Minggu, 20 Mei 2012



TIGA CORAK KEHIDUPAN
(Tilakkhana)

"Sabbe sankhara anicca`ti. Yada pannaya passati; atha nibbindati dukkhe. Esa maggo visuddhiya."
Segala sesuatu yang berkondisi adalah anicca. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini; maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
(Dhammapada 277)
"Sabbe sankhara dukkha`ti. Yada pannaya passati; atha nibbindati dukkhe. Esa maggo visuddhiya."Segala sesuatu yang berkondisi adalah dukkha. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.(Dhammapada 278)
"Sabbe dhamma anatta`ti. Yada pannaya passati; atha nibbindati dukkhe. Esa maggo visuddhiya."Segala dhamma (kebenaran) adalah anatta. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.(Dhammapada 279)

Tilakkhana atau tiga corak, ciri, karakteristik yaitu anicca, dukkha dan anatta, merupakan tiga corak, ciri, karakteristik yang ada di setiap segala sesuatu atau fenomena yang terbentuk dari perpaduan unsur (berkondisi) yang ada di alam semesta ini, termasuk makhluk hidup. Ciri ini merupakan salah satu bentuk dari Hukum Kebenaran Mutlak (Paramatha-sacca) karena berlaku dimana saja dan kapan saja.



Anicca
Anicca berasal dari kata ”an” yang merupakan bentuk negatif atau sering diterjemahkan sebagai tidak atau bukan. Dan ”nicca” yang berarti tetap, selalu ada, kekal, abadi. Jadi kata ”an-nicca” berarti tidak tetap, tidak selalu ada, tidak kekal, tidak abadi, berubah. Dalam bahasa Sanskerta disebut juga sebagai anitya.

Sabbe sankhara anicca berarti segala sesuatu yang berkondisi, terbentuk dari perpaduan unsur, merupakan sesuatu yang mengalami perubahan, tidak kekal.

Semua fenomena yang ada di dalam alam semesta ini selalu dalam keadaan bergerak dan mengalami proses, yaitu:
Upadana (timbul), kemudian Thiti (berlangsung), dan kemudian Bhanga (berakhir/lenyap).

Mengapa segala fenomena mengalami perubahan atau tidak kekal? Hal ini karena sudah menjadi sifat alami dari segala sesuatu yang terbentuk dari perpaduan unsur akan mengalami perubahan, ketidakkekalan.



Dukkha
Dukkha berasal dari kata ”du” yang berarti sukar dan kata ”kha” yang berarti dipikul, ditahan. Jadi kata ”du-kha” berarti sesuatu atau beban yang sukar untuk dipikul. Jadi kata ”duh-kha” berarti sesuatu atau beban yang sukar untuk dipikul. Pada umumnya dukkha dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai penderitaan, ketidakpuasan, beban.

Sabbe sankhara dukkha berarti segala sesuatu yang berkondisi, terbentuk dari perpaduan unsur, merupakan sesuatu yang tidak memuaskan yang akan menimbulkan beban berat atau penderitaan.

Mengapa segala fenomena tidak memuaskan dan menimbulkan beban berat atau penderitaan? Hal ini dikarenakan segala fenomena tersebut mengalami perubahan, tidak kekal. Dan ketika kita tidak bisa memahami dan menerima bahwa segala fenomena selalu mengalami perubahan, tidak kekal, maka timbul perasaan ketidaksukaan, ketidakpuasan pada diri kita dan akhirnya menimbulkan beban berat atau penderitaan.



Anatta
Anatta berasal dari kata ”an” yang merupakan bentuk negatif atau sering diterjemahkan sebagai tidak atau bukan. Dan ”atta” berarti berarti diri sejati atau inti/`roh`. Dalam bahasa Sanskerta disebut juga sebagai anatman. Jadi kata ”an-atta” berarti bukan diri sejati atau tanpa inti/`roh`.

Sabbe dhamma anatta berarti segala dhamma (kebenaran) yang berkondisi, terbentuk dari perpaduan unsur, dan juga yang tidak berkondisi, tidak terbentuk dari perpaduan unsur merupakan sesuatu yang tidak memiliki inti/`roh` dan  bukan diri yang sejati.

Beberapa orang telah salah memahami mengenai ajaran anatta dengan beranggapan bahwa tidak ada diri, tidak ada yang namanya orang/person (puggala). Anggapan ini keliru. Guru Buddha tidak mengajarkan hal ini. Beliau mengajarkan bahwa ada yang disebut dengan diri atau orang/person (puggala), tetapi diri atau orang/person (puggala) tersebut bukanlah benar-benar inti atau jati diri dari diri atau orang (person) tersebut, melainkan hanyalah merupakan perpaduan unsur-unsur yang membentuk, yang membuatnya ada atau eksis yang suatu saat akan mengalami perubahan. Karena perpaduan unsur-unsur inilah diri seseorang terbentuk. Dan karena segala sesuatu yang terbentuk dari perpaduan dari unsur-unsur pasti mengalami perubahan, maka diri seseorang pun mengalami perubahan, penguraian, yang akhirnya eksistensi dari diri seseorang tidak lagi ada atau eksis. Inilah mengapa dikatakan tidak memiliki inti atau bukan diri sejati.

Mengapa segala fenomena tidak ada inti atau bukan diri sejati?
Di dalam Anattalakkhana Sutta; Samyutta Nikaya 22.59 {S 3.66}, Guru Buddha menjelaskan bahwa Rupa (jasmani), Vendana (perasaan), Sanna (pencerapan), Sankhara (pikiran) dan Vinnana (kesadaran) disebut sebagai Panca Khanda (lima kelompok kehidupan/kegemaran) yang semuanya bukanlah diri sejati. Jika Khanda itu merupakan diri sejati, maka tidak akan mengalami penderitaan, dan semua keinginan seseorang akan kandha-nya akan terpenuhi, ”Biarkan Kandha-ku seperti ini dan bukan seperti itu.”

Tetapi karena khanda tidak dapat dikendalikan sesuai dengan keinginan atau harapan seseorang, ” Biarkan Kandha-ku seperti ini dan bukan seperti itu”, dan juga mengalami penderitaan, maka dikatakan bahwa kandha bukanlah diri sejati.

Selain ajaran Anatta yang diajarkan oleh Guru Buddha, di dunia ini terdapat 2 ajaran atau paham lain yang terdapat dalam kepercayaan lain, yaitu:
  1. Attavada, yaitu paham atau ajaran yang menyatakan bahwa terdapat atta atau inti atau diri sejati yang tidak mengalami perubahan, yang ada sepanjang masa atau abadi meskipun melalui tahap kelahiran kembali. Paham ini juga disebut sebagai paham Eternalisme (paham ini tidak dibenarkan oleh Sang Buddha).
  2. Ucchedavada, yaitu paham atau ajaran yang menyatakan bahwa sama sekali tidak terdapat atta atau diri, dimana ketika mati maka semuanya akan turut lenyap, tidak membentuk apapun lagi, tidak meengalami kelahiran kembali. Paham ini juga disebut sebagai paham Nihilisme (paham ini tidak dibenarkan oleh Sang Buddha).
Beberapa contoh nyata mengenai ajaran Anatta. Ketika kita melihat sebuah sofa maka kita akan melihatnya sebagai hal yang biasa dan menyebutnya sebagai sofa. Tetapi ketika sofa yang terbuat dari kayu, busa, kain, lem, tenaga manusia, dan sebagainya itu kita uraikan, kita pisah-pisahkan, kita bongkar, maka yang kita lihat sekarang hanyalah beberapa potong kayu bekas, kain, busa dan sebagainya yang tidak mungkin sama dengan bahan awal pembuat sofa. Kita hanya menyebutnya sebagai sisa sofa, kain bekas sofa, kayu bekas sofa, dan sebagainya. Kita tidak akan melihat lagi sofa tadi.

Contoh lain tentang ajaran Anatta, ketika kita membuat roti. Roti dibuat dengan memakai tepung, ragi, gula, garam, mentega, susu, air, api, tenaga kerja dan  lain-lain Tetapi setelah menjadi roti tidak mungkin kita akan menunjuk satu bagian tertentu dan mengatakan: ini adalah tepungnya, ini garamnya, ini menteganya, ini airnya, ini apinya, ini tenaga kerjanya dst. Karena setelah bahan-bahan itu diaduk menjadi satu dan dibakar di oven, maka bahan-bahan itu telah berubah sama sekali. Meskipun roti itu terdiri dari bahan-bahan yang tersebut di atas, namun setelah melalui proses pembuatan dan pembakaran di oven telah menjadi sesuatu yang baru sama sekali dan tidak mungkin lagi untuk mengembalikannya dalam bentuknya yang semula.

Pemahaman akan ajaran anatta dapat juga dianalisa dan direnungkan dalam ajaran mengenai  Sebab-Musabab yang Saling Bergantungan (Paticcasamuppada).

Disusun oleh: Bhagavant.com
JALAN MULIA BERUNSUR DELAPAN
(Ariya Atthangiko Magga)

Dalam Dhammacakkappavattana Sutta; Samyutta Nikaya 56.11 {S 5.420}, Guru Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani) kepada Lima Bhikkhu Pertama (Panca Vaggiya Bhikkhu), yang di dalamnya terdapat Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha. Jalan itu disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangiko Magga).
Di dalam Jalan ini mengandung unsur sila (kemoralan), samadhi (konsentrasi), dan panna (kebijaksanaan). Berikut pengelompokan unsur yang terkandung di dalamnya:
Pañña
1. Pengertian Benar (sammâ-ditthi)
2. Pikiran Benar (sammâ-sankappa)
Sila
3. Ucapan Benar (sammâ-väcä)
4. Perbuatan Benar (sammâ-kammanta)
5. Pencaharian Benar (sammâ-ajiva)
Samâdhi
6. Daya-upaya Benar (sammâ-vâyama)
7. Perhatian Benar (sammâ-sati)
8. Konsentrasi Benar (sammâ-samâdhi)

Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangiko Magga) dibabarkan sebagai berikut:
1. Pengertian Benar (Sammã Ditthi) Pemahaman Benar adalah pengetahuan yang disertai dengan penembusan terhadap
a. Empat Kesunyataan Mulia
b. Hukum Tilakkhana (Tiga Corak Umum)
c. Hukum Paticca-Samuppäda
d. Hukum Kamma
2. Pikiran Benar (Sammã Sankappa)
Pikiran Benar adalah pikiran yang bebas dari:
a. Pikiran yang bebas dari nafsu-nafsu keduniawian (nekkhamma-sankappa).
b. Pikiran yang bebas dari kebencian (avyäpäda-sankappa)
c. Pikiran yang bebas dari kekejaman (avihimsä-sankappa)
3. Ucapan Benar (Sammã Vãca) Ucapan Benar adalah berusaha menahan diri dari berbohong (musãvãdã), memfitnah (pisunãvãcã), berucap kasar/caci maki (pharusavãcã), dan percakapan-percakapan yang tidak bermanfaat/pergunjingan (samphappalãpã). Dapat dinamakan Ucapan Benar, jika dapat memenuhi empat syarat di bawah ini :
a. Ucapan itu benar
b. Ucapan itu beralasan
c. Ucapan itu berfaedah
d. Ucapan itu tepat pada waktunya
4. Perbuatan Benar (Sammã Kammantã)
Perbuatan Benar adalah berusaha menahan diri dari pembunuhan, pencurian, perbuatan melakukan perbuatan seksualitas yang tidak dibenarkan (asusila), perkataan tidak benar, dan penggunaan cairan atau obat-obatan yang menimbulkan ketagihan dan melemahkan kesadaran.
5. Penghidupan Benar (Sammã Ãjiva)
Penghidupan Benar berarti menghindarkan diri dari bermata pencaharian yang menyebabkan kerugian atau penderitaan makhluk lain. "Terdapat lima objek perdagangan yang seharusnya dihindari (Anguttara Nikaya, III, 153), yaitu:

a. makhluk hidup
b. senjata
c. daging atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan mahluk-mahluk hidup
d. minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan,
e. racun

Dan terdapat pula lima pencaharian salah yang harus dihindari (Majjima Nikaya. 117), yaitu:

a. Penipuan
b. Ketidak-setiaan
c. Penujuman
d. Kecurangan
e. Memungut bunga yang tinggi (praktek lintah darat)
6. Usaha Benar (Sammã Vãyama)
Usaha Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu: berusaha mencegah munculnya kejahatan baru, berusaha menghancurkan kejahatan yang sudah ada, berusaha mengembangkan kebaikan yang belum muncul, berusaha memajukan kebaikan yang telah ada.
7. Perhatian Benar (Sammã Sati)
Perhatian Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu:

- perhatian penuh terhadap badan jasmani (kãyãnupassanã)
- perhatian penuh terhadap perasaan (vedanãnupassanã)
- perhatian penuh terhadap pikiran (cittanupassanã)
- perhatian penuh terhadap mental/batin (dhammanupassanã)

Keempat bentuk tindakan tersebut bisa disebut sebagai Vipassanã Bhãvanã.
8. Konsentrasi Benar (Sammã Samãdhi)
Konsentrasi Benar berarti pemusatan pikiran pada obyek yang tepat sehingga batin mencapai suatu keadaan yang lebih tinggi dan lebih dalam. Cara ini disebut dengan Samatha Bhãvanã. Tingkatan-tingkatan konsentrasi dalam pemusatan pemikiran tersebut dapat digambarkan dalam empat proses pencapaian Jhana, yaitu:

- Bebas dari nafsu-nafsu indria dan pikiran jahat, ia memasuki dan berdiam dalam Jhãna pertama, di mana vitakka (penempatan pikiran pada objek) dan vicãra (mempertahankan pikiran pada objek) masih ada, yang disertai dengan kegiuran dan kesenagan (piti dan sukha).

- Dengan menghilangkan vitakka dan vicara, ia memasuki dan berdiam dalam Jhãna kedua, yang merupakan ketenangan batin, bebas dari vitakka dan vicãra, memiliki kegiuran (piti) dan kesenangan (sukha) yang timbul dari konsentrasi.

- Dengan meninggalkan kegiuran, ia berdiam dalam ketenangan, penuh perhatian dan sadar, dan merasakan tubuhnya dalam keadaan senang. Dia masuk dan berdiam dalam Jhãna ketiga.

- Dengan meninggalkan kesenangan dan kesedihan, dia memasuki dan berdiam dalam Jhãna keempat, keadaan yang benar-benar tenang dan penuh kesadaran di mana kesenangan dan kesedihan tidak dapat muncul dalam dirinya.

Siswa yang telah berhasil melaksanakan Delapan Jalan Utama memperoleh :

1. Sila-visuddhi - Kesucian Sila sebagai hasil dari pelaksanaan Sila dan terkikis habisnya Kilesa (Kekotoran batin).
2. Citta-visuddhi - Kesucian Bathin sebagai hasil dari pelaksanaan Samadhi dan terkikis habisnya Nivarana (Rintangan batin).
3. Ditthi-visuddhi - Kesucian Pandangan sebagai hasil dari pelaksanaan Pañña dan terkikis habisnya Anusaya (Kecenderungan berprasangka).
Demikianlah Jalan Utama Berunsur Delapan yang telah dibabarkan oleh Guru Buddha. Satu-satunya Jalan yang menuju pada akhir Dukkha.

Disusun oleh: Bhagavant.com


EMPAT KEBENARAN ARYA(Cattari Ariya Saccani)
Di Taman Rusa Isipatana, pada bulan Asalha, ketika untuk pertama kalinya Guru Buddha membabarkan Dhamma, dalam Dhammacakkappavattana Sutta; Samyutta Nikaya 56.11 {S 5.420} , Guru Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani) kepada Lima Bhikkhu Pertama (Panca Vaggiya Bhikkhu).
I
Kebenaran Ariya tentang Dukkha
(Dukkha Ariya Sacca)
Guru Buddha bersabda, “Sekarang, O, para bhikkhu, Kebenaran Ariya tentang Dukkha, yaitu : kelahiran adalah dukkha, usia tua adalah dukkha, penyakit adalah dukkha, kematian adalah dukkha, sedih, ratap tangis, derita (badan), dukacita, putus asa adalah dukkha; berkumpul dengan yang tidak disenangi adalah dukkha, berpisah dari yang dicintai adalah dukkha, tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah dukkha. Singkatnya Lima Kelompok Kemelekatan merupakan dukkha.”

Definisi
Kata ”dukkha” yang berasal dari bahasa Pali, sukar sekali untuk diwakilkan secara tepat oleh satu kata dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris karena memiliki makna yang dalam. Secara etimologi berasal dari kata ”du” yang berarti sukar dan kata ”kha” yang berarti dipikul, ditahan. Jadi kata ”du-kha” berarti sesuatu atau beban yang sukar untuk dipikul. Pada umumnya dukkha dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai penderitaan, ketidakpuasan, beban.


Tiga Bentuk Dukkha
Dalam Dukkhä Sutta; Samyutta 38.14 {S 4.259}, Y.A Sariputta menjelaskan adanya tiga bentuk dukkha kepada Jambukhadika, “ Ada tiga bentuk dari dukkha, sahabatKu, yaitu : dukkha-dukkhä, viparinäma-dukkhä, sankhärä-dukkhä. Inilah tiga bentuk dukkha.”
dukkha-dukkhä
adalah ketidakpuasan atau penderitaan yang alami dan dirasakan tubuh dan bathin, seperti sakit jantung, sakit kepala, perasaan sedih karena berpisah dengan yang dicintai, kegagalan dalam usaha, sebagainya.

viparinäma-dukkhä adalah ketidakpuasan atau penderitaan yang tidak lepas dari adanya perubahan, seperti kondisi perasaan bahagia, yang dirasakan cepat atau lambat akan mengalami perubahan.

sankhärä-dukkhä
adalah ketidakpuasan atau penderitaan yang berhubungan dengan Lima Kelompok Kemelekatan (Panca Khanda), seperti perasaan susah karena tidak dapat menikmati makanan enak yang dipicu karena adanya indera pengecap yang merupakan salah satu dari Lima Kelompok Kemelekatan (Panca Khanda).

II
Kebenaran Ariya tentang Asal Mula Dukkha
(Dukkha Samudaya Ariya Sacca)
Guru Buddha bersabda, “Sekarang, O, para bhikkhu, Kebenaran Ariya tentang Asal Mula Dukkha, yaitu : Ketagihan (tanhâ) yang menyebabkan tumimbal lahir, disertai dengan hawa nafsu untuk menemukan kesenangan di sana sini, yaitu kamatanhâ : ketagihan akan kesenangan indria, bhavatanhâ : ketagihan akan penjelmaan, vibhavâtanhâ : ketagihan untuk memusnahkan diri.”
Pada bagian ini Guru Buddha menjelaskan bahwa sumber dari dukkha atau penderitaan adalah tanhâ, yaitu nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya. Tanha dapat diibaratkan seperti candu atau opium yang menimbulkan dampak ketagihan bagi yang memakainya terus-menerus, dan semakin lama akan merusak fisik maupun mental si pemakai. Tanha juga dapat diibaratkan seperti air laut yang asin yang jika diminum untuk menghilangkan haus justru rasa haus tersebut semakin bertambah.

Ada tiga bentuk tanhä, yaitu :

1.Kämatanhä : adalah ketagihan akan kesenangan indriya, ialah ketagihan akan :
a. bentuk-bentuk (indah)
b. suara-suara (merdu)
c. wangi-wangian
d. rasa-rasa (nikmat)
e. sentuhan-sentuhan (lembut)
f. bentuk-bentuk pikiran

2.Bhavatanhä : adalah ketagihan untuk lahir kembali sebagai manusia yang berdasarkan pada kepercayaan yang mengatakan tentang adanya "atma (roh) yang kekal dan terpisah" (attavada).

3.Vibhavatanhä : adalah ketagihan untuk memusnahkan diri, yang berdasarkan kepercayaan yang mengatakan bahwa setelah manusia meninggal maka berakhirlah segala riwayat tiap-tiap manusia (ucchedaväda).

III
Kebenaran Ariya tentang Terhentinya Dukkha
(Dukkha Nirodha Ariya Sacca)
Guru Buddha bersabda, “Sekarang, O, para bhikkhu, Kebenaran Ariya tentang Terhentinya Dukkha, yaitu : terhentinya semua hawa nafsu tanpa sisa, melepaskannya, bebas, terpisah sama sekali dari ketagihan tersebut.”
Pada bagian ini Guru Buddha menjelaskan bahwa dukkha bisa dihentikan yaitu dengan cara menyingkirkan tanhä sebagai penyebab dukkha. Ketika tanhä telah disingkirkan, maka kita akan terbebas dari semua penderitaan (bathin). Keadaan ini dinamakan Nibbana.
Dalam Itivuttaka 44; Khuddaka Nikaya, Guru Buddha menjelaskan bahwa terdapat 2 elemen/jenis  Nibbana, yaitu :
Sa-upadisesa-NibbanaNibbana masih bersisa. Yang dimaksud dengan bersisa di sini adalah masih adanya Lima Khanda. Ketika Petapa Gotama mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi Buddha, Beliau dikatakan telah dapat mencapai Sa-upadisesa-Nibbana tetapi masih memiliki Lima Khanda (jasmani, kesadaran, bentuk pikiran, pencerapan dan perasaan). Sa-upadisesa-Nibbana juga dapat dikatakan sebagai kondisi batin (state of mind) yang murni, tenang, dan seimbang.

An-upadisesa-NibbanaNibbana tanpa sisa. Setelah meninggal dunia, seorang Arahat akan mencapai anupadisesa-nibbana, ialah Nibbana tanpa sisa atau juga dinamakan Pari-Nibbana, dimana tidak ada lagi Lima Khanda (jasmani, kesadaran, bentuk pikiran, pencerapan dan perasaan), tidak ada lagi sisa-sisa dan sebab-sebab dari suatu bentuk kemunculan. Sang Arahat telah beralih ke dalam keadaan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Hal ini dapat diumpamakan dengan padamnya api dari sebuah pelita, kemanakah api itu pergi ? Hanya satu jawaban yang tepat, yaitu ‘tidak tahu’. Ketika Guru Buddha mangkat/wafat, Beliau dikatakan telah mencapai anupadisesa-nibbana.

IV
Kebenaran Ariya tentang Jalan yang Menuju Terhentinya Dukkha
(Dukkha Nirodha Ariya Sacca)
Guru Buddha bersabda, “Sekarang, O, para bhikkhu, Kebenaran Ariya tentang Jalan yang menuju terhentinya Dukkha, tiada lain adalah Jalan Suci Berunsur Delapan, yaitu : Pengertian Benar, Pikiran Benar, Ucapan Benar, perbuatan Benar, Penghidupan Benar, Usaha Benar, Perhatian Benar, Konsentrasi Benar.”
Pada bagian ini Guru Buddha menjelaskan bahwa ada Jalan atau Cara untuk menghentikan dukkha.
Jalan Menuju Terhentinya Dukkha dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu :
Kebijaksanaan (Panna) Pengertian Benar (sammä-ditthi)
Pikiran Benar (sammä-sankappa)
Kemoralan (Sila)Ucapan Benar (sammä-väcä)
Perbuatan Benar (sammä-kammanta)
Pencaharian Benar (sammä-ajiva)

Konsentrasi (Samädhi)
Daya-upaya Benar (sammä-väyäma)
Perhatian Benar (sammä-sati)
Konsentrasi Benar (sammä-samädhi)
Demikianlah Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani) yang tidak dapat dipisahkan antara Kebenaran yang satu dengan Kebenaran yang lainnya. Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani) bukanlah ajaran yang bersifat pesimis yang mengajarkan hal-hal yang serba suram dan serba menderita. Dan juga bukan bersifat optimis yang hanya mengajarkan hal-hal yang penuh harapan, tetapi merupakan ajaran yang realitis, ajaran yang berdasarkan analisa yang diambil dari kehidupan di sekitar kita.

Disusun oleh: Bhagavant.com
KEBENARAN
(Sacca)

Kebenaran atau dalam bahasa Pali disebut dengan sacca, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya. Jadi, kebenaran tidak selamanya menyangkut mengenai masalah moral semata.

Kebenaran sendiri terdiri dari 2 jenis, yaitu Paramatha-sacca atau Kebenaran Mutlak (Absolute) dan Sammuti-sacca atau Kebenaran Relatif.

Paramatha-sacca atau Kebenaran Mutlak adalah Kebenaran yang harus memiliki kriteria sebagai berikut:
  1. Harus benar (apa adanya)
  2. Tidak terikat oleh waktu, baik waktu dulu, sekarang dan waktu yang akan datang, kebenaran ini tetap ada dan tidak berubah ataupun berbeda.
  3. Tidak terikat oleh tempat, baik di suatu tempat atau di tempat lain, di Indonesia atau di planet Mars, kebenaran ini ada dan tidak berubah ataupun berbeda.
Sammuti-sacca atau Kebenaran Relatif adalah Kebenaran yang masih terikat dengan waktu dan tempat. Kebenaran ini hanya ada berlaku di tempat tertentu dan waktu tertentu.

Dalam ajaranNya, Guru Buddha mengajarkan 2 jenis Dhamma, yaitu yang bersifat Paramatha-sacca dan yang bersifat Sammuti-sacca.

Disusun oleh: Bhagavant.com
EHIPASSIKO

Kata ehipassiko berasal dari kata ehipassika yang terdiri dari 3 suku kata yaitu ehi, passa dan ika. Secara harafiah ”ehipassika” berarti datang dan lihat. Ehipassikadhamma merupakan sebuah undangan kepada siapa saja untuk datang, melihat serta membuktikan sendiri kebenaran yang ada dalam Dhamma.
Istilah ehipassiko ini tercantum dalam Dhammanussati (Perenungan Terhadap Dhamma) yang berisi tentang sifat-sifat Dhamma.

Guru Buddha mengajarkan untuk menerapkan sikap ehipassiko di dalam menerima ajaranNya. Guru Buddha mengajarkan untuk ”datang dan buktikan” ajaranNya, bukan ”datang dan percaya”. Ajaran mengenai ehipassiko ini adalah salah satu ajaran yang penting dan yang membedakan ajaran Buddha dengan ajaran lainnya.
Salah satu sikap dari Guru Buddha yang mengajarkan ehipassiko dan memberikan kebebasan berpikir dalam menerima suatu ajaran terdapat dalam perbincangan antara Guru Buddha dengan suku Kalama berikut ini:

"Wahai, suku Kalama. Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau karena kalian berpikir, `Petapa itu adalah guru kami. `Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, `Hal-hal ini adalah bermanfaat, hal-hal ini tidak tercela; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan`, maka sudah selayaknya kalian menerimanya.” (Kalama Sutta; Anguttara Nikaya 3.65)
Sikap awal untuk tidak percaya begitu saja dengan mempertanyakan apakah suatu ajaran itu adalah bermanfaat atau tidak, tercela atau tidak tecela; dipuji oleh para bijaksana atau tidak, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan atau tidak, adalah suatu sikap yang akan menepis kepercayaan yang membuta terhadap suatu ajaran. Dengan memiliki sikap ini maka nantinya seseorang diharapkan dapat memiliki keyakinan yang berdasarkan pada kebenaran.

Ajaran ehipassiko yang diajarkan oleh Guru Buddha juga harus diterapkan secara bijaksana. Meskipun ehipassiko berarti ”datang dan buktikan” bukanlah berarti selamanya seseorang menjadikan dirinya objek percobaan. Sebagai contoh, ketika seseorang ingin membuktikan bahwa menggunakan narkoba itu merugikan, merusak, bukan berarti orang tersebut harus terlebih dulu menggunakan narkoba tersebut. Sikap ini adalah sikap yang salah dalam menerapkan ajaran ehipassiko. Untuk membuktikan bahwa menggunakan narkoba itu merugikan, merusak, seseorang cukup melihat orang lain yang menjadi korban karena menggunakan narkoba. Melihat dan menyaksikan sendiri orang lain mengalami penderitaan karena penggunaan narkoba, itu pun suatu pengalaman, suatu pembuktian.

Disusun oleh: Bhagavant.com
SATU WAHANA UNTUK PERDAMAIAN


Semasa kehidupan Sang Buddha, ajaranNya dikenal dengan beragam nama seperti Buddha-vacana (`Perkataan Sang Buddha`)[1], Buddha-sasana (`Pesan Sang Buddha` atau `Ajaran Sang Buddha`)[2], Sasana (`Pesan` atau `Ajaran`)[3] atau Dhamma (`Ajaran’ atau `Kebenaran`)[4]. Pada masa itu tidak ada yang disebut dengan Theravada atau Mahayana. Berdasarkan catatan sejarah kuno Sri Lanka yaitu Dipavamsa (Catatan Sejarah Nusa/Pulau, abad ke-4 Masehi), Mahavamsa (Catatan Sejarah Besar, abad ke-5 Masehi), dan Samantapasadika (Kitab Komentar atas Vinaya), istilah `Theravada`, `Teriya` atau `Therika` untuk pertama kalinya diperkenalkan dalam sejarah Buddhisme setelah Konsili (Sidang Agung) pertama yang diadakan di Rajagaha (Rajagriha) tiga bulan setelah Sang Buddha Parinibbana. Konsili ini dihadiri oleh lima ratus Arahat yang merupakan siswa-siswa Sang Buddha dan dipimpin oleh Mahakassapa Thera. Semua ajaran Sang Buddha baik Dhamma dan Vinaya dibaca ulang kembali selama tujuh bulan dan dengan suara bulat menerimanya sebagai ajaran murni Sang Guru. Apa yang diakui dan disetujui pada Konsili ini dikenal sebagai `Theravada` (`Ajaran Para Sesepuh`) atau `Theriya` atau `Therika` (Tradisi Para Sesepuh`).[5]

Mahayana muncul beberapa abad kemudian, sekitar di awal era Kristiani, dan kebanyakan kitab Mahayana awal disusun  semasa beberapa abad selanjutnya. Tetapi Mahayana di formulasikan dan diuraikan sebagai sistem filsafat Buddhis oleh dua Guru Besar yang bisa dipertimbangkan sebagai penemu dari dua tradisi/aliran Mahayana penting, yaitu: Nagajurna (abad kedua Masehi) mendirikan sistem Madhyamika dengan ajaran terkenalnya Mulamadhymaka-karika yang mana filsafat sunyata (kekosongan) dibahas dan ditemukannya komentar hebatnya terhadap Prajnaparamita. Asanga (abad keempat Masehi) mendirikan sistem Yogacara-vijnanavada dengan Yogacarabhumisastra sebagai hasil kerjanya yang monumental, terdiri dari 17 kitab.

Inilah klarifikasi terhadap istilah Theravada (Ajaran Para Sesepuh), Hinayana (Wahana Kecil) dan Mahayana (Wahana Besar) yang mungkin sangat diperlukan dan membantu. Istilah Hinayana dan Mahayana tidak dikenal dalam literatur Pali Theravada. Kedua istilah itu tidak ditemukan di Kitab Pali (Tipitaka) maupun dalam Kitab Komentar dalam Tipitaka, bahkan tidak terdapat dalam Catatan Sejarah Kuno Sri Lanka, Dipavamsa dan Mahavamsa.

Diterima secara menyeluruh oleh para sarjana bahwa istilah Hinayana dan Mahayana merupakan hasil ciptaan umat Mahayana selanjutnya. Theravada tidak termasuk dalam kedua pembagian ini. Sejarah mengatakan bahwa Theravada sudah ada jauh sebelum kedua istilah ini muncul. Theravada yang sama ini, yang dianggap sebagai ajaran murni Sang Buddha telah diperkenalkan ke Sri Lanka dan berdiri dengan kuat di sana pada abad ketiga Sebelum Masehi semasa Kaisar Asoka dari India. Pada masa itu tidak ada yang disebut dengan Mahayana. Istilah ini muncul beberapa abad kemudian. Tanpa Mahayana tidak akan ada Hinayana. Buddhisme yang pergi ke Sri Lanka dengan Tipitaka dan Kitab-Kitab Komentar-nya telah diakui dan diterima oleh Konsili Ketiga pada abad ketiga Sebelum Masehi, tinggal di Sri Lanka secara utuh sebagai Theravada, dan tidak mengambil bagian dari perselisihan Mahayana-Hinayana yang berkembang kemudian di India. Oleh karena itu, tidak dibenarkan memasukkan Theravada ke dalam kedua kategori ini. Setelah peresmian World Fellowship of Buddhists (Persahabatan Buddhis Sedunia) di Sri Lanka tahun 1950, telah diberitahukan kepada orang-orang, baik dari dunia Timur maupun Barat untuk menggunakan istilah Theravada dan bukan istilah Hinayana, dengan mengacu pada bentuk Buddhisme yang umum yang ada di negara-negara Asia Tenggara seperti Birma, Kamboja, Sri Lanka, dan Thailand. Namun, masih tetap ada orang-orang yang ketinggalan jaman yang menggunakan istilah Hinayana. Faktanya, tidak ada aliran Hinayana sebagai komunitas tertentu yang diketahui eksis saat ini, dimanapun di dunia.

Dalam First International Congress of the World Buddhist Sangha Council (Kongres Internasional Dewan Sangha Buddhis Sedunia) yang pertama yang di adakan di Colombo, Sri Lanka, pada bulan Januari 1967, atas permintaan pendiri Sekretaris Jenderal, almarhum Y.M. Pandita Pimbure Sirata Thera, Saya menyampaikan sebuah rumusan singkat sebagai pemersatuan Theravada dan Mahayana, yang telah disepakati secara bulat. (Rumusan ini sekarang terdapat pada Lampiran IV dalam buku saya Heritage of the Bhikkhu, Grove Press, New York, 1974).

Rumusan tersebut dapat dikemukakan kembali sebagai berikut:
  1. Apapun aliran, kelompok atau sistem kami, sebagai Buddhis kami semua menerima Sang Buddha sebagai Guru kami yang memberikan kami ajaranNya.
  2. Kami semua berlindung pada Tiga Permata (Tiratana): Sang Buddha, Guru kami; Dhamma, ajaranNya; dan Sangha, Komunitas para Arya (suciwan). Dengan kata lain, kami berlindung pada Pengajar, Pengajaran, dan Hasil Pengajaran.
  3. Baik Theravada ataupun Mahayana, kami tidak mempercayai bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan atas kehendaknya.
  4. Mengikuti keteladanan Sang Buddha, Guru kami yang merupakan perwujudan dari Belas kasih Agung (Maha Karuna) dan Kebijaksanaan Agung (Maha Prajna), kami menyadari bahwa tujuan dari hidup adalah untuk mengembangkan belas kasih bagi semua makhluk hidup tanpa diskriminasi dan untuk bekerja untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada realisasi Kebenaran Tertinggi.
  5. Kami menerima Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Sang Buddha, yaitu, Dukkha, kebenaran bahwa keberadaan kita di dunia ini berada dalam kesukaran, tidak kekal, tidak sempurna, tidak memuaskan, penuh dengan konflik; Samudaya, kebenaran bahwa kondisi-kondisi ini merupakan hasil dari sifat egois kita yang mementingkan diri sendiri berdasarkan pada ide yang salah mengenai diri; Niroda, kebenaran bahwa adanya kepastian akan kemungkinan pelepasan, pembebasan, kemerdekaan dari kesukaran ini dengan pemberantasan secara total sifat egois yang mementingkan diri sendiri; dan Magga, kebenaran bahwa pembebasan ini dapat dicapai melalui Jalan Tengah yang terdiri dari delapan faktor, yang mendorong ke arah kesempurnaan akan kemoralan (sila), disiplin mental (samadhi), dan kebijaksanaan (panna).
  6. Kami menerima hukum semesta sebab akibat yang terdapat dalam Paticcasamuppada (Skt. Pratityasamutpada, Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan), dan oleh karena itu kami menerima bahwa segala sesuatu bersifat relatif, saling berhubungan, saling berkaitan dan tidak ada yang mutlak, tetap, dan kekal di alam semesta ini.
  7. Kami memahami, berdasarkan pada ajaran Sang Buddha, bahwa segala sesuatu yang berkondisi (sankhara) adalah tidak kekal (anicca), tidak sempurna dan tidak memuaskan (dukkha), dan segala sesuatu yang berkondisi dan tidak berkondisi (dhamma) adalah bukan diri/ tanpa inti (anatta).
  8. Kami menerima Tigapuluh Tujuh kualitas yang berguna bagi pencapaian Pencerahan (Bodhipakkhiya Dhamma) sebagai beragam aspek yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mendorong ke arah Pencerahan, yaitu:
      1. Empat Bentuk Landasan Perhatian Benar (Pali: satipatthana; Skt. smrtyupasthana);
      2. Empat Daya Upaya Benar (Pali. sammappadhana; Skt. samyakpradhana);
      3. Empat Dasar Kekuatan Batin (Pali. iddhipada; Skt. rddhipada);
      4. Lima Macam Kemampuan (indriya: Pali. saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
      5. Lima Macam Kekuatan (bala: saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
      6. Tujuh Faktor Pencerahan Agung (Pali. bojjhanga; Skt. bodhianga);
      7. Delapan Ruas pada Jalan Mulia (Pali. ariyamagga; Skt. aryamarga).
  9. Ada tiga jalan untuk mencapai Bodhi atau Pencerahan Agung berdasarkan pada kemampuan/kecakapan dan kapasitas dari masing-masing individu, yaitu: sebagai seorang Sravaka (Yang melaksanakan ajaran Sammasambuddha ), sebagai seorang Pratyekabuddha (Buddha Yang tidak memberikan pengajaran) dan sebagai seorang Samyaksambuddha (Buddha Yang Sempurna). Kami menerima jika mengikuti karir seorang Boddhisattva adalah untuk menjadi seorang Samyaksambuddha dalam rangka menyelamatkan yang lain, merupakan sesuatu yang tertinggi, mulia dan paling heroik. Tetapi ketiga kondisi ini berada dalam Jalan yang sama, tidak berada dalam jalan yang berbeda. Sesungguhnya, Sandhinirmocana Sutra, salah satu sutra Mahayana yang penting, secara jelas dan  tegas mengatakan bahwa mereka yang mengikuti garis Sravaka-yana (Wahana Sravaka) atau garis Pratyekabuddha-yana (Wahana Pratyekabuddha) atau garis Para Tathagata (Mahayana) mencapai Nibbana tertinggi dengan Jalan yang sama, dan oleh karena itu bagi mereka semua hanya ada satu Jalan Pemurnian (visuddhi-marga) dan hanya satu Pemurnian (visuddhi) dan tidak ada yang lain, dan oleh karena itu mereka bukanlah jalan yang berbeda dan pemurnian yang berbeda, dan oleh karena itu Sravakayana dan  Mahayana merupakan Satu Wahana, Satu Yana (eka-yana) dan bukanlah wahana atau yana yang berbeda.[6]
  10. Kami mengakui bahwa dalam negara-negara yang berbeda ada perbedaan mengenai tata cara hidup dari para biarawan Buddhis, kepercayaan dan praktik, upacara dan ritual-ritual, seremonial, adat istiadat dan kebiasaan umat Buddha yang bersifat umum. Bentuk eksternal (luar) dan ekspresi ini semestinya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.
Tetapi bagi orang-orang yang kurang akan pengajaran dan kurang berkembang, kebiasaan dan tata cara ibadah, kepercayaan-kepercayaan dangkal, bentuk-bentuk eksternal, menjadi bagian dari agama mereka. Kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan tersebut perlu dihargai dengan penuh simpati sesuai dengan pandangan relatif mereka. Kemelekatan pada tata cara ibadah dan ritual-ritual eksternal (silabbata-paramasa) merupakan suatu kelemahan, suatu perbudakan, suatu belenggu (samyojana) terhadap kebebasan seseorang akan dirinya dan  kemajuan seseorang dalam jalan menuju realisasi Kebenaran Tertinggi, Nibbana. Bukan hanya kemelekatan terhadap tata cara ibadah, upacara-upacara dan ritual, tetapi juga kemelekatan pada ide-ide, konsep-konsep, kepercayaan-kepercayaan, teori-teori (dhamma-tanha) akan merintangi pikiran seseorang untuk melihat segala sesuatu seperti apa adanya (yathabhuta). Ini merupakan sebuah rintangan yang bukan saja merintangi realisasi akan Kebenaran, tetapi juga merintangi terwujudnya keharmonian dan kedamaian antar manusia.

Buddhisme bukanlah sebuah agama etnosentris (berdasarkan etnis/ras). Buddhisme melampaui semua perbatasan dan batas-batas ras, suku ataupun kebangsaan. Buddhisme tidak mengikutsertakan di dalam dirinya berbagai adat istiadat kesukuan, tradisi atau kebiasaan-kebiasaan dari suatu negara atau bangsa apapun ke negara lain. Ketika Buddhisme mulai baru menyebarkan pengaruhnya terhadap negara-negara melalui Asia dimana ia berdiri dan menyebar, secara alami dan penuh keramahan mengadaptasikan dirinya dalam kebudayaan negara-negara dan bangsa-bangsa tersebut. Oleh karena itu terdapat keragaman kebudayaan Buddhis – keragaman seni dan arsitektur, keragaman patung Sang Buddha, keragaman pakaian para anggota Sangha, keragaman tata cara ibadah dan upacara-upacara – dari Tibet di Utara sampai Sri Lanka di Selatan, dari India di Barat sampai Jepang di Timur. Meskipun demikian, kesatuan esensi/inti Dhamma yang melampaui semua keragaman eksternal tersebut menjalin satu dengan yang lain seperti halnya benang sutra yang menjalin manik-manik beragam warna pada sebuah kalung. Dhamma, Kebenaran adalah satu dan sama. Bentuk-bentuk eksternal-lah yang banyak dan beragam.

Para anggota Sangha Buddhis seharusnya tidak terpengaruh oleh sifat agresif, kecenderungan fanatik yang terjadi diberbagai belahan dunia saat ini. Sangha perlu secara berani dan bermartabat memelihara keberlangsungan akan tradisi mulia Buddhist akan saling pengertian dan toleransi. Dalam sejarah Buddhisme yang panjang selama 2.500 tahun tidak pernah terjadi peperangan maupun pemaksaan untuk beralih kepercayaan. Para biarawan Buddhis menyebarkan ajaran Sang Buddha keseluruh Asia, dan sekarang mereka melakukannya di belahan dunia lain juga selalu dengan penuh damai, melalui kekuatan ajaran mereka, toleransi,  dengan sikap penuh kebaikan dan kelembutan tanpa kekerasan. Para anggota Sangha dapat memberikan teladan kepada dunia dalam hal ini.

Sekarang kemanusiaan terancam oleh kemungkinan akan adanya perang nuklir, itu berarti kehancuran yang tidak dapat dibayangkan dan diperkirakan akan terjadi dan penderitaan akan melanda dunia. Dua kekuatan super saling mengancam satu sama yang lain dan mengacungkan senjata-senjata pemusnah yang terbaru. Mereka yang memegang kekuasaan di dunia ini nampaknya sama sekali tanpa kesehatan mental. Hanya suara massa dari orang-orang seluruh dunia yang terorganisir dengan baik yang dapat mengembalikan mereka dalam kewarasan. Saat ini terdapat lebih dari sejuta anggota Sangha Buddhis di dunia, baik Theravada maupun Mahayana. Mereka memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap orang banyak. Adalah tugas wajib bagi Sangha Buddhis untuk menyebarkan pesan belas kasih dan kebijaksanaan di antara orang-orang dalam rangka meraih perdamaian dunia. Pelayanan keagamaan yang paling mulia adalah mempromosikan saling pengertian, keharmonisan, kedamaian dan kebahagiaan di antara orang-orang, dan tidak menentukan label agama pada agama yang satu dengan yang lain.

--end--

Artikel ini telah melalui proses pencetakan untuk: Kongres Internasional Dewan Sangha Buddhis Sedunia Ketiga, (Taiwan, Republik Rakyat China, 1-7 Desember, 1981), halaman 32-35; dan juga dicetak ulang oleh Bauddha Marga (Colombo: Organ of the World Fellowship of Buddhists Sri Lanka Regional Centre, buku laporan Vesak, 1982), Vol.V, halaman 41-44.
Catatan:
  1. Vinaya(PTS) II (Cullavagga).139.
  2. Dhammapada, ayat 381, 382; Anguttara-nikaya(PTS) I. 294.
  3. Vinaya(PTS) I.12; Digha-nikaya(PTS) I.110; II.206; Suttanipata, ayat 482.
  4. Majjhima-nikaya(PTS) I.133, 141, dan seterusnya.
  5. Therehi katasamgaho theravado`ti vuccati. ”Kumpulan (kitab) yang telah diselesaikan oleh Para Sesepuh disebut Ajaran Para Sesepuh.” Dipavamsa, Bab IV, ayat11.
    Thereh`eva katatta ca therya`yam parampara. “Ketika hal ini telah dilaksanakan oleh Para Sesepuh, ini (disebut) tradisi Para Sesepuh.” Mahavamsa, Bab III, ayat 40.
    Thereh`eva katatta ca therika`ti pavuccati. “Ketika hal ini telah dilaksanakan oleh Para Sesepuh, ini disebut (dilihat sebagai) miliki para Sesepuh.” Samantapasadika (PTS) I.30. Samantapasadika diterjemahkan ke dalam bahasa Pali oleh Buddhaghosa pada abad ke-5 Masehi dari Kitab Komentar asli dalam bahasa Sinhala yang berasal paling kurang pada abad ke-3 Sebelum Masehi.
  6. Sandhinirmocana Sutra, halaman 73, 147, 198, 255, diterjemahkan dan diterbitkan oleh  Etienne Lamotte, Louvain dan paris (1935).
Judul asli: One Vehicle for Peace
Oleh: Ven. Walpola Sri Rahula
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com


SENI HIDUP:MEDITASI VIPASSANA


Setiap orang mencari kedamaian dan keharmonisan, karena inilah yang kurang dalam kehidupan kita. Dari waktu ke waktu kita semua mengalami gejolak, gangguan, ketidakharmonisan, penderitaan; dan ketika seseorang menderita karena bergejolak, seseorang tidaklah menyimpan gejolak ini untuk seorang diri saja. Ia juga akan membagikannya ke orang lain. Gejolak akan menyelimuti atmosfir di sekeliling orang yang menyedihkan tersebut. Setiap orang yang berhubungan dengannya juga menjadi terganggu dan bermasalah.  Ini pastilah bukan jalan yang tepat untuk hidup.

Seseorang seharusnya hidup dalam damai dengan dirinya sediri, dan dengan orang lain. Lagipula, manusia adalah makhluk sosial. Ia perlu hidup dalam masyarakat -- untuk hidup dan berhubungan dengan yang lain. Bagaimanakah kita hidup dengan penuh kedamaian? Bagaimanakah kita tetap harmonis dengan diri kita sendiri dan memelihara kedamaian dan keharmonisan di sekeliling kita, sehingga yang lain juga hidup dalam kedamaian dan penuh dengan keharmonisan?

Seseorang bermasalah. Untuk keluar dari permasalahan, seseorang harus mengetahui alasan dasarnya, penyebab dari penderitaan. Jika seseorang menyelidiki permasalahan, akan menjadi jelas bahwa kapan pun seseorang mulai membangkitkan kenegatifan atau kekotoran apapun dalam pikiran, seseorang menjadi bermasalah. Kenegatifan dalam pikiran, kekotoran atau ketidakmurnian batin tidak dapat eksis bersamaan dengan kedamaian dan keharmonisan.

Bagaimanakah seseorang mulai membangkitkan hal-hal yang negatif? Sekali lagi, dengan penyelidikan, hal ini akan menjadi jelas. Saya menjadi sangat tidak bahagia ketika saya menemukan seseorang yang bersikap dengan cara yang tidak saya sukai, ketika saya bertemu dengan peristiwa yang tidak saya sukai.  Hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dan saya menciptakan tekanan dalam diri saya sendiri. Hal-hal yang diinginkan tidak terjadi, beberapa rintangan datang dalam perjalanan, dan lagi saya menciptakan tekanan dalam diri saya sendiri, saya mulai mengikat jerat dalam diri saya. Dan seluruh hidup saya, hal-hal yang tidak diinginkan tetap terjadi, hal-hal yang diinginkan bisa atau pun tidak bisa terjadi, dan proses atau reaksi mengikat jerat – jerat Gordius -- membuat seluruh struktur batin dan fisik begitu tegang, begitu penuh akan hal-hal negatif, segingga hidup menjadi menyedihkan.

Sekarang sebuah cara untuk memecahkan masalah adalah dengan mengubah sehingga tak ada satu pun hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dalam hidup saya dan segalanya tetap terjadi persis seperti yang saya kehendaki. Saya harus mengembangkan sebuah kekuatan, atau orang lain harus memiliki kekuatan dan harus datang untuk membantu ketika saya memintanya, sehingga segala hal yang tidak diinginkan tidak terjadi dan segala yang saya inginkan terjadi. Tetapi hal ini tidak mungkin. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang keinginannya selalu terpenuhi, yang dalam hidupnya segalanya terjadi sesuai dengan keinginannya, tanpa terjadi adanya hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi pertanyaan yang muncul, bagaimanakah agar saya tidak bereaksi secara membabi buta dalam menghadapi segala hal yang tidak saya sukai? Bagaimanakah agar tidak tercipta suatu ketegangan? Bagaimanakah agar tetap penuh damai dan harmonis?

Di India seperti halnya di negara-negara lain, para orang suci bijaksana pada masa lampau telah mempelajari masalah ini -- masalah dari penderitaan manusia--dan menemukan solusinya: jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dan seseorang mulai bereaksi dengan membangkitkan kemarahan, ketakutan atau hal-hal negatif lainnya, maka dengan sesegera mungkin ia harus mengalihkan perhatiannya ke hal yang lain. Sebagai contoh, berdiri, mengambil segelas air, dan meminumnya -- kemarahan Anda tidak akan berlipat ganda dan Anda dapat keluar dari kemarahan. Atau mulai berhitung: satu, dua, tiga, empat. Atau  mengulang sebuah kata, atau kalimat, atau beberapa mantra, mungkin nama dewa atau seorang suciwan yang Anda puja; pikiran akan teralihkan, dan untuk lebih lanjut, Anda akan keluar dari kenegatifan, keluar dari kemarahan.

Solusi ini sangat membantu: dan berhasil . Solusi ini tetap berhasil. Melatih hal ini, pikiran akan merasa bebas dari gejolak. Namun faktanya, solusi ini akan bekerja hanya pada tingkat kesadaran. Sebenarnya, dengan mengalihkan perhatian, seseorang mendorong kenegatifan masuk ke dalam bawah sadarnya, dan pada tingkatan ini seseorang terus membangkitkan dan melipat gandakan kekotoran yang sama. Pada tingkat permukaan ditemukan lapisan kedamaian dan keharmonisan, tetapi jauh di dalam pikiran terdapat gunung berapi yang tertidur berasal dari kenegatifan yang ditekan, yang cepat atau lambat akan meledak dengan letusan yang merusak.

Para penjelajah kebenaran sejati tetap meneruskan pencarian mereka, dan dengan mengalami realita pikiran dan permasalahan dalam diri mereka sendiri mereka menyadari bahwa mengalihkan perhatian hanyalah merupakan pelarian diri dari permasalahan. Melarikan diri bukanlah sebuah solusi: seseorang harus mengadapi permasalahannya. Kapanpun kenegatifan bangkit dalam pikiran, cukup mengamatinya saja, hadapi dia. Setelah seseorang mengamati berbagai kekotoran batin, kekotoran batin tersebut akan kehilangan kekuatannya. Secara perlahan ia akan berkurang dan tercabut.

Sebuah solusi yang baik: hindarkanlah kedua hal ekstrem -- menekan dan membiarkan bebas. Dengan tetap menyimpan kenegatifan dalam bawah sadar tidak akan menghilangkannya; dan dengan membiarkannya bermanifestasi (berwujud) menjadi perbuatan fisik ataupun ucapan hanya akan menciptakan masalah lebih banyak. Tetapi jika seseorang hanya mengamatinya saja, maka kekotoran akan musnah, dan seseorang telah menghilangkan kenegatifan tersebut, seseorang terbebaskan dari kekotoran batin.

Hal ini kedengarannya sangat luar biasa, tetapi apakah benar-benar bisa dipraktikkan? Bagi kebanyakan orang, apakah mudah untuk menghadapi kekotoran batin? Ketika kemarahan bangkit, ia menguasai kita begitu cepat sehingga kita bahkan tidak menyadarinya. Kemudian dengan dikuasai oleh kemarahan, kita melakukan tindakan fisik atau ucapan tertentu yang menyakitkan bagi kita dan bagi pihak lain. Belakangan, setelah kemarahan berlalu, kita mulai menangis dan menyesal, memohon maaf kepada orang ataupun kepada tuhan: ”Oh, saya telah melakukan sebuah kesalahan, tolong maafkanlah saya!” Tetapi di lain waktu kita berada di dalam situasi yang sama, kita kembali bereaksi dengan cara yang sama. Semua penyesalan tersebut tidaklah menolong sama sekali.

Kesulitannya adalah saya tidak sadar kapan kekotoran batin itu mulai muncul. Ia dimulai jauh di dalam tingkat bawah sadar pikiran, dan seiring dengan waktu mencapai pada tingkat kesadaran, ia memiliki begitu banyak kekuatan yang menguasai saya, dan saya tidak dapat mengamatinya.

Maka saya harus mempekerjakan seorang sekretaris pribadi untuk saya, sehingga kapanpun kemarahan muncul, ia akan berkata, ”Lihat tuan, kemarahan mulai muncul!” Oleh karena saya tidak mengetahui kapan kemarahan ini akan mulai muncul, saya harus memiliki tiga sekretaris pribadi untuk tiga masa, selama 24 jam! Andai kata saya dapat melakukan hal itu dan ketika kemarahan mulai muncul, dengan segera sekretaris saya memberitahukan kepada saya, “Oh, tuan, lihatlah -- kemarahan mulai muncul!” Satu hal pertama yang akan saya lakukan adalah menampar dan menyerangnya: “Dasar bodoh! Kamu pikir kamu digaji untuk mengajari saya?” Saya begitu terlalu dikuasai oleh kemarahan dimana tidak ada nasihat yang baik yang akan membantu.

Bahkan seandainya kata-kata bijak tersebut berhasil dan saya tidak menamparnya. Dan saya berkata, “Terima kasih banyak. Sekarang saya harus duduk dan mengamati kemarahan saya.” Apakah hal ini mungkin? Setelah saya menutup mata saya dan mencoba mengamati kemarahan, dengan cepat obyek kemarahan datang dalam pikiran saya, seseorang atau peristiwa yang membuat saya menjadi marah. Lalu saya tidak mengamati kemarahan itu sendiri. Saya justru mengamati rangsangan emosi luar. Ini hanya akan melipatgandakan kemarahan; ini bukanlah solusinya. Sangat sulit mengamati beragam kenegatifan yang abstrak (tidak kelihatan), emosi yang abstrak yang terpisah dari obyek luar yang menyebabkannya muncul.

Namun, bagi seseorang yang telah mencapai kebenaran tertinggi menemukan solusi yang sebenarnya. Ia menemukan bahwa kapanpun kekotoran batin apapun muncul dalam pikiran, merangsang dua hal yang terjadi pada tingkat fisik. Pertama adalah napas yang kehilangan irama normalnya. Kita mulai sukar bernapas kapanpun kenegatifan datang pada pikiran. Ini mudah untuk diamati. Pada tingkat yang halus, suatu reaksi biokimia muncul dalam tubuh -- suatu perasaan. Setiap kekotoran batin akan membangkitkan sebuah perasaan atau yang lainnya di bagian dalam, di satu bagian tubuh atau yang lainnya.

Ini merupakan solusi praktis. Orang awam tidak dapat mengamati kekotoran-kekotoran pikiran yang abstrak -- ketakutan, kemarahan, atau napsu yang abstrak. Tetapi dengan latihan dan praktek yang tepat, sangatlah mudah untuk mengamati pernapasan dan perasaan-perasaan jasmaniah -- dimana keduanya berhubungan langsung dengan kekotoran-kekotoran batin.

Pernapasan dan perasaan jasmani akan membantu saya dengan dua cara. Yang pertama, keduanya seperti sekretaris pribadi saya. Segera saat kekotoran muncul dalam pikiran saya, napas saya kehilangan kenormalannya; napas saya akan mulai berteriak, ”Perhatikan, ada sesuatu yang tidak beres!” Saya tidak dapat menampar napas saya; saya harus menerimanya sebagai peringatan. Hal yang sama juga pada perasaan memberitahu kepada saya bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Lalu setelah diperingatkan, saya mulai mengobservasi pernapasan saya, perasaan saya, dan saya menemukan dengan sangat cepat bahwa kekotoran batin menghilang.

Fenomena jasmani-batin ini seperti halnya sebuah mata uang bersisi dua. Pada sisi yang satu merupakan pikiran atau emosi apapun yang muncul dalam pikiran. Di satu sisi yang lain merupakan pernapasan dan perasaan dalam tubuh. Pikiran atau emosi apapun, kekotoran batin apapun, memanifestasikan (mewujudkan) dirinya dalam napas dan perasaan saat itu. Jadi, dengan mengamati pernapasan atau perasaan, pada dasarnya saya sedang mengamati kekotoran batin. Daripada melarikan diri dari permasalahan, saya menghadapai realitas sebagaimana adanya.  Lalu saya akan menemukan bahwa kekotoran batin kehilangan kekuatannya: ia tidak lagi menguasai saya sebagaimana terjadi di waktu lalu. Jika saya tetap melakukannya, kekotoran batin akhirnya akan menghilang secara keseluruhan, dan saya tinggal dalam penuh kedamaian dan kebahagiaan.

Dengan cara ini, teknik-teknik pengamatan diri menunjukkan kepada kita realitas kedua aspeknya, di dalam dan luar. Sebelumnya, seseorang selalu melihat dengan mata terbuka, dan kehilangan kebenaran bagaian dalam. Saya selalu melihat ke luar untuk melihat penyebab dari ketidakbahagiaan saya; saya selalu menyalahkan dan mencoba untuk merubah realitas di luar. Dengan ketidaktahuan akan realitas di dalam diri, Saya tidak pernah memahami bahwa penyebab dari penderitaan terletak di dalamnya, dengan reaksi membuta saya yang mengarah pada perasaan senang dan tidak senang.

Sekarang dengan latihan, saya dapat melihat sisi lain dari mata uang. Saya dapat menjadi sadar akan napas saya dan juga akan apa yang terjadi di dalam diri saya. Apapun itu, napas atau perasaan, saya belajar untuk hanya mengamatinya saja, tanpa kehilangan keseimbangan pikiran. Saya berhenti untuk bereaksi, berhenti melipatgandakan kesengsaraan saya. Sebaliknya, saya membiarkan kekotoran batin untuk muncul dan menghilang.

Lebih sering seseorang berlatih dengan teknik ini, lebih cepat seseorang akan menemukan dan keluar dari kenegatifan. Secara berangsur-angsur pikiran menjadi bebas dari kekotoran-kekotoran batin; pikiran akan menjadi murni. Pikiran yang murni selalu penuh dengan cinta kasih -- cinta kasih tanpa pamrih untuk semua orang; penuh dengan belas kasih bagi  kelemahan dan penderitaan orang lain; penuh dengan suka cita atas kebahagiaan dan kesuksesan mereka; penuh dengan keseimbangan dalam menghadapi berbagai situasi.

Ketika seseorang mencapai tahap ini, seluruh pola hidupnya mulai berubah. Tidak lagi memungkinkan untuk melakukan ucapan maupun perbuatan fisik yang akan mengganggu kedamaian dan kebahagiaan pihak lain. Sebaliknya, keseimbangan pikiran  tidak hanya membuat kedamaian bagi dirinya sendiri, tetapi membantu pihak lain menjadi penuh kedamaian. Atmosfir yang mengelilingi orang seperti itu akan menyebar dengan kedamaian dan keharmonisan, dan ini juga akan mulai mempengaruhi pihak lain.

Dengan belajar untuk tetap seimbang dalam menghadapi segala pengalamannya dalam diri, seseorang mengembangkan ketidakpengaruhan menghadapi semua hal yang ia temukan dalam situasi-situasi eksternal (luar) apapun. Namun, ketidakpengaruhan bukanlah penghindaran ataupun ketidakacuan terhadap berbagai masalah dunia. Seorang meditator Vipassana menjadi lebih sensitif terhadap berbagai penderitaan orang lain, dan berusaha sepenuhnya membebaskan penderitaan mereka dengan cara apapun yang ia bisa lakukan -- bukan dengan berupa gejolak (agitasi) tetapi dengan pikiran yang penuh dengan cinta kasih, belas kasih, dan keseimbangan batin. Ia belajar kesucian yang tanpa membedakan -- bagaimana melakukan sesuatu secara penuh, membantu orang lain secara penuh, sementara pada saat yang sama tetap menjaga keseimbangan pikirannya. Dengan cara ini ia tetap penuh kedamaian dan kebahagaian selagi ia bekerja untuk kedamaian dan kebahagiaan orang lain.

Inilah yang Sang Buddha ajarkan; sebuah seni kehidupan. Beliau tidak pernah menyatakan atau mengajarkan agama apapun, “isme” apapun. Beliau tidak pernah menginstruksikan para pengikutNya untuk berlatih upacara atau ritual apapun, formalitas yang kosong dan membuta apapun. Sebaliknya Beliau hanya mengajarkan untuk mengamati alam sebagaimana adanya dengan mengamati realitasi di dalam diri. Dikarenakan kebodohan batin, seseorang tetap bereaksi dengan cara yang menyakitkan bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Tetapi ketika kebijaksanaan muncul -- kebijaksanaan dari mengamati realita sebagaimana adanya -- seseorang keluar dari reaksi kebiasaannya ini. Ketika seseorang berhenti bereaksi secara membuta, maka seseorang mampu melakukan tindakan sesungguhnya, tindakan dari proses keseimbangan pikiran, pikiran yang melihat dan memahami kebenaran. Tindakan seperti itu hanya dapat menjadi positif, kreatif, sangat membantu bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain.

Yang diperlukan setelah itu adalah “mengetahui diri sendiri” -- sebuah nasihat yang diberikan oleh setiap orang bijak. Seseorang harus mengetahui dirinya sendiri bukan hanya pada tingkat intelektual, tingkat ide-ide dan teori-teori. Ini juga bukan berarti hanya mengetahuinya pada tingkat emosional atau ketaatannya, menerima dengan mudah dan membuta apa yang ia dengar atau ia baca. Pengetahuan seperti itu tidaklah cukup. Sebaliknya seseorang harus mengetahui realitas pada tingkat yang sesungguhnya. Seseorang harus mengalami secara langsung realitas fenomena jasmani-batin ini. Hal ini saja yang akan membantu kita untuk keluar dari kekotoran batin, keluar dari penderitaan.

Pengalaman langsung realitas akan diri sendiri ini, teknik pengamatan diri ini, disebut sebagai meditasi `Vipasana`. Dalam bahasa India pada masa Sang Buddha, passana berarti melihat dengan mata terbuka, dengan cara yang biasa, tetapi Vipassana adalah mengamati segala sesuatu seperti apa sesungguhnya mereka, bukan hanya seperti apa yang terlihat. Kebenaran nyata perlu ditembus, sampai seseorang mencapai kebenaran tertinggi dari seluruh struktur fisik dan batin. Ketika seseorang mengalami kebenaran ini, maka ia akan belajar berhenti bertindak secara membuta, berhenti menciptakan kekotoran batin -- dan secara alamiah kekotoran yang lama secara berangsur-angsur akan terhapus. Ia keluar dari kesengsaraan dan mengalami kebahagiaan.

Ada tiga langkah untuk berlatih yang diberikan dalam pelajaran meditasi Vipassana. Pertama, seseorang harus menjauhkan diri dari tindakan, fisik atau ucapan apapun yang menggangu kedamaian dan keharmonisan pihak lain. Seseorang tidak bisa bekerja membebaskan diri sendiri dari kekotoran dalam pikiran ketika pada saat yang sama ia terus melakukan perbuatan fisik dan perkataan yang hanya melipatgandakan kekotoran batin tersebut. Oleh karena itu, aturan kemoralan merupakan awal yang penting dari latihan. Seseorang tidak melakukan pembunuhan, tidak mencuri, tidak melakukan perbuatan seksual yang tidak dibenarkan, tidak berkata bohong, dan tidak menggunakan obat-obat yang memabukkan. Dengan tidak melakukan perbuatan seperti itu, seseorang membiarkan pikirannya cukup tenang sehingga ia dapat mulai melakukan tugas yang ada.

Langkah selanjutnya adalah mengembangkan penguasaan atas pikiran yang liar ini, dengan melatihnya untuk tetap berada pada satu obyek yaitu napas. Seseorang berusaha untuk mempertahankan perhatiannya selama mungkin pada pernapasan. Ini bukanlah latihan bernapas: seseorang tidak mengatur napasnya. Sebaliknya ia mengamati pernapasan secara alami sebagaimana adanya, sebagaimana napas masuk dan keluar. Dengan cara ini seseorang lebih lanjut menenangkan pikirannya sehingga tidak lagi dikuasai oleh kenegatifan yang kuat. Pada saat yang sama, seseorang mengkonsentrasikan pikirannya, membuat pikirannya tajam dan menembus, sanggup untuk melakukan pekerjaan akan pemahaman mendalam (insight).

Dua langkah awal ini yaitu hidup dalam kehidupan yang bermoral dan mengendalikan pikiran sangatlah diperlukan dan dengan sendirinya sangat menguntungkan; tetapi keduanya akan mengarah pada pengekangan diri, kecuali ia mengambil langkah ketiga -- memurnikan pikiran dari kekotoran batin dengan mengembangkan pengetahuan mendalam ke dalam sifat alami dirinya. Inilah Vipassana: mengalami realitas akan diri sendiri, dengan pengamatan yang sistematis dan tanpa emosi atas fenomena perubahan menerus dari fisik dan batin yang mewujudkan dirinya sebagai perasaan yang ada di dalam diri seseorang. Inilah puncak dari ajaran Sang Buddha: pemurnian diri sendiri dengan mengamati diri sendiri.

Hal ini dapat dipraktikkan oleh semua orang. Setiap orang menghadapi masalah penderitaan. Ini adalah penyakit universal yang membutuhkan obat universal -- bukan obat sekelompok orang. Ketika seseorang menderita karena kemarahan, ini bukan kemarahan Buddhis, kemarahan Hindu, atau kemarahan Kristiani. Kemarahan adalah kemarahan. Ketika seseorang bergejolak sebagai akibat dari kemarahan ini, gejolak ini bukanlah Kristiani atau Hindu, atau Buddhis. Penyakit tersebut bersifat universal. Obatnya pun harus bersifat universal.

Vipassana merupakan obat universal. Tak seorang pun akan merasa keberatan atas aturan hidup yang menghargai kedamaian dan keharmonisan orang lain. Tak seorang pun akan menolak untuk mengembangkan pengendalian atas pikiran. Tak seorang pun akan keberatan untuk mengembangkan pengetahuan mendalam ke dalam sifat alami dirinya, yang dengannya memungkinkan untuk membebaskan pikiran dari kenegatifan. Vipassana adalah jalan yang universal.

Mengamati realitas sebagaimana adanya dengan mengamati kebenaran yang ada di dalam diri -- ini berarti mengetahu diri sendiri pada tingkat sebenarnya, tingkat pengalaman. Ketika seseorang berlatih, ia berangsur-angsur keluar dari kesengsaraan akan kekotoran batin. Dari kebenaran yang kasar, eksternal, nyata, seseorang menembus kepada kebenaran tertinggi dari pikiran dan fisik. Kemudian ia melampaui semuanya, dan mengalami sebuah kebenaran yang melampaui pikiran dan fisik, melampaui ruang dan waktu, melampaui kondisi medan relatifitas: kebenaran dari pembebasan total dari segala kekotoran batin, ketidakmurnian, penderitaan. Apapun nama yang seseorang berikan kepada kebenaran tertinggi ini adalah tidak relevan; ini merupakan tujuan akhir bagi semua orang.

Semoga Anda semua mengalami kebenaran tertinggi ini. Semoga semua orang keluar dari kekotoran batin dan kesengsaraan mereka. Semoga mereka menikmati kebahagiaan, kedamaian, keharmonisan sejati.

Semoga semua makhluk berbahagia.

--end--

Tulisan di atas berdasarkan pada permbicaraan yang diberikan oleh Mr. S.N. Goenka pada bulan Juli 1980 di Berne, Switzerland.

Tentang Penulis:

S.N. Goenka lahir di Mandalay, Myanmar pada tahun 1924. Beliau adalah seorang guru meditasi dengan metode Vipassana; Beliau telah memiliki beberapa pusat Vipassana di seluruh dunia. Beliau berasal dari keluarga India yang kaya di Myanmar dan dulunya Beliau sebagai pemimpin perusahaan yang terkenal di komunitas India. Pada tahun 1969, Beliau mengundurkan diri dari semua kegiatan bisnisnya dan mengabdikan seluruh kehidupannya untuk menyebarkan meditasi Vipassana. Beliau mempimpin ratusan pelatihan diseluruh dunia. Goenka menulis dalam bahasa Inggris, Hindi, dan Rajasthan. Sejauh ini pekerjaannya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di seluruh dunia.

Judul asli: The Art of Living: Vipassana Meditation
Oleh: S.N. Goenka 
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com