SENI HIDUP:MEDITASI VIPASSANA
Setiap
orang mencari kedamaian dan keharmonisan, karena inilah yang kurang
dalam kehidupan kita. Dari waktu ke waktu kita semua mengalami gejolak,
gangguan, ketidakharmonisan, penderitaan; dan ketika seseorang
menderita karena bergejolak, seseorang tidaklah menyimpan gejolak ini
untuk seorang diri saja. Ia juga akan membagikannya ke orang lain.
Gejolak akan menyelimuti atmosfir di sekeliling orang yang menyedihkan
tersebut. Setiap orang yang berhubungan dengannya juga menjadi
terganggu dan bermasalah. Ini pastilah bukan jalan yang tepat
untuk hidup.
Seseorang seharusnya hidup dalam damai dengan
dirinya sediri, dan dengan orang lain. Lagipula, manusia adalah makhluk
sosial. Ia perlu hidup dalam masyarakat -- untuk hidup dan berhubungan
dengan yang lain. Bagaimanakah kita hidup dengan penuh kedamaian?
Bagaimanakah kita tetap harmonis dengan diri kita sendiri dan
memelihara kedamaian dan keharmonisan di sekeliling kita, sehingga yang
lain juga hidup dalam kedamaian dan penuh dengan keharmonisan?
Seseorang
bermasalah. Untuk keluar dari permasalahan, seseorang harus mengetahui
alasan dasarnya, penyebab dari penderitaan. Jika seseorang menyelidiki
permasalahan, akan menjadi jelas bahwa kapan pun seseorang mulai
membangkitkan kenegatifan atau kekotoran apapun dalam pikiran,
seseorang menjadi bermasalah. Kenegatifan dalam pikiran, kekotoran atau
ketidakmurnian batin tidak dapat eksis bersamaan dengan kedamaian dan
keharmonisan.
Bagaimanakah seseorang mulai membangkitkan hal-hal
yang negatif? Sekali lagi, dengan penyelidikan, hal ini akan menjadi
jelas. Saya menjadi sangat tidak bahagia ketika saya menemukan
seseorang yang bersikap dengan cara yang tidak saya sukai, ketika saya
bertemu dengan peristiwa yang tidak saya sukai. Hal-hal yang
tidak diinginkan terjadi dan saya menciptakan tekanan dalam diri saya
sendiri. Hal-hal yang diinginkan tidak terjadi, beberapa rintangan
datang dalam perjalanan, dan lagi saya menciptakan tekanan dalam diri
saya sendiri, saya mulai mengikat jerat dalam diri saya. Dan seluruh
hidup saya, hal-hal yang tidak diinginkan tetap terjadi, hal-hal yang
diinginkan bisa atau pun tidak bisa terjadi, dan proses atau reaksi
mengikat jerat – jerat Gordius -- membuat seluruh
struktur batin dan fisik begitu tegang, begitu penuh akan hal-hal
negatif, segingga hidup menjadi menyedihkan.
Sekarang sebuah
cara untuk memecahkan masalah adalah dengan mengubah sehingga tak ada
satu pun hal-hal yang tidak diinginkan terjadi dalam hidup saya dan
segalanya tetap terjadi persis seperti yang saya kehendaki. Saya harus
mengembangkan sebuah kekuatan, atau orang lain harus memiliki kekuatan
dan harus datang untuk membantu ketika saya memintanya, sehingga segala
hal yang tidak diinginkan tidak terjadi dan segala yang saya inginkan
terjadi. Tetapi hal ini tidak mungkin. Tidak ada seorang pun di dunia
ini yang keinginannya selalu terpenuhi, yang dalam hidupnya segalanya
terjadi sesuai dengan keinginannya, tanpa terjadi adanya hal-hal yang
tidak diinginkan. Jadi pertanyaan yang muncul, bagaimanakah agar saya
tidak bereaksi secara membabi buta dalam menghadapi segala hal yang
tidak saya sukai? Bagaimanakah agar tidak tercipta suatu ketegangan?
Bagaimanakah agar tetap penuh damai dan harmonis?
Di India
seperti halnya di negara-negara lain, para orang suci bijaksana pada
masa lampau telah mempelajari masalah ini -- masalah dari penderitaan
manusia--dan menemukan solusinya: jika sesuatu yang tidak diinginkan
terjadi dan seseorang mulai bereaksi dengan membangkitkan kemarahan,
ketakutan atau hal-hal negatif lainnya, maka dengan sesegera mungkin ia
harus mengalihkan perhatiannya ke hal yang lain. Sebagai contoh,
berdiri, mengambil segelas air, dan meminumnya -- kemarahan Anda tidak
akan berlipat ganda dan Anda dapat keluar dari kemarahan. Atau mulai
berhitung: satu, dua, tiga, empat. Atau mengulang sebuah kata,
atau kalimat, atau beberapa mantra, mungkin nama dewa atau seorang
suciwan yang Anda puja; pikiran akan teralihkan, dan untuk lebih
lanjut, Anda akan keluar dari kenegatifan, keluar dari kemarahan.
Solusi
ini sangat membantu: dan berhasil . Solusi ini tetap berhasil. Melatih
hal ini, pikiran akan merasa bebas dari gejolak. Namun faktanya, solusi
ini akan bekerja hanya pada tingkat kesadaran. Sebenarnya, dengan
mengalihkan perhatian, seseorang mendorong kenegatifan masuk ke dalam
bawah sadarnya, dan pada tingkatan ini seseorang terus membangkitkan
dan melipat gandakan kekotoran yang sama. Pada tingkat permukaan
ditemukan lapisan kedamaian dan keharmonisan, tetapi jauh di dalam
pikiran terdapat gunung berapi yang tertidur berasal dari kenegatifan
yang ditekan, yang cepat atau lambat akan meledak dengan letusan yang
merusak.
Para penjelajah kebenaran sejati tetap meneruskan
pencarian mereka, dan dengan mengalami realita pikiran dan permasalahan
dalam diri mereka sendiri mereka menyadari bahwa mengalihkan perhatian
hanyalah merupakan pelarian diri dari permasalahan. Melarikan diri
bukanlah sebuah solusi: seseorang harus mengadapi permasalahannya.
Kapanpun kenegatifan bangkit dalam pikiran, cukup mengamatinya saja,
hadapi dia. Setelah seseorang mengamati berbagai kekotoran batin,
kekotoran batin tersebut akan kehilangan kekuatannya. Secara perlahan
ia akan berkurang dan tercabut.
Sebuah solusi yang baik:
hindarkanlah kedua hal ekstrem -- menekan dan membiarkan bebas. Dengan
tetap menyimpan kenegatifan dalam bawah sadar tidak akan
menghilangkannya; dan dengan membiarkannya bermanifestasi (berwujud)
menjadi perbuatan fisik ataupun ucapan hanya akan menciptakan masalah
lebih banyak. Tetapi jika seseorang hanya mengamatinya saja, maka
kekotoran akan musnah, dan seseorang telah menghilangkan kenegatifan
tersebut, seseorang terbebaskan dari kekotoran batin.
Hal ini
kedengarannya sangat luar biasa, tetapi apakah benar-benar bisa
dipraktikkan? Bagi kebanyakan orang, apakah mudah untuk menghadapi
kekotoran batin? Ketika kemarahan bangkit, ia menguasai kita begitu
cepat sehingga kita bahkan tidak menyadarinya. Kemudian dengan dikuasai
oleh kemarahan, kita melakukan tindakan fisik atau ucapan tertentu yang
menyakitkan bagi kita dan bagi pihak lain. Belakangan, setelah
kemarahan berlalu, kita mulai menangis dan menyesal, memohon maaf
kepada orang ataupun kepada tuhan: ”Oh, saya telah melakukan sebuah kesalahan, tolong maafkanlah saya!”
Tetapi di lain waktu kita berada di dalam situasi yang sama, kita
kembali bereaksi dengan cara yang sama. Semua penyesalan tersebut
tidaklah menolong sama sekali.
Kesulitannya adalah saya tidak
sadar kapan kekotoran batin itu mulai muncul. Ia dimulai jauh di dalam
tingkat bawah sadar pikiran, dan seiring dengan waktu mencapai pada
tingkat kesadaran, ia memiliki begitu banyak kekuatan yang menguasai
saya, dan saya tidak dapat mengamatinya.
Maka saya harus mempekerjakan seorang sekretaris pribadi untuk saya, sehingga kapanpun kemarahan muncul, ia akan berkata, ”Lihat tuan, kemarahan mulai muncul!”
Oleh karena saya tidak mengetahui kapan kemarahan ini akan mulai
muncul, saya harus memiliki tiga sekretaris pribadi untuk tiga masa,
selama 24 jam! Andai kata saya dapat melakukan hal itu dan ketika
kemarahan mulai muncul, dengan segera sekretaris saya memberitahukan
kepada saya, “Oh, tuan, lihatlah -- kemarahan mulai muncul!” Satu hal pertama yang akan saya lakukan adalah menampar dan menyerangnya: “Dasar bodoh! Kamu pikir kamu digaji untuk mengajari saya?” Saya begitu terlalu dikuasai oleh kemarahan dimana tidak ada nasihat yang baik yang akan membantu.
Bahkan seandainya kata-kata bijak tersebut berhasil dan saya tidak menamparnya. Dan saya berkata, “Terima kasih banyak. Sekarang saya harus duduk dan mengamati kemarahan saya.”
Apakah hal ini mungkin? Setelah saya menutup mata saya dan mencoba
mengamati kemarahan, dengan cepat obyek kemarahan datang dalam pikiran
saya, seseorang atau peristiwa yang membuat saya menjadi marah. Lalu
saya tidak mengamati kemarahan itu sendiri. Saya justru mengamati
rangsangan emosi luar. Ini hanya akan melipatgandakan kemarahan; ini
bukanlah solusinya. Sangat sulit mengamati beragam kenegatifan yang
abstrak (tidak kelihatan), emosi yang abstrak yang terpisah dari obyek
luar yang menyebabkannya muncul.
Namun, bagi seseorang yang
telah mencapai kebenaran tertinggi menemukan solusi yang sebenarnya. Ia
menemukan bahwa kapanpun kekotoran batin apapun muncul dalam pikiran,
merangsang dua hal yang terjadi pada tingkat fisik. Pertama adalah
napas yang kehilangan irama normalnya. Kita mulai sukar bernapas
kapanpun kenegatifan datang pada pikiran. Ini mudah untuk diamati. Pada
tingkat yang halus, suatu reaksi biokimia muncul dalam tubuh -- suatu
perasaan. Setiap kekotoran batin akan membangkitkan sebuah perasaan
atau yang lainnya di bagian dalam, di satu bagian tubuh atau yang
lainnya.
Ini merupakan solusi praktis. Orang awam tidak dapat
mengamati kekotoran-kekotoran pikiran yang abstrak -- ketakutan,
kemarahan, atau napsu yang abstrak. Tetapi dengan latihan dan praktek
yang tepat, sangatlah mudah untuk mengamati pernapasan dan
perasaan-perasaan jasmaniah -- dimana keduanya berhubungan langsung
dengan kekotoran-kekotoran batin.
Pernapasan dan perasaan
jasmani akan membantu saya dengan dua cara. Yang pertama, keduanya
seperti sekretaris pribadi saya. Segera saat kekotoran muncul dalam
pikiran saya, napas saya kehilangan kenormalannya; napas saya akan
mulai berteriak, ”Perhatikan, ada sesuatu yang tidak
beres!” Saya tidak dapat menampar napas saya; saya harus
menerimanya sebagai peringatan. Hal yang sama juga pada perasaan
memberitahu kepada saya bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Lalu
setelah diperingatkan, saya mulai mengobservasi pernapasan saya,
perasaan saya, dan saya menemukan dengan sangat cepat bahwa kekotoran
batin menghilang.
Fenomena jasmani-batin ini seperti halnya
sebuah mata uang bersisi dua. Pada sisi yang satu merupakan pikiran
atau emosi apapun yang muncul dalam pikiran. Di satu sisi yang lain
merupakan pernapasan dan perasaan dalam tubuh. Pikiran atau emosi
apapun, kekotoran batin apapun, memanifestasikan (mewujudkan) dirinya
dalam napas dan perasaan saat itu. Jadi, dengan mengamati pernapasan
atau perasaan, pada dasarnya saya sedang mengamati kekotoran batin.
Daripada melarikan diri dari permasalahan, saya menghadapai realitas
sebagaimana adanya. Lalu saya akan menemukan bahwa kekotoran
batin kehilangan kekuatannya: ia tidak lagi menguasai saya sebagaimana
terjadi di waktu lalu. Jika saya tetap melakukannya, kekotoran batin
akhirnya akan menghilang secara keseluruhan, dan saya tinggal dalam
penuh kedamaian dan kebahagiaan.
Dengan cara ini, teknik-teknik
pengamatan diri menunjukkan kepada kita realitas kedua aspeknya, di
dalam dan luar. Sebelumnya, seseorang selalu melihat dengan mata
terbuka, dan kehilangan kebenaran bagaian dalam. Saya selalu melihat ke
luar untuk melihat penyebab dari ketidakbahagiaan saya; saya selalu
menyalahkan dan mencoba untuk merubah realitas di luar. Dengan
ketidaktahuan akan realitas di dalam diri, Saya tidak pernah memahami
bahwa penyebab dari penderitaan terletak di dalamnya, dengan reaksi
membuta saya yang mengarah pada perasaan senang dan tidak senang.
Sekarang
dengan latihan, saya dapat melihat sisi lain dari mata uang. Saya dapat
menjadi sadar akan napas saya dan juga akan apa yang terjadi di dalam
diri saya. Apapun itu, napas atau perasaan, saya belajar untuk hanya
mengamatinya saja, tanpa kehilangan keseimbangan pikiran. Saya berhenti
untuk bereaksi, berhenti melipatgandakan kesengsaraan saya. Sebaliknya,
saya membiarkan kekotoran batin untuk muncul dan menghilang.
Lebih
sering seseorang berlatih dengan teknik ini, lebih cepat seseorang akan
menemukan dan keluar dari kenegatifan. Secara berangsur-angsur pikiran
menjadi bebas dari kekotoran-kekotoran batin; pikiran akan menjadi
murni. Pikiran yang murni selalu penuh dengan cinta kasih -- cinta
kasih tanpa pamrih untuk semua orang; penuh dengan belas kasih
bagi kelemahan dan penderitaan orang lain; penuh dengan suka cita
atas kebahagiaan dan kesuksesan mereka; penuh dengan keseimbangan dalam
menghadapi berbagai situasi.
Ketika seseorang mencapai tahap
ini, seluruh pola hidupnya mulai berubah. Tidak lagi memungkinkan untuk
melakukan ucapan maupun perbuatan fisik yang akan mengganggu kedamaian
dan kebahagiaan pihak lain. Sebaliknya, keseimbangan pikiran
tidak hanya membuat kedamaian bagi dirinya sendiri, tetapi membantu
pihak lain menjadi penuh kedamaian. Atmosfir yang mengelilingi orang
seperti itu akan menyebar dengan kedamaian dan keharmonisan, dan ini
juga akan mulai mempengaruhi pihak lain.
Dengan belajar untuk
tetap seimbang dalam menghadapi segala pengalamannya dalam diri,
seseorang mengembangkan ketidakpengaruhan menghadapi semua hal yang ia
temukan dalam situasi-situasi eksternal (luar) apapun. Namun,
ketidakpengaruhan bukanlah penghindaran ataupun ketidakacuan terhadap
berbagai masalah dunia. Seorang meditator Vipassana menjadi lebih
sensitif terhadap berbagai penderitaan orang lain, dan berusaha
sepenuhnya membebaskan penderitaan mereka dengan cara apapun yang ia
bisa lakukan -- bukan dengan berupa gejolak (agitasi) tetapi dengan
pikiran yang penuh dengan cinta kasih, belas kasih, dan keseimbangan
batin. Ia belajar kesucian yang tanpa membedakan -- bagaimana melakukan
sesuatu secara penuh, membantu orang lain secara penuh, sementara pada
saat yang sama tetap menjaga keseimbangan pikirannya. Dengan cara ini
ia tetap penuh kedamaian dan kebahagaian selagi ia bekerja untuk
kedamaian dan kebahagiaan orang lain.
Inilah yang Sang Buddha
ajarkan; sebuah seni kehidupan. Beliau tidak pernah menyatakan atau
mengajarkan agama apapun, “isme” apapun. Beliau tidak
pernah menginstruksikan para pengikutNya untuk berlatih upacara atau
ritual apapun, formalitas yang kosong dan membuta apapun. Sebaliknya
Beliau hanya mengajarkan untuk mengamati alam sebagaimana adanya dengan
mengamati realitasi di dalam diri. Dikarenakan kebodohan batin,
seseorang tetap bereaksi dengan cara yang menyakitkan bagi diri sendiri
dan bagi orang lain. Tetapi ketika kebijaksanaan muncul --
kebijaksanaan dari mengamati realita sebagaimana adanya -- seseorang
keluar dari reaksi kebiasaannya ini. Ketika seseorang berhenti bereaksi
secara membuta, maka seseorang mampu melakukan tindakan sesungguhnya,
tindakan dari proses keseimbangan pikiran, pikiran yang melihat dan
memahami kebenaran. Tindakan seperti itu hanya dapat menjadi positif,
kreatif, sangat membantu bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain.
Yang
diperlukan setelah itu adalah “mengetahui diri sendiri” --
sebuah nasihat yang diberikan oleh setiap orang bijak. Seseorang harus
mengetahui dirinya sendiri bukan hanya pada tingkat intelektual,
tingkat ide-ide dan teori-teori. Ini juga bukan berarti hanya
mengetahuinya pada tingkat emosional atau ketaatannya, menerima dengan
mudah dan membuta apa yang ia dengar atau ia baca. Pengetahuan seperti
itu tidaklah cukup. Sebaliknya seseorang harus mengetahui realitas pada
tingkat yang sesungguhnya. Seseorang harus mengalami secara langsung
realitas fenomena jasmani-batin ini. Hal ini saja yang akan membantu
kita untuk keluar dari kekotoran batin, keluar dari penderitaan.
Pengalaman
langsung realitas akan diri sendiri ini, teknik pengamatan diri ini,
disebut sebagai meditasi `Vipasana`. Dalam bahasa India pada masa Sang
Buddha, passana berarti melihat dengan mata terbuka, dengan cara yang
biasa, tetapi Vipassana adalah mengamati segala sesuatu seperti apa
sesungguhnya mereka, bukan hanya seperti apa yang terlihat. Kebenaran
nyata perlu ditembus, sampai seseorang mencapai kebenaran tertinggi
dari seluruh struktur fisik dan batin. Ketika seseorang mengalami
kebenaran ini, maka ia akan belajar berhenti bertindak secara membuta,
berhenti menciptakan kekotoran batin -- dan secara alamiah kekotoran
yang lama secara berangsur-angsur akan terhapus. Ia keluar dari
kesengsaraan dan mengalami kebahagiaan.
Ada tiga langkah untuk
berlatih yang diberikan dalam pelajaran meditasi Vipassana. Pertama,
seseorang harus menjauhkan diri dari tindakan, fisik atau ucapan apapun
yang menggangu kedamaian dan keharmonisan pihak lain. Seseorang tidak
bisa bekerja membebaskan diri sendiri dari kekotoran dalam pikiran
ketika pada saat yang sama ia terus melakukan perbuatan fisik dan
perkataan yang hanya melipatgandakan kekotoran batin tersebut. Oleh
karena itu, aturan kemoralan merupakan awal yang penting dari latihan.
Seseorang tidak melakukan pembunuhan, tidak mencuri, tidak melakukan
perbuatan seksual yang tidak dibenarkan, tidak berkata bohong, dan
tidak menggunakan obat-obat yang memabukkan. Dengan tidak melakukan
perbuatan seperti itu, seseorang membiarkan pikirannya cukup tenang
sehingga ia dapat mulai melakukan tugas yang ada.
Langkah
selanjutnya adalah mengembangkan penguasaan atas pikiran yang liar ini,
dengan melatihnya untuk tetap berada pada satu obyek yaitu napas.
Seseorang berusaha untuk mempertahankan perhatiannya selama mungkin
pada pernapasan. Ini bukanlah latihan bernapas: seseorang tidak
mengatur napasnya. Sebaliknya ia mengamati pernapasan secara alami
sebagaimana adanya, sebagaimana napas masuk dan keluar. Dengan cara ini
seseorang lebih lanjut menenangkan pikirannya sehingga tidak lagi
dikuasai oleh kenegatifan yang kuat. Pada saat yang sama, seseorang
mengkonsentrasikan pikirannya, membuat pikirannya tajam dan menembus,
sanggup untuk melakukan pekerjaan akan pemahaman mendalam (insight).
Dua
langkah awal ini yaitu hidup dalam kehidupan yang bermoral dan
mengendalikan pikiran sangatlah diperlukan dan dengan sendirinya sangat
menguntungkan; tetapi keduanya akan mengarah pada pengekangan diri,
kecuali ia mengambil langkah ketiga -- memurnikan pikiran dari
kekotoran batin dengan mengembangkan pengetahuan mendalam ke dalam
sifat alami dirinya. Inilah Vipassana: mengalami realitas akan diri
sendiri, dengan pengamatan yang sistematis dan tanpa emosi atas
fenomena perubahan menerus dari fisik dan batin yang mewujudkan dirinya
sebagai perasaan yang ada di dalam diri seseorang. Inilah puncak dari
ajaran Sang Buddha: pemurnian diri sendiri dengan mengamati diri
sendiri.
Hal ini dapat dipraktikkan oleh semua orang. Setiap
orang menghadapi masalah penderitaan. Ini adalah penyakit universal
yang membutuhkan obat universal -- bukan obat sekelompok orang. Ketika
seseorang menderita karena kemarahan, ini bukan kemarahan Buddhis,
kemarahan Hindu, atau kemarahan Kristiani. Kemarahan adalah kemarahan.
Ketika seseorang bergejolak sebagai akibat dari kemarahan ini, gejolak
ini bukanlah Kristiani atau Hindu, atau Buddhis. Penyakit tersebut
bersifat universal. Obatnya pun harus bersifat universal.
Vipassana
merupakan obat universal. Tak seorang pun akan merasa keberatan atas
aturan hidup yang menghargai kedamaian dan keharmonisan orang lain. Tak
seorang pun akan menolak untuk mengembangkan pengendalian atas pikiran.
Tak seorang pun akan keberatan untuk mengembangkan pengetahuan mendalam
ke dalam sifat alami dirinya, yang dengannya memungkinkan untuk
membebaskan pikiran dari kenegatifan. Vipassana adalah jalan yang
universal.
Mengamati realitas sebagaimana adanya dengan
mengamati kebenaran yang ada di dalam diri -- ini berarti mengetahu
diri sendiri pada tingkat sebenarnya, tingkat pengalaman. Ketika
seseorang berlatih, ia berangsur-angsur keluar dari kesengsaraan akan
kekotoran batin. Dari kebenaran yang kasar, eksternal, nyata, seseorang
menembus kepada kebenaran tertinggi dari pikiran dan fisik. Kemudian ia
melampaui semuanya, dan mengalami sebuah kebenaran yang melampaui
pikiran dan fisik, melampaui ruang dan waktu, melampaui kondisi medan
relatifitas: kebenaran dari pembebasan total dari segala kekotoran
batin, ketidakmurnian, penderitaan. Apapun nama yang seseorang berikan
kepada kebenaran tertinggi ini adalah tidak relevan; ini merupakan
tujuan akhir bagi semua orang.
Semoga Anda semua mengalami
kebenaran tertinggi ini. Semoga semua orang keluar dari kekotoran batin
dan kesengsaraan mereka. Semoga mereka menikmati kebahagiaan,
kedamaian, keharmonisan sejati.
Semoga semua makhluk berbahagia.
--end--
Tulisan di atas berdasarkan pada permbicaraan yang diberikan oleh Mr. S.N. Goenka pada bulan Juli 1980 di Berne, Switzerland.
Tentang Penulis:
S.N.
Goenka lahir di Mandalay, Myanmar pada tahun 1924. Beliau adalah
seorang guru meditasi dengan metode Vipassana; Beliau telah memiliki
beberapa pusat Vipassana di seluruh dunia. Beliau berasal dari keluarga
India yang kaya di Myanmar dan dulunya Beliau sebagai pemimpin
perusahaan yang terkenal di komunitas India. Pada tahun 1969, Beliau
mengundurkan diri dari semua kegiatan bisnisnya dan mengabdikan seluruh
kehidupannya untuk menyebarkan meditasi Vipassana. Beliau mempimpin
ratusan pelatihan diseluruh dunia. Goenka menulis dalam bahasa Inggris,
Hindi, dan Rajasthan. Sejauh ini pekerjaannya telah diterjemahkan dalam
berbagai bahasa di seluruh dunia.
Judul asli: The Art of Living: Vipassana Meditation
Oleh: S.N. Goenka
Diterjemahkan oleh: Bhagavant.com