa disebut cukup. Namun, kalau sampai menyediakan secara berlebihan masih terasa tidak cukup, hal itu lebih disebabkan karena adanya ketamakan. Demikian pula dengan uang yang puluhan milyar, jika ia tidak mampu mengendalikan diri dari keinginan, maka sesungguhnya ia sudah terjebak dalam ketamakan.
Kalau seseorang kuatir gagal dalam usaha dan tidak ada yang menolong, maka ia harus berusaha mandiri secara ekonomi dengan menyimpan hartanya di tempat yang sesuai. Dengan demikian, ketika ia bangkrut dan tidak ada yang menolong, ia masih bisa menolong dirinya sendiri. Besarnya simpanan yang diperlukan tentu berdasarkan kebijaksanaan, bukan karena ketamakan. Menentukan beda kebijaksanaan dan ketamakan kiranya membutuhkan kesadaran tinggi yang tidak bisa ditentukan oleh orang lain. Dalam Dhamma, semua ini bukanlah keharusan. Memiliki uang sedikit bisa disebut cukup, memiliki uang puluhan milyar bisa merasa tidak cukup. Semuanya berpulang pada kebijaksanaan diri sendiri.

Tanya 10 :
Kalau kita sembahyang dengan saji-sajian misalnya makanan, minuman dan buah-buahan apakah betul itu diterima atau sebagai simbolis?

Jawab :
Sesajian yang dipersembahkan dalam upacara ritual Buddhis sesungguhnya lebih bersifat tradisi dan simbolis. Kebiasaan mempersembahkan makanan di altar Sang Buddha dimulai sejak Sang Buddha wafat. Para murid yang sudah berpuluh tahun membantu Sang Buddha mempersiapkan makanan, ketika Sang Buddha wafat mereka masih juga mempersiapkan makanan yang disajikan serta dibereskan pada waktu-waktu tertentu setiap harinya. Kebiasaan ini berlangsung turun temurun sehingga akhirnya sampai sekarang masih banyak orang yang mempersembahkan makanan, minuman maupun buah-buahan di altar Sang Buddha maupun altar yang lain.
Persembahan makanan, buah dsb di altar lebih ditujukan untuk melakukan penghormatan. Selain itu, persembahan juga mempunyai makna simbolis atau lambang bahwa seseorang yang telah mampu memberikan buah atau makanan yang terbaik di altar, hendaknya ia juga mampu memberikan pikiran, ucapan serta perbuatan yang terbaik kepada lingkungannya agar memberikan kebahagiaan serta kedamaian bagi semua fihak.

Tanya 11 :
Apakah karma seseorang bisa diketahui dan bagaimana ciri-cirinya?

Jawab :
Dalam tradisi yang berkembang di masyarakat Buddhis, kamma bisa saja dikenali dari wujud luar seseorang. Hal ini juga disebutkan dalam salah satu syair Dhamma bahwa setiap orang dilahirkan oleh kamma sendiri, dilindungi oleh kamma sendiri. Jadi, bentuk lahir seseorang adalah bagian dari kamma yang harus dijalani. Oleh karena itu, dalam masyarakat dapat dijumpai orang yang mampu, misalnya, membaca garis tangan untuk menyebutkan masa lalu maupun masa depan seseorang. Kemampuan ini disebabkan karena garis tangan juga merupakan salah satu tanda bawaan kamma lampau. Tentu saja, metoda membaca garis tangan yang merupakan salah satu upaya mengetahui kamma seseorang ini bukan berasal dari Ajaran Sang Buddha melainkan bagian dari tradisi suatu masyarakat. Sesungguhnya masih banyak cara yang bisa dipergunakan untuk mengetahui kamma seseorang, namun, satu contoh ini kiranya sudah dapat mewakili jawaban atas pertanyaan ini.

Tanya 12 :
Sekarang tentang meditasi. Apakah ada kemungkinan dan bagaimana melatih Samatha Bhavana sebagai umat biasa?

Jawab :
Dalam kehidupan sebagai umat Buddha, sangat disarankan umat untuk berlatih meditasi secara rutin. Lakukan meditasi setiap pagi bangun tidur dan malam hendak tidur. Lakukan meditasi paling tidak selama 15 menit sampai dengan 30 menit setiap kalinya. Adapun meditasi yang dapat dilakukan, sebagai dasar adalah meditasi konsentrasi yang sering disebut sebagai Samatha Bhavana. Latihan meditasi ini biasanya mempergunakan pengamatan dan perhatian pada proses masuk keluarnya pernafasan yang berlangsung secara alamiah. Jadi, meditasi tidak perlu mengatur pernafasan. Meditasi hanya mengamati dan mengetahui saat nafas masuk dan saat nafas keluar. Jika pikiran memikirkan hal yang lain, maka pelaku meditasi akan terus berusaha untuk mengembalikan konsentrasi pikiran pada pengamatan proses pernafasan kembali. Demikian seterusnya dilakukan sampai pikiran benar-benar terpusat pada obyek meditasi. Apabila seseorang telah mampu memusatkan perhatian pada obyek meditasi, maka ia bisa melanjutkan tingkat latihan meditasi yang telah dicapainya dengan mengembangkan kesadaran pada segala gerak gerik pikiran, perasaan, maupun badan. Artinya, pelaku meditasi menjadikan segala yang terjadi pada badan maupun batin sebagai obyek meditasi. Meditasi mengembangkan kesadaran ini disebut sebagaiVipassana Bhavana.
Kedua latihan meditasi ini hendaknya sering dilatih para umat Buddha agar semakin lama seseorang mengikuti dan melaksanakan Ajaran Sang Buddha, semakin tinggi pula kesadaran yang ia miliki untuk selalu mengamati gerak gerik badan dan batinnya. Kesadaran yang maksimal tentang badan dan batin ini akan menuju pada tercapainya kesucian yaitu Nibbana dalam kehidupan ini juga.

Tanya 13 :
Bagaimana cara menghindari pengaruh roh halus, setan dalam bermeditasi ?

Jawab :
Dalam bermeditasi, pada awalnya seseorang hendaknya selalu berusaha memusatkan perhatian pada obyek konsentrasi, misalnya proses masuk dan keluarnya pernafasan. Dengan demikian, apabila terjadi ‘penampakan’, pelaku meditasi hendaknya tidak menghiraukannya. Ia harus tetap memusatkan perhatian pada obyek meditasi. Dengan mampu memusatkan pikiran pada obyek, maka secara bertahap segala bentuk penampakan dan gangguan akan lenyap dengan sendirinya.
Namun, pelaku meditasi tahap lanjutan boleh mempergunakan kesadaran penuh untuk mengetahui dan mengamati adanya gangguan mahluk halus. Pelaku meditasi hanya mengetahui saja segala penampakan yang ada tanpa harus timbul rasa takut maupun benci. Dengan pengembangan kesadaran yang tinggi, mahluk halus itupun akhirnya akan lenyap dan tidak mengganggu lagi.
Namun, kalau pelaku meditasi masih belum mempunyai konsentrasi maupun kesadaran yang cukup tinggi, maka ia boleh juga mengucapkan berkali-kali dalam batin kalimat ”Semoga semua mahluk berbahagia”. Kalimat ini adalah merupakan kalimat pemancaran pikiran penuh cinta kasih yang merupakan sarana ampuh untuk mengkondisikan agar para mahluk halus itu tidak mengganggu lagi. Dengan demikian, latihan meditasi dapat dilanjutkan dengan pikiran tenang dan damai, bebas dari berbagai ‘penampakan’.
Demikianlah semua pertanyaan sudah terjawab secara singkat.
Semoga uraian Dhamma tentang konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha dan juga jawaban atas berbagai pertanyaan di atas dapat bermanfaat serta menambah keyakinan Anda pada Ajaran Sang Buddha.
Semoga keyakinan Anda akan menjadi pendorong untuk selalu melaksanakan Ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari sehingga tercapailah kebahagiaan di dunia, kemudian, kebahagiaan setelah kehidupan ini dan bahkan kebahagiaan Nibbana.
Semoga Anda selalu berbahagia.
Semoga semua mahluk yang tampak maupun mahluk yang tidak tampak akan mendapatkan kebahagiaan sesuai dengan kamma baik yang mereka miliki sendiri.

Semoga demikianlah adanya.
Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.

agama buddha dan ilmu pengetahuan


HUBUNGAN ANTARA AGAMA BUDDHA DAN
ILMU PENGETAHUAN MODERN


0leh :
Robert F. Spencer


Tidak akan ada yang mempermasalahkannya, kiranya, kecuali oleh ilmu pengetahuan itu sendiri, kalau dikatakan bahwa Agama Buddha itu merupakan suatu sistem, yang mempunyai pandangan yang objektif dan mandiri, mengenai sifat dan tujuan kehidupan manusia. Sifat objektivitasnya yang menonjol dari Agama Buddha, itu menyebabkan sistem Agama Buddha itu memisah dari Alam Agama, dan sekaligus mengakibatkan Agama Buddha lalu menggabung dengan jenis penyelidikan ilmiah yang berusaha untuk mencari Kenyataan (=Truth), yang mencirikan India pada zaman Gupta, dan periode-periode awal lainnya dari peradaban India, yang memungkinkan sekarang ini, sebagian besar para cendekiawan dari dunia intellektual, -baik di Dunia Timur, maupun di Dunia Barat-, terdorong untuk sibuk memperkembangkan ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai Kenyataan-Kenyataan tersebut. Penulis dapat memahami pendapat seseorang (walaupun pendapat itu tidak benar), yang mengatakan bahwa Agama Buddha itu memiliki sifat-sifat tersendiri, yang agak berbeda sifatnya dengan sifat-sifat yang terdapat pada Agama-Agama lain; Agama Buddha itu merupakan suatu sistem yang dapat dipergunakan untuk menghayati dan mencapai tujuan didalam hidup dan kehidupan di dunia, yang dilingkungi oleh kesukaran-kesukaran dan yang penuh berisi penderitaan-penderitaan itu. Saya juga dapat memahami pendapat seseorang (walaupun, sekali lagi, pendapatnya itu tidak benar), yang mengatakan bahwa Agama Buddha itu sepintas nampak seperti bukan Agama-Agama lainnya; saya katakan bahwa saya dapat memahami pendapat yang demikian itu, karena pendapat tersebut merupakan kesimpulan dari penilaian yang mendefinisikan Agama sebagai suatu pengalaman mystic, dan para penganut Aliran dari Agama Buddha tertentu, ada yang cenderung kurang tertarik perhatiannya kepada hal-hal yang bersifat mystic, yang katanya dapat menimbulkan gejolak perasaan tertentu, yang dinilai kurang positif. Alasan yang mengeritik Agama Buddha sifatnya agak berbeda dengan Agama-Agama lain, ialah karena Agama Buddha itu kurang begitu menggaris-bawahi kepercayaan mengenai sesuatu, apabila yang dipercayai itu, merupakan sesuatu yang benar-benar sukar diketahui, atau bahkan bersifat tidak dapat diketahui oleh akal manusia, serta menolak dogmatisme. Yang saya sebutkan terakhir tadi, memang merupakan sesuatu yang mendorong lajunya perkembangan umat Buddha sendiri di Negara-Negara Buddhis, namun kiranya tidak ada penyelidik Agama Buddha yang menganggapnya sebagai pertumbuhan yang berlebihan, yang sia-sia, dan menyimpang dari konsepsi Dharma, yang bersifat ilmiah, dari Pendirinya. Artikel ini memegang teguh pendapat bahwa Agama Buddha sebagai suatu sistem, itu dapat dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan, karena memiki kesamaan-kesamaan yang besar.
Tetapi, juga terdapat perbedaan-perbedaan antara sistem Agama Buddha dan sistem Ilmu Pengetahuan : Sang Pemikir Buddhis itu memiliki kejernihan cara berfikir, sejernih tujuan-tujuannya: apabila Sang Pemikir Buddhis itu mempergunakan ilmu pengetahuan dan methode-methodenya, dia dalam mempergunakan sistem ilmu pengetahuan itu sadar bahwa ilmu pengetahuan itu hanyalah merupakan alat untuk mencapai tujuan, dan bukan merupakan tujuan itu sendiri. Dengan kata lain, umat Buddha melihat didalam ilmu pengetahuan itu, refleksi, atau pencerminan, mengenai prinsip-prinsip yang pernah diungkapkan oleh Sang Buddha, dan bahwa prinsip-prinsip yang terdapat didalam ilmu pengetahuan itu hanyalah merupakan ungkapan ulang saja, dari ungkapan-ungkapan yang pernah dikemukakan oleh Sang Buddha, yang pada zamannya Sang Buddha, hal-hal seperti yang terdapat didalam methodologi ilmiah, itu tidak pernah dianggap mutlak, seperti anggapan banyak ilmuwan sekarang. Sejak zaman sekarang ini, dunia tidak terpisah dari methode-methode ilmu pengetahuan; dalam hal ini, kita hanya akan mengemukakan catatan kita, yaitu betapa sangat bersesuaiannya ilmu pengetahuan itu dengan sistem Agama Buddha, yang telah didirikan oleh Sang Buddha, dua ribu lima ratus tahun yang lampau, di India. Pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan modern hanyalah merupakan pemberi tambahan perspektif terhadap konsep-konsep yang telah ada di zamannya Sang Buddha, yaitu misalnya konsep tidak tetapnya dari segala sesuatu, mengenai kwalitas yang bersifat illusi atau khayalan, dan mengenai konsep anatman, dan sebagainya, yang telah dikemukakan lama sebelum abad yang sekarang ini. Sebagai tujuan itu sendiri, memang ilmu pengetahuan itu berkemungkinan mampu memecahkan problema-problema yang nyata-nyata dihadapi, misalnya mampu memberikan makan bagi semua penduduk bumi yang makin lama makin bertambah banyak, mampu membuat makin panjangnya umur manusia, tetapi juga makin mampu memberikan sarana-sarana yang effektif untuk menghancurkan kehidupan. Jika kita tinjau, sekarang ini, ilmu pengetahuan itu tidaklah lebih dari suatu methode yang membuat orang-orang mengkultuskannya, yang menjadi sumber jawaban untuk mengatasi problema-problema; sedang pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya hakiki, misalnya mengenai tujuan manusia, mendapat tempat yang bukan yang paling utama. Nampak terdapat kecenderungan di kalangan para ilmuwan, yang menjadikan ilmu pengetahuan itu sebagai dogma, dengan maksud untuk menyisihkan perasaan-perasaan atau sikap-sikap keagamaan, agar tidak mencampuri kegiatan-kegiatan penyelidikan ilmiahnya. Yang demikian itu terjadi pada beberapa bentuk sekte Hinduisme kuno; mereka mencoba mencari keterangan mengenai Alam Semesta, dengan mempergunakan theori atom, sebagai sarananya, betapa pun cukup tepat konsepsi-konsepsinya; juga dapat kita temui keterangan bahwa para Brahmana di India, di masa-masa yang lampau, itu telah mencoba menghentikan, atau melenyapkan kematian, untuk mencapai keselamatan manusia, yang mungkin dapat kita katakan : mereka itu mencoba berkecimpung didalam aktivitas yang sifatnya ilmiah. Sekalipun demikian, pada masa yang sekarang ini pun, keadaannya tidak berbeda, didalam kenyataannya, tujuan-tujuan ilmiahnya dari para ilmuwan, di dunia sekarang ini, walaupun terwarnai pula oleh sifat spiritual, tetapi lebih banyak terwarnai sifat materialisticnya.
Methode ilmu pengetahuan itu, terutama berisi perumusan suatu hypothesa: pengetesan hypothesa tersebut, dan pernyataan, atau penyampaian hypothesa baru, atas dasar pengetahuan yang dicapai dengan eksperimen-eksperimen yang telah dilaksanakan. Sang Buddha telah mengadakan eksperimen-eksperimen dengan idea-idea, tidak dengan benda-benda, -beliau telah mempergunakan kehidupan manusia yang penuh tempaan-tempaan kehidupan ini, untuk mengukur pengalaman-pengalaman manusia, untuk ditarik kesimpulannya, sebagai jawaban yang dapat memecahkan persoalan, atau melenyapkan penderitaan-penderitaan manusia, setelah masalah-masalahnya dikaji dengan penganalisaan yang paralel dengan cara kerja para ilmuwan.
Ilmu pengetahuan itu dicirikan oleh sifatnya yang “teguh pendirian”, apabila sesuatu itu telah dikaji secara ilmiah dan tuntas, serta telah dinyatakan bahwa itu benar, sukar menarik kembali pernyataannya. Penyelidikan terhadap kenyataan (= atau Kasunyataan = Truth) itu tidak selalu mudah dilaksanakan, juga tidak selalu bersifat menyenangkan. Dikatakan juga bahwa Kenyataan itu dapat bersifat menyakitkan hati. Walaupun demikian, tetapi tetap bersifat benar, tetap merupakan kenyataan di mata siapa pun. Dapatkah kami tambahkan bahwa Buddhisme yang aseli, itu menawarkan suatu usaha, sesuatu usaha yang membuahkan hasil yang baik, yaitu agar setelah menemukannya, mau mempertahankannya dan melihatnya secara objektif. Bagi kita semua, yang hidup di dunia ini, yang semuanya memang mencari kesempatan untuk menghayati saat-saat dapat bebas, walaupun sementara saja, dari terkena hukuman, untuk bebas dari terkena kecemasan-kecemasan; pendek kata, untuk mencapai apa yang kita namai kebahagiaan, yang oleh Sang Buddha mengenai masalah kebahagiaan itu, bersabda sebagai berikut : “Baiklah, anda ingin mencapai kebahagiaan, tetapi ingatlah bahwa penghayatan kebahagiaan itu tidak berlangsung secara abadi; hari ini anda dapat merasa berbahagia, tetapi itu sifatnya tidak tetap!”. Sama seperti bahwa ilmu pengetahuan itu berusaha untuk mendefinisikan jawabannya secara objektif, tanpa terwarnai oleh emosi, demikian juga Agama Buddha itu membidik sasarannya dengan setepat-tepatnya, bebas dari stress emosional, – tekanan perasaan -, dan memberikan informasi kepada kita secara ringkas sifat yang sebenarnya dari sesuatu itu. Dapat saja kita tidak bersikap yang demikian itu, dan mungkin kita bersikap “teguh pendirian” dan akan melaksanakannya tidak hanya dalam kata-kata saja; tetapi sampai sejauh mana kata-katanya itu, menjadi perbuatan yang nyata, masih harus dibuktikan.
Suatu contoh mengenai ciri “keras-kepala-nya” ilmu pengetahuan, yang juga segaris dengan yang diperkembangkan oleh umat Buddha, nampak didalam konsep karma. Bukankah hukum karma itu merupakan konsep dari Agama Buddha, yang sifatnva sederhana, namun lebih bersifat ilmiah!?!. Apabila orang memilih istilah lain, yang lebih nampak sebagai suatu kepercayaan, adalah prinsipsamsara. Apabila kita tinjau secara objektif mengenai kehidupan-kehidupan di masa-masa kelahiran sebelum yang sekarang ini, baik kita tinjau sebagai berada didalam bidang waktu dan ruang, masalah samsara (atau reinkarnasi, atau tumimbal lahir), itu masih merupakan hal yang memerlukan keterangan-keterangan sejelas-jelasnya (walaupun itu adalah merupakan suatu kenyataan, dan tidak perlu diragukan akan kebenarannya!). Yang merupakan pembicaraan yang penuh arti, adalah bahwa “Diri saya” yang sekarang ini, tidaklah sama dengan “Diri saya” kemarin, tidak sama dengan keadaan satu tahun yang lampau, atau bahkan tidak sama dengan beberapa saat yang lalu. Walaupun tidak nampak dengan mata, namun “Ego” kita (= “Diri” kita), itu telah mengalami perubahan, wujud badan jasmani kita, itu dari satu saat ke saat berikutnya, keadaannya tidak sama. Pula, bahwa “Penghayatan Ke-Aku-an” dari individu, yang memiliki kemauan dan kebebasan ber-kehendak, itu dapat berbuat sesuatu, dan memang selalu berbuat sesuatu. Sesuatu perbuatan itu di-pra-kondisi-kan oleh perbuatan- perbuatan yang mendahuluinya. Perbuatan yang dilakukan sekarang ini, mempunyai effek-effek, atau akibat-akibat, untuk besok paginya, memiliki akibat-akibat di masa yang akan datang, di bidang perbuatan dan fikiran. Penulis artikel ini, berpendapat bahwa itulah yang dinamai prinsip-prinsip karma dengan applikasinya. Itu sifat ilmiah, disitu tidak ada sesuatu yang kita namai esoteric, – keajaiban-keajaiban yang bersifat batiniah.
Sudah sangat banyak dikemukakan orang mengenai hubungan antara Agama Buddha dan ilmu-ilmu pengetahuan alam, namun kiranya disini perlu juga saya sajikan uraiannya, asal tidak sampai ke hal-hal yang sekecil-kecilnya. Sifat dari zat, sifat dari realitas physik, problema-problema mengenai ruang dan waktu, semuanya telah terdapat secara implicit didalam ajaran-ajaran Sang Buddha. Penulis artikel ini harus mengakui bahwa Sang Buddha itu tidak acuh tak acuh terhadap hubungan-hubungan yang bersifat mystic yang demikian itu, sama seperti bahwa beliau juga tidak acuh tak acuh terhadap hubungan antara jiwa (= mind) dan zat (= matter). Perhatian Sang Buddha terutama terletak didalam hubungan antara Agama Buddha dengan ilmu-ilmu pengetahuan sosial, yang merupakan bidang yang sangat luas, untuk memahami hubungan antara manusia dengan manusia, dan tidak antara atom dengan alam semesta yang tidak dihuni oleh makhluk.
Didalam ilmu-ilmu pengetahuan sosial, sebagai misalnya anthropology dan sociology, usaha yang dilakukan orang, adalah memahami bagaimana orang-orang itu bertingkah-laku didalam kelompok, dan mengapa mereka itu bertingkah-laku yang demikian itu. Suatu aspek hubungan (yang sama), kita lihat juga pada ilmu ekonomi, dan ilmu politik. Masih dapat kita teruskan uraiannya, dengan menambahkan lagi dengan suatu disiplin ilmu pengetahuan, yang meng-evaluasi individu, yaitu psychology, atau ilmu jiwa. Didalam semua lapangan yang disebutkan dimuka tadi, orang dapat mengambil kesimpulan bahwa terdapat sesuatu yang maha penting, ialah : bahwa manusia itu bertingkah-laku, karena telah mengalami keadaan dipersyarati, – yang oleh ahli anthropology dikatakan karena terkena pengaruh warisan-warisan kebudayaan. Kita dapat memahami pendapat orang-orang, yaitu bahwa kita dapat menganggapnya sesuatu tingkah-laku itu benar dan baik, sedang orang-orang lain (yang lain kebudayaannya dengan kebudayaan kita) mungkin menganggap itu sama sekali salah dan tidak baik. Ilmu-ilmu pengetahuan sosial itu mengajar kepada kita mengenai sifat relativisme-nya dari tingkah-laku manusia.
Seandainya kita dapat menerima pendapat bahwa tingkah-laku manusia itu bersifat relative, maka sebagai akibat selanjutnya, adalah bahwa tidak ada konsep-konsep mengenai kebaikan atau kejahatan, yang mutlak. Memanglah, bahwa kebaikan dan kejahatan, itu sifatnya sangat relative. Sebagai seorang yang telah terlatih di bidang ilmu-ilmu pengetahuan sosial, yang telah memperoleh informasi-informasi mengenai cara kehidupan bangsa-bangsa di Dunia, yang berbeda-beda itu, penulis artikel ini dapat menerima pendapat yang demikian itu (bahwa tingkah-laku manusia itu bersifat relative). Namun, hanya didalam ajaran Agama Buddha sajalah, yang beberapa dari konsep-konsep yang kacau, itu telah disusun kembali menjadi berkeadaan teratur. Coba, silahkanlah memperhatikan kenyataan bahwa Sang Buddha itu tidak pernah bersabda : “Janganlah anda…..”. Sang Buddha mengatakan bahwa adalah merupakan suatu idea yang bagus untuk menghindari jenis-jenis tingkah-laku tertentu, dan beliau juga memberikan sejumlah ajaran-ajaran, yang seluruhnya bersifat positif, terhadap para pengikut beliau. Agama Buddha itu ajaran-ajarannya dapat diterapkan bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang, kepercayaan, sistem ekonomi atau sistem politik, yang dianut seseorang. Yang diajarkan Sang Buddha tidaklah lain adalah kegiatan untuk mengembalikan lagi keseimbangan pada diri orang-orang. Bahkan lebih dari itu, Sang Buddha selalu mengharapkan agar pada diri orang-orang senantiasa berkeadaan seimbang kepribadiannya, sesuai dengan sudut pandangan Agama Buddha. Untuk menyadari konsep, atau ajaran anicca, jelas tidak perlu kita permasalahkan, itu adalah merupakan ajaran yang sangat berguna bagi semua orang.
Tetapi umat Buddha itu dapat menolong dirinya sendiri, dalam hal pencapaian tujuan-tujuannya, dengan menyadari dan mengikuti objektivitasnya para sarjana ilmu pengetahuan sosial. Dalam hal ini, yang saya maksudkan adalah bahwa para sarjana ilmu pengetahuan sosial itu dapat menarik-diri, tidak mau tenggelam dalam masalah-masalah yang dihadapi sesama manusia yang sedang mengalami permasalahan itu. Namun kadang-kadang para sarjana ilmu pengetahuan sosial itu ada yang tidak berusaha untuk membuat agar kehidupan sesama manusia berkeadaan lebih baik. Namun lain yang dilakukan oleh Sang Buddha. Umat Buddha, itu walaupun melakukan yang sama dengan yang dilakukan oleh para sarjana ilmu pengetahuan sosial, yaitu tidak mau tenggelam pada permasalahan yang dialami manusia yang sedang menghadapi sesuatu masalah, tetapi sambil bersikap tidak mau tenggelam pada permasalahannya, Sang Buddha berusaha mencapai pemecahan, secara tidak langsung, didalam mengatasi problem-problema penderitaan yang dialami oleh manusia. Sang Buddha berpendapat dan menyadari kenyataan bahwa orang yang dapat menolong dirinya sendiri, itu berarti tidak boleh tidak, dia dapat menolong orang lain juga. Sang Buddha itu menaruh perhatian sepenuhnya terhadap problema-problema kemasyarakatan dan kepribadian. Ahli Ilmu Pengetahuan Jiwa Psychoanalisa itu dapatlah didalam beberapa hal diperbandingkan dengan orang yang telah dapat mencapai Penerangan Sempurna (= Kesadaran Nirvana), tetapi orang yang telah memperoleh Penerangan Sempurna (= Enlightenment) itu tidaklah perlu harus diajar bagaimana cara bergaul dengan sesama manusia. Sifat dari Kesadaran Nirvana itu, tidak dapat tidak, juga mendatangkan sikap yang dimiliki oleh ilmuwan. Umat Buddha dapat menerima ketidak-terikatan yang sifatnya kontemplatif dari para ilmuwan. Didalam mengerjakan hal yang demikian itu, dia dapat menjadikan dirinya menjadi umat Buddha yang lebih baik, dan dapat mengikuti atau mempraktekkan lebih dekat dan lebih luas lagi, mengenai ajaran-ajaran pokok dari Agama Buddha. Objektivitas, atau sikap menghadapi masalah-masalah secara objektif, didalam menangani masalah-masalah manusia, tetap merupakan sikap mental yang penting hingga dewasa ini.


Posting lain yang mungkin perlu Anda baca juga :
  1. Pengantar Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan
  2. Agama Buddha dan Revolusi Ilmu Pengetahuan
  3. Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Agama Buddha
  4. Ketuhanan dalam Agama Buddha
  5. Agama Buddha dan Perkembangannya di Indonesia